Sepanjang hari kemarin suasana di seputaran Balaikota DKI Jakarta dan Tugu Monas sudah menjadi saksi, bagaimana euforia kemenangan suku primitif di Kota Metropolitan Jakarta. Soal pembakaran kembang saya tidak perdulikan, karena tokh tidak ada yang dirugikan.

Tukang kembang sudah untung, pemesan pun sudah puas karena kembangnya sudah sampai di Balaikota DKI dan Ahok Djarot pun sudah senyum sumringah, karena tahu mereka berdua sangat dicintai begitu besarnya oleh masyarakat Indonesia.

Yang terlihat dan di tunjukkan kemarin adalah:

1 Pendukung Anis Uno sudah menunjukkan “kelas” pendidikan mereka sebagai buruh.

2 Kepintaran mereka menunjukkan “kebodohan”.

Terlihat jelas dari kata-kata yang mereka lontarkan sewaktu terjadinya aksi bakar kembang.

3 Peran serta wakil rakyat yang bernama Fadly di dalam mengaransemen “demo buruh”.

4 “Kekuatan” mereka.

Kita harus ingat bahwa mereka sanggup demo berkali-kali dan mengerahkan ribuan orang dengan armada ratusan bus Pariwisata.




5 “Kecintaan’ mereka kepada Kota Jakarta, dengan cara meninggalkan sampah sembarangan di sepanjang jalan Balaikota DKI dan seputaran Monas. Sampai sekarang masih berserakan sampah nasi bungkus Styrofoam di lapangan parkir di samping Mandiri Centre Jl. Jendral Sudirman.

6 “Keistimewaan” mereka ini….

Karena aksi demo mereka ini mesti dijaga ribuan personel negara yang terdiri dari Polisi, Tentara, Satpol PP, dan Dishub LLAJ DKI. Plus ratusan kendaraan khusus dari TNI/ POLRI, baik kendaraan khusus maupun kendaraan taktis.

Akibat aksi demo buruh ini, seputaran Monas dan Istana Negara terpaksa di blokade petugas yang menyebabkan masyarakat umum sangat terganggu aktifitasnya.

7 “Senjata”…

Keseluruhan dari pada apa yang sudah dipertunjukkan adalah merupakan senjata dari salah satu Partai Politik kita, yang mana ketua buruhnya sejak zaman Pilpres sudah merupakan mitra atau underbouw ataupun soul matenya.

Aksi demo mereka kemarin berakhir menjelang magrib Jakarta ataupun sebelum 18.00 sore hari. Salah satu dari sekian banyak tuntutan mereka adalah selain menyalahkan Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta yang tidak pernah menaikkan upah kerja mereka adalah agar Gubernur DKI menaikkan upah mereka. Mereka pikir seorang Gubernur DKI bisa sewenang-wenang menaikkan upah mereka.




Mereka pun menyatakan secara terus terang bahwa mereka sengaja menolak memilih Ahok, karena Anis Uno sudah berjanji akan menaikkan Upah kerja mereka. Dalam hati kubertanya, apakah semudah itu seorang gubernur mengatur dan menentukan gaji buruh di daerahnya tanpa memikirkan faktor-faktor variabel?

Namun, ya, sudahlah… tokh Ahok tidak akan kebagian pusing lagi soal itu. Syukur-syukur Anis Uno bisa menaikkan gaji buruh di DKI seratus kali lipat, biar buruh DKI jadi konglomerat semua ha ha ha ha ha ha.

Namun demikian, satu hal yang paling mengusik nurani saya adalah fenomena baru Jakarta, yakni ketidakteraturan semakin menjadi jadi. Misalnya, pasar Tanah Abang yang kembali lagi macet, munculnya bangunan liar di pasar ikan, yang baru-baru ini diratakan Satpol PP JAKARTA.

Inilah yang saya sebutkan sebagai primitifisasi metropolitan Jakarta. Yang penting OKE OCE semuanya. Rangkul semuanya. Kasih kebebasan semuanya. Kasih modal semuanya. Oh pokoknya … indah BERSYARIAH !!! Yang penting, seluruh pendukung OKE OCE bebas mau ngapain pun di Jakarta ini. Mau bakar kembang. Mau bakar gedung Balaikota. Suka suka mereka saja.




Sebaiknya Ahok besok pagi mengundurkan diri sajalah. Biar kita lihat hebatnya OKE OCE.
Sungguh…. saya berharap Ahok BTP segera saja tinggalkan kursi Gubernur DKI itu.
Gak usah ngurusi rakyat Jakarta lagi. Mendingan ente liburan, Hok.

Lihat indahnya Kepulauan Maladewa… atau Pantai Karibia…. atau pun jalan-jalan ke kampung halamanmu Desa Surbakti di Datan Tinggi Karo sana sambil lihat volcano park Sinabung.

Mejuah-juah!


Leave a Reply