Ketika banyak diantara temen dan sahabat gelisah tentang Kebijakan Pak Jokowi yang seakan adhem ayem, yang seakan tidak begitu menanggapi radikalisme, yang kata banyak orang “sudah di depan pintu rumah kita”, dalam kesempatan yang baik saya diskusikan dengan seorang kawan. Ini perbincangannya.

“Gini, ya.. Banyak temen-temen yang gelisah. Banyak temen-temen yang mempertanyakan kenapa Pak Jokowi seakan menganggap remeh radikalisme yang sudah kebablasan termasuk ingin mengganti dasar negara.”

Kawan tersebut tersenyum. Sesaat agak terasa berat untuk menjawab. Namun karena saya sangat serius, kawan tersebut akhirnya menjawab pertanyaan saya meski harus menghela napas berkali-kali.

“Sampeyan musti tahu, presiden kita ini orangnya low profile. Namun, apakah beliau lembek seperti yang dikira orang? Tidak. Beliau di samping cermat, juga disana ada Pak Tito yang masternya polisi. Juga ada Bpk Gatot Nurmantyo yang akan selalu memukul mundur siapapun yang akan merorongrong keutuhan NKRI.”

“Tentang kebijakan beliau mengenai radikalisme dan terorisme, tentu sampeyan masih ingat. Ketika hampir selurih dunia diteror bom saat Natal dan Tahun Baru, Indonesia sendiri yang luput dari serangan teror. Indonesia berhasil meringkus teroris itu sebelum melakukan serangan. Ini adalah prestasi yang hebat di pemerintahan ini ketimbang pemerintahan terdahulu yang kecolongan dengan Bom Bali 1 dan Bom Bali 2. Ini yang pertama.”




“Yang ke dua, kaum radikalisme sudah diidentifikasi. Di bawah komando Pak Titto yang berpengalaman masalah teror dan radikalisme, intelejen bekerja secara maksimal. Itu sebabnya kenapa ketika Hari H demo besar-besaran Pak Tito yang sudah mempunyai data dan informasi yang akurat, mereka yang mau berbuat makar langsung dicokok. Termasuk Ketua FUI.”

“Lalu, kenapa Pak Tito tidak segera menangkap pentholan HTI, kawan?”

“Menangkap itu mudah. Namun tentu dampaknya akan besar sekali. Justru kaum radikalisme menginginkan hal itu agar mendapat simpatik dari umat muslim. Ini tentu akan memperparah keadaan. Apalagi jika ditunggangi lawan-lawan politik, tentu bisa-bisa akan menjadi perang saudara. Itu yang diinginkan negara-negara lain agar Indonesia berkecamuk. Pak Jokowi tidak mau terpancing dengan hal itu. Jangan dikira kejadian-kejadian ini belum diIdenfikasi oleh intelejen. Kecuali jika sudah terbukti Makar, maka pemerintah tidak akan segan-segan menangkap siapapun seperti halnya Al Katthhah.”

“Dengan kebijakan yang lkunak itu, apakah tidak beresiko jika 2019 Pak Jokowi nyalon lagi ” tanyaku.

“Hehehehehe… Pak Jokowi bukan tipe yang rakus dengan jabatan dan kekuasaan. Hidup beliau yang saya tahu mengikuti air mengalir. Bekerja dengan iklas. Itu kenapa anak-anak beliau, bahkan saudara-saudara beliau termasuk adik-adik ipar dari Pak Jokowi berbisnis seperti orang-orang biasa. Sampeyan juga ngerti, anak mbarep beliau hanya jual martabak. Putrinya juga tidak lulus test ketika ikut seleksi CPNS di Solo. Bagi Pak Jokowi, jabatan itu amanah. Jabatan itu adalah kehendak Yang Kuasa. Jika Rakyat masih menginginkan, tentu beliau akan terpilih. Itu kenapa beliau enjoy. Beliau hanya bekerja dan bekerja dengan Visi dan Misi yang jelas pasti. Hanya saja, dalam waktu dekat rasanya akan ada resufle kabinet. Menteri-menteri yang agak mbalelo, menteri-menteri yang ditengarai menjadi duri dalam daging bisa dipastikan akan dirombak.”

Hmmmm…. bincang-bincang tentang Pak Jokowi memang di samping asyik, memang selalu seru. Sekaligus menarik. Saya lalu jadi ingat, sesaat setelah ada Bom Thamrin, Pak Jokowi langsung turun ke TKP. Konon tidak memakai rompi anti peluru.

Pikiran saya kembali menerawang, terlintas beberapa wajah para tokoh nasional. Termasuk Prabowo. Ya, Pak Jokowi tetep yang terbaik ketimbang yang lain.

Tiba-tiba bulu kuduk merinding ….

Ahh …. Semoga sehat, ya, Pak Jokowi ….






Leave a Reply