“Penyebaran paham radikal di perguruan tinggi sudah mengkhawatirkan karena sudah sistemik,” kata kepala BNPT Komjen Suhardi Alius di acara kuliah umum Universitas Negeri Semarang (Unnes) [Sabtu 6/5] sebagaimana diberitakan oleh merdeka.com.

Radikalisme bukan hanya karena kemiskinan, kebodohan, kekecewaan ataupun ketidakadilan. Terlihat sudah tersebar di kalangan intelektual, di kampus-kampus dan perguruan tinggi. Bahkan sudah terjadi deklarasi khilafah di kampus salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat oleh sebuah organisasi tertentu. Karena itu juga pak Alius memintakan kepada semua rektor untuk memperhatikan perekrutan tenaga pendidik di perguruan tinggi. Jangan sampai penyebaran radikalisme justru masuk melalui ajaran-ajaran dari tenaga pendidik itu sendiri.

Dalam memperhatikan dan mewaspadai keadaan mahasiswa yang kemungkinan sudah kemasukan ideologi radikalisme, beliau mengatakan: “Nah, ketika ada mahasiswa yang sedang menyendiri, tertutup, itu harus diwaspadai. Harus diberi perhatian jangan dibiarkan begitu saja. Kalau menyendirinya dalam hal kebaikan itu tidak apa-apa, kalau mengarah ke radikalisme kan ini harus diwaspadai.”

Tanda-tanda negatif seperti ini memang sering terjadi, ketika seseorang sudah direkrut jadi pembom bunuh diri atau akan melaksanakan aksi teror lainnya. Pemuda/mahasiswa rekrutan ini menunjukkan sikap di luar kebiasaannya.

Analisa dan kewaspadaan Alius patutlah jadi perhatian kita semua, untuk bersama-sama mencegah tersebarnya paham radikal yang bakal merusak keutuhan NKRI dan keutuhan negeri ini sebagai satu nation yang berdaulat berdasarkan Pancasila.




Adanya ‘deklarasi khilafah’ seperti yang dikatakan Alius, harus ditanggapi secara serius oleh aparat keamanan dan juga semua pemimpin politik negeri ini. Dengan begitu, usaha pencegahan dan menghindari kerusuhan yang merusak kesatuan dan kedamaian nasional yang masih terpelihara baik diantara semua kultur dan agama negeri ini. Rasa dan semangat nasional NKRI masih tertanam kuat di sanubari bangsa Indonesia ialah karena kita, semua suku, semua agama, semua kultur dan semua daerah telah bersama-sama hidup dan mati memperjuangkan nation dan kemerdekaan negeri ini dari kungkungan penjajah selama kolonial dan terutama dalam perang kemerdekaan menuju 1945.

Sekarang, semua agama, kultur, suku dan daerah bersama-sama menikmati dan mempertahankan kemerdekaan itu adalah patut dan adil. Menyisihkan atau tidak menghitung salah satu dari unsur keragaman itu dari politik atau pemerintahan satu agama, sangatlah tidak adil, dan tidak mungkin bisa diterima. Adanya negara Indonesia adalah jerih-payah pengorbanan semua suku, semua daerah, semua agama dan semua golongan tanpa pilih. Semua sudah berkorban. Karena itu memaksakan khilafah Islam saja sangatlah tidak adil.

Apa Itu Khilafah?

Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia. Khilafah bertanggungjawab menerapkan hukum Islam, dan menyampaikan risalah Islam ke seluruh muka bumi. Khilafah terkadang juga disebut Imamah; dua kata ini mengandung pengertian yang sama dan banyak digunakan dalam hadits-hadits shahih.

Sistem pemerintahan Khilafah tidak sama dengan sistem manapun yang sekarang ada di Dunia Islam. Meskipun banyak pengamat dan sejarawan berupaya menginterpretasikan Khilafah menurut kerangka politik yang ada sekarang, tetap saja hal itu tidak berhasil, karena memang Khilafah adalah sistem politik yang khas.

Khalifah adalah kepala negara dalam sistem Khilafah (lihat di SINI).

Dari sedikit penjelasan/ definisi di atas soal khilafah dan khalifah semakin jelaslah apa tujuan deklarasi khilafah di Jawa Barat itu, yaitu bercita-cita mendirikan atau mengubah Indonesia menjadi negara bersyariat Islam. Artinya, keluar dari rasa kesatuan nasional (NKRI), menolak Pancasila, menggantinya dengan syariat Islam, dengan sistem pemerintahan yang lebih internasional, Islam seluruh dunia.

Dari segi internasionalnya ini, ada miripnya dengan semangat dan cita-cita internasionalisme komunisme, dan juga semangat cita-cita internasionlisme neoliberalisme global. Ironisnya ialah, 2 internasionalisme yang terakhir ini, yaitu komunisme sudah berhenti, dan neoliberalisme sedang dalam perjalanan menurun drastis, dalam perjalanan menuju akhirnya sebagai akibat dari semaraknya gerakan nasionalisme bangsa-bangsa seluruh dunia. Di Eropah Barat seperti Brexit dan partai-partai nasionalis semakin besar. Di AS munculnya nasionalis Trump sebagai presiden.

Internasionalisme khilafah ini terlihat sedang mulai atau sudah ada orang yang memulai cita-cita khilafah ini, setidaknya dalam teori (lihat webnya di atas itu). Saya katakan dalam teori karena dalam praktek sudah terlihat gagal tak mungkin maju seperti khilafah ISIS dan khalifahnya. Tetapi fakta yang terlihat di depan mata ialah bahwa gerakan khilafah internasional ISIS telah mendatangkan penderitaan yang tak ada taranya bagi penduduk dua negeri Syria dan Irak. Itulah juga yang harus diwaspadai di Indonesia, supaya tidak terjadi.

Dari segi lainnya, berapa besar keuntungan (dolar) yang dikeruk/ diirampok oleh perekayasa khilafah ISIS ini dari SDA kedua negeri, bukan main besarnya. Kenyataan ini juga membawa kita ke kecurigaan apa sebenarnya tujuan di belakang semua ‘internasionalisme khilafah’ ini; duit atau kesucian agama?

Mari jaga dan awasi perpecahan, jaga dan awasi SDA.







Leave a Reply