Antara Berkah Atau Musibah?

Menggelitik ketika si Mamat dan si Mimin lagi ngobrol asyik di warung ngomongin politik identitas alias politisasi agama, seolah pengin jadi pengamat menyikapi fenomena menguatnya politik identitas antara berkah atau musibah. Sambil memesan kopi kudengarkan obrolan mereka… Sambil tak lupa kunyalakan sesuatu sambil menikmati camilan…

Si Mamat bilang, untung ada Ahok, yaa Min, simbol-simbol agama menguat lagi di zaman serba uang dan cuek kayak sekarang…

Si Mimin pun kaget obrolan awal si Mamat sambil matanya tertuju ke si Mamat….

“Kalau tidak ada si Ahok mungkin kelompok-kelompok radikal yang mengandalkan simbol agama tidak bakalan eksis bersatu. Bahkan ribuan orang bisa berkumpul dalam satu kepentingan demi membela agamanya. Lanjut si Mamat sambil menjelaskan.

Berkat si Ahok, bikin barang dagangan berbau agama laris manis. Mulai dari sarung, peci bahkan politisasi agama pun laku keras. Ujar Mamat sambil terkekeh.

Maksudnya apa, Mat??!!! Kan itu settingan para politisi berbasis agama hanya untuk merebut kekuasaan dibungkus lewat issue agama, Mat. Ujar mimin menyangkal.

“Begini, Min, tanpa Ahok yang ceplas ceplos, mungkin agama hanya jadi sarana seruan moral bagi pemeluknya. Tidak bakalan ada issue bombastis untuk memperdagangkan agama demi politik,” ujar Mamat.

“Agama harusnya diletakkan pada posisi sakral dan netral untuk seruan normatif, tapi gara-gara pengin kebelet berkuasa, melihat Ahok begitu kuat didukung warganya maka agama digadaikan murah. Mereka memanfaatkan masjid sebagai sarana propaganda melengserkan Ahok dalam Pilkada, hanya gara-gara Ahok beda agama yang kinerjanya diapresiasi warga Jakarta dengan tingkat kepuasan 70%.”




“Agama dijadikan momentum menyerang Ahok hingga kalah Pilkada, seolah para pelakunya pengin memanfaatkan agama demi menjatuhkan lawan yang dianggap tidak sefaham,” terang Mamat dengan nada serius.

Si Mimin pun menyimak penjelasan Mamat sambil menyantap gorengan.

“Jadi, momen Pilkada DKI jadi sarana empuk memanfaatkan agama untuk menyerang kelemahan lawan yang beda agama. Tapi, berkahnya masjid-masjid jadi rame kembali, tempat-tempat ibadah jadi ajang konsolidasi hanya gara-gara Pilkada DKI,” lanjut Mamat dengan wajah serius.

“Betul, Mat. Pilkada DKI bikin semua orang seolah faham agama. Pokoknya yang beda akan dianggap kafir, yang tidak sefaham walaupun seiman dianggqp munafik. Yang seiman tapi bukan dari kelompok mereka dianggap musuh,” timpal Mimin.

Cuma hikmahnya, harusnya agama dalam pertarungan politik harus dalam bingkai moralitas serta norma bukan unsur kebencian terhadap lawan politik atau yang beda pilihan.

“Agama dalam momen Pilkada harusnya hanya jadi ajang seruan moral, bukan sebagai alat politik membinasakan lawan. Agama harus jadi pengingat berpolitik yang beretika sehingga mampu jadi arah terbaik dalam perebutan kekuasaan,” ujar Mimin sok serius.

“Politik identitas harusnya jadi sarana membangun kekuatan perubahan berbasis nilai. Bukan agama yang dijadikan sarana menghalalkan segala cara dengan memanfaatkan ayatnya,” Si mamat menimpali dengan sok bijak.

“Tapi begini, Mat, menangnya Anies-Sandi yang memanfaatkan agama berkah menaikkan oplah pedagang yang menjual barang dagangan berbau agama, termasuk jualan politisasi agama dengan proposal demo berjilid-jilid…. He.. he… hee,”  terang Mimin dengan nada slengekan.

Tiba tiba Paijo menyelonong masuk warung.

“Bubar…. Bubar…. Gaya kalian kayak faham saja kayak pengamat dadakan mengomentari strategi licik mereka,” ujar Paijo sambil duduk di sebelah Mamat.

Dengan senyum manis… Saya pun mulai menuang kopi… sambil menyalakan sesuatu lagi yang telah habis tiga batang gara-gara asyik mendengarkan ocehan mereka.

Begitulah Idonesiaku hari ini.

Obrolan nyante warung mania …

#SalamPencerahan

Hormat kami:
KOMUNITAS CS REFORM





Leave a Reply