Rekonsiliasi, konon kata yang punya kamus adalah memulihkan Hubungan yang tadinya retak. Yang tadinya agak bersitegang. Itupun tegangnya juga dikit-dikitlah. Menyimak Pilkada DKI, Pilkada yang menjadi Barometer Negeri ini ternyata telah menyisakan rasa yang tidak nyaman karena jelas permainan dari kubu Anis jauh dari fair play.

Jauh dari rasa kejujuran dan gentlement, dimana kemenangan Anis telah “menyakiti” dan melecehkan nilai-nilai kebenaran Universal sehingga banyak manusia dibutakan matanya karena kalap oleh dogma bahwa bagi pemilih Ahok akan masuk neraka.

Apakah itu merupakan hal yang patut diacungi jempol?

Kemenangan memang telah digenggam oleh Anis. Kursi Jabatan DKI 1 jelas nampak di depan mata. Dan panggilan terhormat sebagai Pak Gubernur sudah terngiang-ngiang. Namun, jika kemengan itu dengan cara yang tidak kesatria, tentu merupakan aib. Aib dari bangsa ini khususnya warga DKI yang konon katanya sudah lumayan cerdas. Konon katanya, sih…




Ujug-ujug sebagai pemenang culas mengajak rekonsiliasi. Kenapa tidak berkomitmen dulu dengan lantang akan berkinerja lebih baik ketimbang Ahok? Kenapa tidak bersuara keras akan bekerja efisien dan lebih memperbaiki birokrasi? Atau mengatakan akan memberangus para begundal yang akan menggarong duit rakyat?

Untuk rekonsiliasi diantara para simpatisan itu gampang. Untuk berbicara memulihkan Hubungan baik warga DKI yang bersitegang ketika Pilkada itu juga mudah, mudah bila bisa membuktikan yang tertulis di atas. Kenapa tidak mengatakan itu? ATAU GAK BERANI?

Jangan harap ada rekonsiliasi pemikiran jika cara-cara keji, cara brutal dengan menggandeng Ormas Radikal yang telah dilakukan oleh kubu Anis bisa terlaksana. bahkan media luar negeri juga menyoroti bahwa kemenangan Anis adalah kemenangan karena Ideologie. Itupun didukung oleh Ormas Radikal. Dan ini adalah Tragedi Demokrasi di abad ini yang justru telah dicontohkan oleh negara yang terkenal akan toleransinya.,.

Jika begini Rekonsiliasi tersebut dengan siapa?






Leave a Reply