Beberapa siswa sekolah menengah bertanya mengenai bidang Sosial-Humaniora. Ternyata mereka hendak lanjut kuliah tahun ini. Saya tersenyum sendiri dan menjawab: Bidang itu adalah ‘rumah sakit jiwa’.

“Ohh… seriuslah, Kak?” katanya.

“Hmmm… ini tanya metafora saja,” kata saya tak bisa menahan tawa sembari terkenang masa kuliah dulu.

Sosial-Humaniora seperti Filsafat, Sosiologi, Antropologi hingga Politik (barangkali) akan memproduksi dua tipe manusia dengan pemikiran yang ekstrim-beda.




Pertama, para manusia dengan pemikiran subversif yang akan melampaui kesadaran normatif masyarakatnya. Ia bertransformasi menjadi sosok yang jelas ‘tidak aman’ lagi bagi penjaga diskursus dominan. Sesekali ia muncul sebagai ‘catastrophic effects’ bagi ‘keharmonisan’ pikiran masyarakat bahkan pikiran lawasnya sendiri. Bagi saya, ini sungguh-sungguh ‘Kierkegaardian terrors’.

Ke dua, para manusia dengan pemikiran konservatif. Ia menjelma dengan ‘meradikalkan’ kembali pikiran lawasnya yang terlahir dari masyarakat yang gandrung akan ‘keharmonisan’ dan ‘keteraturan’.

Yang satu akan melakukan revolusi, yang lainnya hendak mendukung ‘status quo’. Yang satu melibatkan diri di dalam gerakan kesetaraan kaum Kulit Hitam di Amerika Serikat, yang satunya akan mempertahankan ‘white supremacy’. Yang satu memperjuangkan diskursus pluralitas agama, yang lainnya hendak menegakkan dogma agama yang satu di atas agama-agama lainnya. Yang satu mulai ‘malas’ pergi ke gereja dan sholat, yang lainnya menjadi aktivis gereja atau rajin pengajian (hahahahhahahaaaa…)

“Kakak ada di mana?” tanyanya

“Wow, kritis juga anak ini,” pikir saya kagum.

“Ohh, I continue doing all. Because I want to know how much I can stand,” kata saya.

Selamat Hari Minggu.









Leave a Reply