Apakah Ahok dikalahkan karena agamanya? Tidak. Ahok dikalahkan karena dia terlalu fokus berfikir untuk rakyat. Kekuasaan memiliki sumberdaya yang sangat besar. Orang yang berdekatan dengan kekuasaan berharap mendapat tetesan sumberdaya itu.

Masalahnya, oleh Ahok hampir semua sumberdaya itu didistribusikan untuk rakyat. APBD dijaga, karena itu uang rakyat. Kebijakan diambil hanya yang menguntungkan rakyat.

Istilah yang sering kita dengar dari Ahok adalah tugas pemerintah sebenarnya untuk mengadministrasi keadilan sosial. Ini berarti pada rakyat yang paling bawahlah pemerintah harus berpihak.

Ahok berpolitik dengan adagium, jika kamu kerja baik dan jujur, rakyat pasti akan memberikan kepercayaan padamu.

Tapi kenyataannya tidak begitu. Justru dengan kerja baik dan jujur, banyak orang yang sakit hati. Siapa? Adalah mereka yang selama ini berfoya-foya dengan duit rakyat. Juga mereka yang menjual kebijakan untuk menguntungkan dirinya sendiri.

Sialnya, yang sakit hati ini, bukan kelas rakyat biasa. Mereka juga punya power, dana, dan jaringan. Merasa kesenangannya dirampas oleh Ahok, mereka mengerahkan seluruh energinya untuk melawan.

Gimana cara melawannya? Digunakan isu agama. Cuma itu satu-satunya cara untuk mengalahkan Ahok. Sebab, jika melawan dengan prestasi dan komitmen sungguhan kepada rakyat, mereka gak ada apa-apanya.




Dalam skala politik nasional, Ahok juga menimbulkan ketakutan. Sebab Ahok seperti membongkar borok kekuasaan selama ini. Ternyata bisa ya, seorang Gubernur mensejahterakan rakyatnya. Ternyata bisa ya, pemerintah daerah memiliki mental pelayanan yang baik. Ternyata bisa ya, APBD tidak jadi bancakan para politisi.

Coba bayangkan jika masyarakat seluruh daerah punya standar harapan yang tinggi seperti itu. Apa politisi dan kelompok-kelompok kepentingan gak puyeng?

Oleh sebab itulah Ahok harus ditebang. Jika dibiarkan, akarnya akan mengular ke mana-mana. Bisa-bisa para politisi gigit jari. Cuma makan gaji doang.

Bagi para bandit, mafia politik, birokrasi korup, ormas doyan duit, virus Ahok itu sangat berbahaya. Karena akan memotong semua kesenangan mereka.

Mungkin Indonesia butuh 100 tahun lagi melahirkan pejabat seperti Ahok. Bersih, jujur, pekerja keras dan detil. Atau jangan-jangan kita memang ditakdirkan tidak akan pernah memiliki pejabat dengan kualifikasi seperti itu.

Bagaimana dengan Jokowi? Keberanian dia memotong mafia migas dengan membubarkan Petral itu menyisakan sakit hati kelompok yang selama ini menari-nari bermandikan dolar. Begitupun mafia di berbagai sektor lainnya. Fokus dia membangun infra struktur membuat duit rakyat bermanfaat untuk rakyat.

Apakah semua rakyat suka? Semestinya begitu. Tapi pasti ada yang sakit hati. Mereka adalah yang gak kebagian lagi kue kekuasaan seperti sebelumnya.

Sialnya mereka ini punya duit bejibun. Hasil dari puluhan tahun merampok kekayaan negara. Jadi kalau cuma mengorder fatwa kafir mah, kecil.




Duit-duit itulah yang sekarang digunakan untuk menyebar berbagai isu. Fatwa bisa diorder. Mimbar agama bisa difasilitasi. Buzzer bisa dibayar. Lalu muncullah isu: Jokowi PKI-lah, antek asing-lah, tidak islamilah. Dana mereka digunakan juga untuk menggerakan masa.

Kepentingan para mafia itu bertemu dengan kelompok Islam radikal yang memang sejak orok sudah membenci Indonesia. Klop.

Mafia-mafia itu tidak peduli Indonesia hancur lebur, yang penting mereka untung. Sementara kelompok teroris agama itu sejak awal misinya memang ingin menghancurkan Indonesia.

Memang kamu fikir di tengah kehancuran Suriah tidak ada yang memetik untung? Memang kamu fikir diantara kematian anak-anak di Irak tidak ada yang joget-joget kegirangan?

Sayangnya publik di Indonesia perkembangan evolusinya tidak seragam. Ada yang lingkar otaknya sudah tumbuh maksimal. Ada juga yang proses evolusinya belum selesai.

Nah, kelompok terakhir inilah yang sering bikin repot. Otaknya kecil, suaranya nyaring.







1 COMMENT

  1. Analisa yang tepat dan aktual.
    Pencerahan, pencerahan, . . . bikin semakin banyak publik memihak adalah mungkin. Kalau ini tidak mungkin, semua akan gagal. Karena itu kuncinya ialah KEBERPIHAKAN rakyat, siapa yang memenangkan mayoritas.
    Sudah ada syarat utama memenangkan mayoritas itu, yaitu KETERBUKAAN dan INTERNET, yang memungkinkan partisipasi publik yang sangat besar sehingga keperpihakan terhadap kejujuran dan masa depan sudah mungkin. Tetapi harus ada KERJA KERAS dipihak pejuang-pejuang ini, termasuk memobilisasi kepandaian melawan kepandaian lawan. Diseberang sana sebagai gantinya pakai duit dan ketidak jujuran + kepandaian tertentu meraih dan mobilisasi massa (psikologi, memanfaatkan kontradiksi golongan dsb), dan masih bisa jalan.

    MUG

Leave a Reply