Dampak pertempuran politik di Pilkada DKI tak terasa memunculkan api dalam sekam yang siap “membakar” rajutan kebangsaan kita. Pertempuran yang dibumbui dramatisasi menguatnya politik identitas telah memunculkan peta konflik baru di akar rumput. Strategi menonjolkan politisasi agama telah mampu ditunggangi kelompok radikal dalam mencapai tujuan.

Isu khilafah telah dibungkus rapi dalam perebutan kekuasaan di Jakarta lewat gerakan massif framing radikalisme ala FPI dan HTI.

Polarisasi pertempuran proxy war dimainkan untuk menarik konsolidasi kelompok Islam garis keras dalam mencapai tujuan khilafah lewat momen Pilkada DKI. Rakyat seolah digiring dalam framing keterbelahan memaknai sistem di negeri ini. Lewat isue kegagalan sistem mencoba masuk untuk membumikan sistem khilafah lewat Jakarta bersyariah.

Jakarta telah dijadikan target untuk pembentukan opini dalam mengolah sistem khilafah sebagai alternatif dari framing kegagalan sistem. Kelompok radikal mencoba memaksakan isue lewat aksi sporadis dimana mereka sudah menguasai dunia pendidikan dengan kampus sebagai basis doktrinasi.

Ketika isue penistaan agama menguat, maka secara tidak langsung telah jadi momentum untuk menunjukkan eksistensi jaringan khilafah yang selama ini bergerak dalam sunyi.




Secara prinsip sistem khilafah sangat bagus dalam membangun konsolidasi akselerasi pembangunan, namun ketika kultur dan tradisi yang dibangun pendiri bangsa bersifat pluralistik serta menghargai perbedaan, maka sistem khilafah malah akan mengancam pluralisme di negeri ini.

Belajar dari pengalaman sistem khilafah yang gagal total berdampak perang saudara di negara-negara Timur Tengah, maka ketika menguatnya politik identitas lewat isue khilafah dengan cara-cara kekerasan intimidatif, saatnya kita waspada dan bergerak untuk membendung gerakan tersebut.

Jangan sampai perpecahan perang saudara di Timur Tengah berimbas di negeri ini, saatnya kita bangkit melawan segala upaya mereka yang ingin mengganti sistem idiologi Pancasila yang telah menjadi taken for granted dari para pendahulu kita dalam memaknai perbedaan serta pluralisme di negeri ini. Jangan sampe mereka membonceng isue Pilkada DKI hanya demi merebut Jakarta untuk pembentukan opini kekhilafahan.

Saatnya kita lawan cara mereka lewat pertempuran ide mempertahankan kebhinekaan demi melawan cara-cara membumikan khilafah lewat gerakan intimidatif.

Ketika kalian kaum terdidik dan tercerahkan hanya terdiam menyikapi fenomena ini maka tunggu saatnya para komprador gerakan khilafah akan merebut dan menghancurkan tatanan sistem yang telah dirajut lama para pendahulu dan pendiri bangsa.




Saatnya melawan atau terdiam melihat kehancuran di negeri ini…

Merdeka!!!!!….

#SalamPerlawanan
#SalamPencerahan

Hormat Kami :
Pegiat Facebook mania dari Komunitas CENTER STUDY REPUBLIC ENLIGHTMENT FOR PROGESSIF MOVEMENT (CS REFORM)





Leave a Reply