Kemarin pasangan Anies Sandi ditetapkan KPUD Jakarta, warga Jakarta mulai menunggu kiprah gubernur baru mewujudkan janji kampanyenya. Seandainya gubernur baru tidak mampu melakukan perubahan nyata bagi Jakarta maka pantaslah jika stigma gubernur baru yang terpilih gara-gara sentimen agama saja.

Pastilah warga Jakarta menginginkan kinerja gubernur baru mampu melebihi standar kinerja Ahok dalam melakukan pendobrakan sistem membenahi Jakarta, dimana tingkat kepuasan publik 70% untuk kinerjanya dan hanya kalah gara-gara gempuran sentimen politisasi agama

Namun, nasi telah menjadi bubur, saatnya menatap ke depan mengontrol kinerja gubernur baru merubah Jakarta. Sorotan warga Jakarta akan tertuju langkah serta kinerja gubernur baru dalam memberi solusi masalah Jakarta yang sebagian besar sudah terurai oleh kiprah kinerja Ahok Djarot.

Sayangnya warga Jakarta mulai menyesal melihat langkah dan statemen gubernur baru yang hanya masturbasi kemenangan untuk kelompok pendukungnya. Seolah janji dan program dalam statemen akhir-akhir ini lebih condong menyuarakan kepentingan gerbongnya dan para pendukungnya.




Dalam langkah Anies Sandi mulai menampakkan wajah aslinya dalam merayakan masturbasi kemenangan versi mereka. Kenapa bahasa masturbasi yang dipilih??!!!

Karena Anies Sandi lebih condong memberikan kepuasan berlebihan pada dirinya dan gerbongnya. Belum ada kesan bahwa gubernur baru dalam langkahnya sebagai gubernur semua golongan.

Dalam catatan kami, ada 4 langkah gubernur baru yang terkesan hanya masturbasi kemenangan saja.

Pertama, langkah kebijakan transparansi anggaran yang telah ditata transparan oleh Ahok akan diutakatik demi menyusupkan kepentingan gerbongnya memanfaatkan anggaran. Dengan dalih diberi kuasa wewenang mencoba menekan Aahok agar mau menyisipkan program titipan dalam anggaran Pemda demi memuaskan konstituennya termasuk program Bansos untuk Ormas pendukungnya.

Ke dua, kebijakan parkir meter mulai diwacanakan untuk dirombak hanya demi memenuhi pesan sponsor dari para Ormas pendukungnya yang lagi lapar akan kue-kue kekuasaan. Ormas pendukungnya yang selama ini merasa tergencet oleh kebijakan perparkiran Ahok akibat dari jatah preman hilang dampak diberlakukan parkir meter.

Maka ketika ada centeng baru terpilih akan ada peluang untuk merebut kembali jatah parkir yang telah diporakporandakan oleh kebijakan Ahok. Maka wacana Sandi ingin merubah sistem parkir meter merupakan indikasi para mafia ingin kembali dapat jatah dari potensi parkir di Jakarta. Upaya ini sebagai balas budi kepada para mafia parkir yang telah mendukungnya di Pilkada DKI.

Ke tiga, perebutan lahan reklamasi juga akan menjadi sarana gubernur baru untuk bagi-bagi jatah proyek untuk para pendukungnya walaupun janji kampanye Anies ingin penolakan reklamasi. Tapi karena potensi reklamasi begitu besarnya maka gubernur baru mulai gamang bersikap apalagi setelah dapat bisikan dari para pendukungnya.

Ke empat, Anies Sandi mulai menerobos segala aturan hanya demi memuaskan dirinya dan gerbongnya. Mulai dari kebijakan mengembalikan lahan penggusuran di tanah negara hingga soal Sandi berani menerobos jalur busway hanya karena merasa sok kuasa. Bahkan soal keanehan progam pojok taaruf di RPTRA yang dikondisikan untuk tempat kumpul keluarga bukan tempat pacaran ala taaruf.




Ke empat hal di atas merupakan sedikit catatan kecil langkah Anies Sandi yang terkesan hanya masturbasi kemenangan saja. Bahkan langkah Anies Sandi untuk menjahit kembali tenun kebangsaan yang mereka koyak belum mampu diberikan solusi terbaik bagi isue SARA yang telah mereka hembuskan.

Namun, apapun langkah yang harus diambil gubernur baru, wajib kita kontrol secara kritis sehingga garong dan para mafia yang membonceng kepentingannya dalam kebijakan gubernur baru mampu dipantau dan diawasi demi kemaslahatan warga Jakarta.

Saatnya bergerak untuk mengontrol dan awasi gubernur baru, jangan hanya terdiam melihat gerak para mafia yang mau ambil keuntungan dari gubernur baru dalam memimpin Jakarta.

#SalamPencerahan

Hormat Kami
Para OPOSAN pegiat Facebook mania dari komunitas CS REFORM

Foto header: Jelajah Sukabumi






Leave a Reply