Warga dan Pengusaha Harap Pemerintah Antisipasi Hari Raya

Laporan B. Kurnia P.P. dari Berastagi

Kota wisata Berastagi tetap menjadi pilihan bagi wisatawan nusantara (Wisnu) untuk mengadakan liburan umum bersama keluarga. Terbukti dalam libur nasional liburan panjang dalam kurun waktu 2 minggu ini, kota wisata Berastagi tumpah ruah wisatawan, khususnya Wisnu.

Ini ditandai dengan penuhnya kamar-kamar penginapan hotel berbintang sampai non bintang di Berastagi pada hari libur umum atau disebut weekend long day [Senin 24/4 dan Senin 1/5].

Dampaknya, Lintas Tengah Sumatera Dataran Tinggi mengalami kemacetan yang memprihatinkan khususnya di Jalur Tongkeh Km 56 sampai Berastagi Km 65, di samping Jalur Pancurbatu, Sembahe dan Bandar Baru serta lokasi Penatapen di perbatasan Karo Gunung (Kabupaten Karo) dan Karo Hilir (Kabupaten Deliserdang).

Hasil Pantauan Sora Sirulo di Berastagi [Minggu 30/1 dan Senin 1/5], kota wisata ini sempat beberapa jam pada sesi-sesi tertentu mengalami kemacetan di jalan lintas Berastagi menuju Medan ditambah arus kenderaan bermotor yang datang dari arah objek wisata Parapat via Simarjarunjung, Tongging, Taman Simalem Resort Merek serta jalur lintas dari 8 kabupaten/ kota. Polantas Polres Tanah Karo mengalihkan Lalulintas Ranmor di Kota Berastagi dan jalur lintas ke Medan via Lau Gendek ke jalan wisata Sibayak 2 yang mengitari kaki Gunung Sibayak dari Jaranguda tembus ke Taman Hutan Raya Bukit Barisan Tongkeh.




Kepadatan arus lalu lintas di kota wisata Berastagi ini, menjadi perhatian khusus Polres Tanah Karo. Personil secara intensif dan maksimal ditempatkan di kantong-kantong rawan macet dan kecelakaan lalulintas, langsung dipantau Wakapolres Tanah Karo (Kompol Reza Fahlevi Lubis) dan Kanit Polantas Berastagi (Ipda Poltak Hutahaean). Mereka mengantisipasi kemacetan dan hal-hal buruk yang dapat saja terjadi atas kelalaian manusiawi maupun tindak kejahatan dari oknum-oknum yang tak bermoral dengan mengambil kesempatan buruk dalam kesempitan.

“Ini khususnya berlaku untuk kutipan-kutipan liar, terutama parkir liar di badan maupun bahu dan beram jalan umum. Mereka pasti akan ditindak tegas,” kata Wakapolres Tanah Karo Reza F Lubis kepada wartawan di Hotel Bukit Kubu Berastagi [Minggu 30/4: Sore].

Lanjut Reza, pihaknya sedang mengkaji dan memetakan tempat-tempat yang acap kali menimbulkan kemacetan Lalin di sepanjang jalan lintas Berastagi menuju perbatasan Karo – Deliserdang. Ini terutama difokuskan pada masa liburan panjang nasional seperti Hari Buruh kemarin.

“Kita himbau para pemilik usaha di sepanjang jalan lintas untuk membuat khusus tempat parkir ranmor pengunjungnya seperti sekitar Peceren dan Lau Gendek yang sudah dikenal sebagai jalur paling sering terjadi kemacetan,” kata Reza.

Kemacetan di Kota Berastagi

Hal senada disampaikan pelaku usaha perhotelan di Kota Berastagi (Indra Sembiring Colia) didampingi Danramil Berastagi (Mayor Muchtar), Danramil Simpang empat (Kapten JE Sembiring dan Ipda Poltak Hutahaean) serta seorang awak media (Nanang) kepada wartawan [Minggu 30/4] ketika dimintai pendapatnya atas seringnya kemacetan lalin jalur lintas kota wisata Berastagi – Medan di masa liburan panjang. Indra merasa miris atas kemacetan Lintas Tengah Sumatera Dataran Tinggi.

“Masalah ini sudah berlangsung lama, tapi belum mendapat perhatian serius pihak pemerintah dan stake holder terkait dalam mendukung Lalin yang aman dan lancar serta pelayanan bidang kepariwisataan bagi Kabupaten Karo sebagai daerah destinasi objek wisata Sumut,” ujarnya.

Lanjut Indra, pihaknya banyak menerima keluhan para wisnu yang datang ke penginapannya. Mereka mengeluhkan kemacetan panjang di Pancurbatu, Sembahe, Bandar Baru, Tongkeh, Peceren dan di kota Berastagi. Perjalanan Medan–Berastagi bisa memakan waktu 4 jam. Ini sudah barang tentu membuat kebosanan Wisnu.

Selain itu, menurut Indra, ini menjadi bumerang bagi warga sekitar Berastagi sendiri Perjalanan bermotor dari jalan Simpang Lau Gendek ke Hotel Bukit Kubu melintasi Peceren (sekitar 3 km) memakan waktu 1 jam.

“Sangat merugikan warga di sini,” tutur Indra.




Menurut Indra lagi, dia sudah banyak menerima keluhan para wisatawan yang singgah di tempat usahanya. Banyak yang tidak jadi berwisata karena kemacetan Lalin.

“Apalagi badan jalan yang dilalui juga sudah banyak berlubang dan tergenang air sehingga rawan kecelakaan. Bila hal ini terjadi, sudah barang tentu sangat merugikan masyarakat Karo khususnya pelaku usaha wisata hotel, restoran, warung, toko cindera mata dan pedagang kaki lima,” keluhnya.

Indra kemudian mengingatkan agar pemerintah segera menangani masalah ini mengingat hari besar keagamaan sudah dekat.

Sementara itu, jurnalis senior Nanang mengatakan, menurut peraturan yang berlaku, tidak diperkenankan adanya lokasi parkir di sepanjang bahu atau beram jalur lintas umum.

“Apalagi diadakan pengutipan retribusi. Lokasi parkir ini menjadikan kemacetan jalur lalin di tempat ini. Harus menjadi perhatian pihak berwenang menelusurinya,” kata Nanang.

Pantauan Sora Sirulo, kemacetan Jalur Lintas Tengah Sumatera Dataran Tinggi Tongkeh menuju Berastagi sangat terkait dengan adanya lokasi parkir di bahu dan beram jalan di depan warung wajik Peceren secara sudut 90 derajat. Demikian juga halnya bahu dan beram jalan yang dijadikan lokasi parkir mobil yang berbengkel di Simpang Parloha, Simpang Lembah Katisan, dan Jalan Listrik Atas maupun Bawah dan beberapa tempat lainnya.






Leave a Reply