Oleh: Arrie H. Ardhana (Bandung)

 

Menurut saya, melakukan makar itu karena 2 hal: 1. Ingin mengganti ideologi dan dasar negara atau 2. menggantikan pemimpin tertinggi disebabkan terjerat kasus hukum atau situasi ekonomi yang memburuk.

Untuk posisi Jokowi, sangat sulit dikudeta kalau issue yang dibawa masalah personal dan ekonomi.




Hal yang lain, kalau Jokowi tidak digoyang sekarang, akan terlambat buat mereka untuk menurunkan elektabilitas presiden di tahun 2019. Sepanjang tahun 2018 – 2019, secara masif hasil kerja selama ini mulai dipanen. Ini sangat tidak menguntungkan secara politik buat lawan Jokowi.

Statement Panglima TNI menurut saya sudah jelas arahnya bahwa makar tidak akan terjadi kalau issuenya tentang personal presiden dan pemerintahannya. Kalau yang dibawa issue PKI, saya yakin betul Angkatan Udara dan Angkatan Laut tidak akan sepaham dengan Angkatan darat kalau mau kudeta. Dari sejarahnya, kita bisa tahu mengapa.

Belum lagi Polri sekarang secara institusi sudah mapan, bisa menjadi penyeimbang TNI. Belum lagi NU yang secara jelas menggambarkan posisinya ada di mana. Panglima juga bilang, TNI tidak bisa mencampuri urusan hukum dan politik. Berarti, saat ini, issue yang paling bisa dibawa untuk makar adalah mengganti ideologi negara. Dan, di sini sudah jelas sikap TNI seperti apa.

Jadi, sikap Panglima TNI bukan mendua, tapi berusaha memcegah opini untuk tidak berkembang menyerang agama tertentu, karena ini akan ditunggangi lagi seperti kasus Al maidah.

Catatan:

Tulisan ini adalah sebuah tanggapan terhadap Kolom Asaaro Lahagu yang berjudul Jokowi Disasar Kudeta, Gatot Offside, Kalla Bermain Api.








Leave a Reply