Kemarin seorang teman, pengajar di sebuah kota kecil daerah Jawa Timur, memberi informasi. Sekolahnya mendapat sebuah proposal dari HTI, yang mengajak bekerjasama untuk mengisi acara Ramadhan. Tentu saja dalam proosal itu disebutkan untuk dakwah.

Pimpinan sekolah, yang mungkin kurang informasi, tadinya berniat menyetujui kerjasama itu. Ini ada organisasi dakwah, mau ngajar murid dengan gratis. Menambah keimananan saat Ramadhan. Mungkin begitu fikirnya.

Untung saja teman itu cepat memberi masukan kepada pimpinan di sekolah itu. Dia menjelaskan mahluk jenis apa HTI. Bagaimana organisasi politik transnasional yang dibungkus dakwah ini meracuni anak-anak muslim. Tujuan HTI mendirikan pemerintahan khilafah dunia, otomatis juga menghapus Indonesia.

“Kita tidak mau anak-anak diajarkan bagaimana merusak bangsanya sendiri, kan, pak?” Akhirnya mereka sepakat membatalkan proposal itu.

Apakah itu cuma satu-satunya proposal HTI yang masuk ke sekolah? Saya tidak tahu. Tapi, inilah gerakan politik transnasional yang berselubung dakwah. Mereka mensasar segala lini. Anak-anak kita yang polos, yang kemarin menyanyikan lagu ‘Halo-Halo Bandung’ dengan teriakan lantang, mungkin besok hari akan berfikir, bagaimana menjadikan Bandung lautan api sekali lagi. Bagaimana meluluhlantakan bangsanya sendiri.




HTI bukan saja menelusup ke sekolah, juga makin lantang memasuki Kampus. Mahasiswa yang puber agama dicekokin mimpi khilafah, dibetot kembali ke abad pertengahan. PNS, pegawai BUMN dan rakyat kebanyakan juga dimasuki. Bahkan pengalaman di Pakistan HTI menelusup ke tubuh militer.

Sebetulnya HTI bukan organisasi dakwah. Dia organisasi politik yang menjadikan Islam sebagai kendaraan. Tujuannya membangun khilafah dunia. Masalahnya, ada berbagai organisasi ekstrim yang juga mengusung khilafah. Cuma khilafahnya gak sama dengan HTI.

ISIS punya Abu Bakar Al Baghdadhi, Al Qaedah dulu punya Osama bin Laden. Taliban lain lagi. Jadi kalau pun mereka berhasil menguasai Indonesia, pasti akan bertempur dengan organisasi lain berebut kursi khilafah. Ini terjadi di Syuriah dan Irak. Mereka saling menggigit satu sama lain.

Jadi, ide khilafah saat ini memang tidak bakal ada ujungnya. Sampai kehancuran bangsa Indonesia. Anak-anak yang disusupi ide konyol ini akan punya semangat berperang untuk menghancurkan. Bukan untuk meneggakkan sesuatu. Itu sudah terjadi di Suriah atau Afganistan.

Saya pernah bertemu dengan mantan simpatisan HTI di Depok. Alhamdulillah, dia sadar bahwa doktrin HTI itu sebenarnya konyol.

“Masa semua persoalan selesai dengan khilafah. Lha, khilafahnya belum tahu seperti apa bentuknya,” kisahnya di suatu siang.

Apalagi karena dilihat cukup sukses secara ekonomi, dia merasa dikerjar-kejar dengan kewajiban infaq organisasi yang katanya untuk perjuangan.

“Ngejarnya kayak orang nagih utang,” ujarnya singkat.

Di Indonesia memang sedang marak politik yang dibungkus jargon agama. Mereka ingin mendapatkan kekuasaan dengan menjual ayat-ayat Tuhan. Sialnya, seolah mereka paling suci sendiri. Berani mengkafirkan, berani menuding sesat, berani bilang Indonesia negara toghout (setan).

Politik atas nama agama ini yang membuat anak-anak Suriah mati kelaparan. Yang membuat perempuan Yazidi diperdagangkan bak keledai, digunakan sebagai budak seks, diperkosa beramai-ramai sebelum ditebas kepalanya.

Lalu mereka mau susupi ideologi penghancur ini ke sekolah-sekolah kita? Mau membuat anak-anak kita yang manis berubah jadi algojo yang tumbuh tanpa nilai kemanusiaan? Mereka mau menjadikan umat Islam seperti zombie — tanpa rasa, kasar, intoleran dan tanpa keadilan.

Lagipula sampai sekarang belum ada contoh negara sukses menerapkan khilafah. Yang ada malah hancur-hancuran. Enak aja ngajarin anak-anak kita pepesan kosong seperti ini.

“Buat anak kok, coba-coba. Emangnya minyak telon?”

Kalau gitu giliran saya mau nanya: Khilafahmu itu kalau makan bubur ayam diaduk apa gak? Kalau kamu belum bisa menjawab, jangan ngomong soal konsep khilafah dulu, deh…





Leave a Reply