“Saudara-saudara demonstran. Inilah puncak acara kita. Agar semua orang tahu, bahwa kita adalah buruh yang punya kekuatan. Ini adalah puncak dari segala bentuk pengakuan kita sebagai buruh. Kita bukan sekadar alat produksi. Kita juga bisa menjadi alat intimidasi politik!”

“Sekarang kita tegaskan, di sini. Ada buruh yang berdemonstrasi untuk menuntut kenaikan upah. Ada yang menuntut tunjangan kesejahteraan. Tapi kita tidak seperti buruh yang lain. Bukan itu yang kita tuntut. Terlalu kecil buat kita!@

“Tuntutan kita jauh lebih besar. Persetan dengan kesejahteraan buruh. Persetan dengan kenaikan upah. Itu tidak seberapa dibanding tuntutan yang akan kita suarakan sekarang.”

“Upah yang besar, tidak ada gunanya jika di Balai Kota masih ada bunga untuk Ahok dan Djarot. Kesejahteraan buruh tidak akan ada artinya jika rakyat masih bersimpati pada Gubernur yang kalah dalam Pilkada itu.”

“Musuh kita bukan kapitalis. Bukan para pengusaha yang memeras keringat kita. Musuh kita bukan sistem produksi yang menindas. Musuh kita bukan ekonomi yang menempatkan kita sama sejenis skrup. Mau tahu musuh buruh sebenarnya?!”

“Mauuuuuu…!” Suara koorr menjawabnya.

“Musuh kita yang sebenarnya adalah karangan bunga! Sekali lagi, karangan bunga adalah musuh kaum buruh sedunia. Ingat itu.”




“Kita bisa berdamai dengan pengusaha. Kita bisa bernegoisasi dengan pemerintah. Kita bisa mogok kerja untuk menekan kebijakan. Tapi kepada karangan bunga di balai kota, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka seperti meledek kita. Cuma berdiri di pinggir jalan, sementara kita berpanas-panasan di sini.”

“Mereka enak jadi bunga. Gak kerja, tapi dipuji-puji orang. Dibilang indah, dibilang harum, dipuji bagus warnanya. Sementara kita jadi buruh, kalau kerja doang dipuji. Jika tidak kerja, malah dimarahi bos.”

“Syukurlah kita buruh yang nyambi. Nyambi jadi masa partai politik. Lumayan, hasilnya bisa bangun rumah seharga milyaran. Memang belum semuanya kebagian rumah milyaran. Baru satu orang saja yang sukses. Sebagian besar buruh lainnya, masih tinggal di rumah petakan dan kamar-kamar pengab. Tapi kita tidak boleh iri. Rezeki orang beda-beda.”

“Tetaplah membayar iuran 1% dari gaji, yang kita setorkan kepada pengurus serikat buruh. Agar mereka sejahtera. Agar pembangunan rumahnya cepat selesai. Doa kita menyertainya. Doa orang-orang yang teraniaya biasanya cepat dikabulkan.”

“Kawan-kawan! Jadi kita tahu siapa musuh buruh sebenarnya!?”

“Bungaaa…” serentak masa buruh menjawabnya.

“Ya, Bunga! Merekalah musuh buruh sebenarnya.”

“Kini di hadapan kita ada ribuan karangan bunga. Sebagai buruh, kita wajib menghancurkannya. Kita harus meluluhlantakkan semua bunga-bunga ini.

“Bakar! Bakar! Bakar!…” Orang-orang mulai berteriak.

Wahai kaum buruh sedunia, bersatulah. Kita hancurkan bunga-bunga sedunia!

Video ini diputar pada sidang tahunan organisasi buruh dunia (ILO), di bawah naungan PBB. Setelah video selesai diputar, para peserta konferensi dari berbagai negara itu, menangis tersedu-sedu …











Leave a Reply