Hiruk pikuk hak angket DPR  menjadi rame pula belakangan ini terkait urusan korupsi e-KTP. Memang negeri Indonesia ini urusan besarnya ialah korupsi, setelah itu narkoba dan satu lagi terorisme. Yang terakhir ini (terorisme) sudah semakin susut, karena ‘terrorism made in USA’ (Prof. Chossudovsky, dan Trump tidak mau jadi direktur fabrik terorisme).  Itulah 3 urusan besar di negeri ini. 

“Adapun lembaga negara yang bukan pemerintah, itu KPK, KPU, Komnas HAM, ini enggak bisa diangket. Jadi ini juga sama saja dengan mengangket BPK, MK, MA. Itu enggak bisa diangket,” pungkas Mahfud MD.

Tetapi biarpun begitu, hak angket DPR ini bisa berakhir juga dengan pemakzulan Jokowi, katanya lagi, dirilis merdeka.com

Baru selesai gerakan makar 212 dan 313, sekarang pemakzulan . . . wow.  Siapakah gerangan yang suka bikin makar dan pemakzulan pemerintah RI?

Di tahun 1965 kita sudah tahu, yang bikin makar ialah penjarah SDA dengan pengalihan isu mengadu domba rakyat dengan teror 3 juta. Siapa penjarah SDA? Di Papua kita tahu ialah neolib Freeport yang selama setengah abad telah mengeruk triliunan-triliunan dolar dari bumi Papua. Di Syria dan Irak kita tahu ialah pemerakarsa ISIS yang juga sampai sekarang masih mengeruk triliunan dolar dari SDA minyak dua negeri itu. Dan kata Trump adalah Obama dan Clinton sebagai pendiri ISIS.

Tetapi, siapakah di belakang Obama dan Clinton? Jawabnya ialah ‘the secret government’ penguasa sebenarnya dibelakang layar.




Presiden Obama sendiri berada di bawah pengaruh ‘the secret government’ istilah prof Michael Glennon dari Tufts University, dia bilang: ‘Vote all you want. The secret government won’t change. The people we elect aren’t the ones calling the shots’

The Secret Government ini sudah menguasai dan memiliki pemerintah AS sejak periode presiden Andrew Jackson (1829-1837). Ini dibilang oleh presiden Roosevelt 1933: The real truth of the matter is, as you and I know, that a financial element in the large centers has owned the government of the United States since the days of Andrew Jackson.” 

‘Financial element in the large centers’ sekarang kita namai neolib internasional yang di AS disebut ‘The Establishment’ oleh Trump. Dan ‘Obama was the last gasp of neoliberalism’, artinya Obama adalah boneka terakhir dari the establishment di Gedung Putih.

Sejak era Andrew Jackson (1829) sampai ke akhir era Obama (2016) artinya selama 187 tahun the ‘secret government’ atau ‘the financial element’ sudah mendikte Gedung Putih tanpa ada yang mengetahuinya dan tanpa ada yang mengganggunya. Hebat memang. Hebatnya lagi ialah Trump itu sendiri, karena hampir 200 tahun baru muncul seorang Trump. Bukan main!

Pertarungan antara Clinton kontra Trump dalam Pilpres lalu adalah petarungan antara kekuatan neoliberal kontra kekuatan nasionalisme dan berakhir dengan kemenangan nasionalisme Trump. Banyak yang mencoba bikin analisa mengapa sekarang ini nasionalisme bisa mengalahkan neoliberalisme atau ‘why nationalism beats neoliberalism’? 

Kebangkitan nasionalisme di Eropah Barat seperti Brexit (UKIP) dan banyak partai-partai nasional/ kultural pada bermunculan dan bahkan menjadi partai besar di banyak negeri Eropah, telah menjadi fenomena nasional yang berjalan cepat di luar perkiraan bagi the old establishment. 

Kobarkan terus nasionalismenya, Pak Trump.







Leave a Reply