Pendukung Ahok 42% dan pembencinya 58%. Masih ingatkah slogan ABA (Asal Bukan Ahok)? Artinya ada 58% yang sangat membenci Ahok. Siapapun lawan Ahok di Pilkada, pasti menang. Alasannya, ada 58% pembencinya. Dengan demikian, siapapun lawan Ahok dan asal bukan Ahok, pasti dipilih dan akan menang. Jadi raihan Anies 58% itu bukanlah kemenangan Anies tetapi suara pembenci Ahok.




Dengan logika seperti itu maka sebetulnya bukan hanya Anies yang pasti menang. Seandainya Lulung, Taufik, Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, Jonru Ginting, Fahri Hamzah, Fadli Zon, Sanusi atau siapapun yang menantang Ahok, mereka pasti menang. Bahkan kucing dalam karung sekalipun, bisa jadi akan dipilih. Yang penting bukan Ahok. Alasan kenapa Ahok dibenci tujuh turunan, sudah dibahas dalam ribuan tulisan.

Maka ketika Anies menang, para pembenci Ahok bukan memuji perjuangan heroik Anies yang berdarah-darah mengalahkan Ahok. Para pembenci Ahok yang memilih Anies, yang penting asal bukan Ahok, bersyukur atas kekalahan Ahok. Mereka tidak salut, bangga atau kagum atas perjuangan heroik Anies. Anies sama sekali tidak berbuat apa-apa. Ia hanya beruntung dapat duriah runtuh SARA di saat yang tepat.

Dalam memenangkan Pilkada DKI, memang Anies tidak bersusah-payah. Anies tidak mengeluarkan dana. Ia hanya santai, ongkang-ongkang kaki, pesiar sana-sini, asyik merangkai kata, umbar janji penuh retorika dan hanya menonton politisasi SARA dari Masjid yang terus membusukkan Ahok. Toh kemenangan sudah ada di depan mata.

Maka ketika quick count mencapai persentasi 100% dan Ahok dinyatakan kalah, para pembencinya tidak menangis haru atas kemenangan Anies. Para pembenci Ahok yang memang kebetulan memilih Anies, karena hanya itu pilihan bukan Ahok, berpesta pora. Mereka bersyukur atas kekalahan Ahok dan bukan bersyukur atas kemenangan Anies.




Warga Jakarta yang memilih Anies, tidak ada yang gembira. Mereka gembira bukan karena Anies menang, tetapi karena Ahok kalah. Tak peduli siapa yang menang, siapa lawan Ahok. Yang penting Ahok kalah dan tidak menjadi gubernur lagi. Seandainya Firsa Hot lawan Ahok atau Fitsa Huts sekalipun, tak peduli. Yang dipedulikan adalah Ahok kalah. Titik.

Maka ketika Anies menang, tidak ada ucapan lewat karangan bunga. Seandainya ada ucapan karangan bunga, bunyinya adalah: “Selamat atas kekalahan Ahok, dari Lulung dan kawan-kawan”. Tetapi ucapan ini pasti gila. Mana ada ucapan selamat atas kekalahan? Itulah sebabnya mengapa karangan bunga tidak mengalir ke rumah Anies pasca memenangkan Pilkada DKI. Karena tidak penting siapa yang menang atas Ahok, apakah itu Anies, Habib Novel, Rizieq, Marisa Haque atau boneka sekalipun.

Saya yakin karangan bunga untuk Ahok akan melebihi sepuluh ribu dalam beberapa hari ke depan. Itu adalah sebuah hal yang spektakuler untuk orang yang spektakuler. Ahok memang spektakuler. Ada banyak hal fenomenal yang telah dicetak Ahok selama ia menjadi gubernur DKI Jakarta. Ahok pernah sukses mengumpulkan satu juta KTP, melawan DPRD DKI, DPR Senayan, BPK. Ia yang double minoritas berani melawan FPI, preman Tanah Abang.

Ahok seperti kata Sri Mulyani tidak layak menjadi gubernur tetapi ia layak menjadi Presiden, karena otak briliannya mencari uang untuk warga DKI. Di era Ahok dan bersama Jokowi APBD DKI melonjak dua kali lipat. Duit dari parkir dan iklan mengalir deras ke kas daerah. Dana-dana CSR dari berbagai pengusaha dipaksa oleh Ahok untuk membangun Jakarta. Simpang susun Semanggi hanyalah salah satu contoh otak brilian Ahok.

Bunga untuk Ahok di balai kota memang fenomenal. Ia yang kalah, malah mengundang simpati. Itu menggambarkan betapa para pendukungnya menangisi kepergian Ahok. Ia kalah memang dengan kepala tegak. Ia kalah kerena SARA. Seperti ucapan Ade Armando, orang bodoh pilih Anies, orang pintar pilih Ahok. Karena jumlah orang pintar kalah banyak dengan orang bodoh, maka Ahok kalah. Ucapan fenomenal Ahok terbukti. Mayat dipolitisasi dan dibodohi pakai ayat.

Ahok yang fenomenal, namanya tetap harum. Ia tetap mendapat tempat di hati penggemarnya. Revolusi bunga di balai kota adalah buktinya. Para pendukung Ahok paham akan makna simbol bunga. Nalar mereka sampai pada bahasa simbolis. Berbeda dengan para pembenci Ahok yang terpaksa memilih Anies. Mereka tidak paham bahasa simbolis bunga karena daya nalar mereka yang kurang. Mereka hanya paham bahasa mayat. Inilah yang menusuk nalar Fadli Zon.

Fadli Zon terpaksa merendahkan nalarnya lewat komentar nyinyirnya bahwa karangan bunga yang ditujukan kepada Ahok adalah sebuah pencitraan murahan. Apa yang mau dicitrakan Ahok? Bukankah dia sudah kalah? Bukankah Ahok sudah selesai dengan dirinya? Ahok jelas lebih baik yang tampil apa adanya ketimbang Fadli Zon pura-pura walk out alias munafik soal hak angket KPK di DPR sana.

Jika Fadli Zon jujur, ia harus mengakui bahwa bunga di balai kota telah menusuk, mengiris, menghantam ulu hatinya. Kalah saja Ahok mendapat bunga apalagi kalau menang. Mungkin sampai kiamat, Fadli Zon tidak pernah mendapat bunga sebanyak itu. Sementara bagi Anies, bunga untuk Ahok adalah tangisan awal akan keberadaan Anies di balai kota. Ke depan, Anies akan berada di bawah bayang-bayang Ahok. Jika Anies pergi atau lengser kelak, adakah bunga sebanyak itu untuknya? Mungkin hanya DP rumah nol persen yang tahu.





Leave a Reply