“Selama ini saya gak mau tahu soal politik. Saya gak terlalu peduli. Yang penting dagang, dagang, dagang. Cari duit,” ujar seorang perempuan yang duduk di samping kiriku.

Saya duduk melingkar bersama teman-keteman berdarah Tionghoa. Asli Makasar.

“Tapi sejak Pilpres Pak Jokowi, saya mulai baca berita politik. Apalagi ketika ada Pak Ahok, setiap hari saya mencari berita Pilkada Jakarta. Wawasan saya terbuka. Saya mulai memahami masalah yang kita hadapi,” dia bercerita dengan antuisas.

Kami duduk santai di sebuah kafe. Sebelumnya saya diajak sop konro bakar yang aromanya semlohai itu. Kami pindah lokasi untuk berbagi cerita.

Saat kami ngobrol, di Pantai Losari baru saja terjadi ribut-ribut. Para simpatisan Ahok menggelar acara doa bersama untuk NKRI. Tapi di sini, gudang FPI. Acara diprotes sesaat setelah menyanyikan Indonesia Raya. Hampir saja terjadi benturan. Bahkan Walikota turun langsung ke lapangan.

“Kadang saya merasa kelompok muslim sangat membenci kami, orang Cina ini,” rekan pria di depanku bicara.

“Kami minoritas bisa, apa?”

“Masih jauh lebih banyak yang tidak membenci. Percaya, deh,” kataku pendek.




“Mereka membenci kadang karena tidak punya banyak informasi tentang kita.”

“Maksudnya?”

“Bergaul dengan rekan yang berlatar belakang sama memang manusiawi. Misalnya orang Tionghoa bergaul cuma dengan warga Tionghoa. Orang Bugis cuma bergaul dengan Bugis. Muslim cuma bergaul dengan Muslim. Kristen cuma berkelompok dengan Kristen. Tapi sekarang Indonesia membutuhkan setiap warganya untuk saling membuka diri. Saling meruntuhkan kecurigaan masing-masing.”

Lalu kami mendiskusikan masyarakat yang sejak dulu dihinggapi sikap rasis.

“Sejak kecil saya sudah diposisikan sebagai Cina. Minoritas. Saya merasakan itu. Akhirnya terbentuk juga proteksi dalam diri saya dan takut berinteraksi dengan orang yang berbeda. Akhirnya masing-masing membangun benteng dalam dirinnya,” sambung teman lainnya.

“Anak saya saja sudah merasakan sebagai minoritas. Dia beranggapan semua mayoritas muslim membencinya.”

Saya fikir kenyataanya gak sampai seperti itu.

“Konsumen kamu sebagian besar muslim, kan?,” kataku.

Saya bertanya kepada rekan yang berbisnis memiliki beberapa outlet pakaian di Palopo.

“Iya yang laku malah busana muslimah.”

“Nah, kan. Ternyata gak ada masalah. Jika semua mayoritas memendam kebencian pada etnis Tionghoa, mana mungkin dagangan kamu laku.”




“Tapi orang-orang yang demonstrasi itu selalu teriak anti Cina. Meskipun Cina itu nama negara lain dan saya adalah orang Indonesia berdarah Tionghoa, saya tahu teriakan itu ditujukan ke kami.”

“Bukan cuma kamu yang terganggu dengan teriakan seperti itu. Saya dan banyak orang lainnya juga terganggu. Sikap rasis itu mengganggu semuanya.”

Jika diamati sebetulnya yang berteriak itu cuma sedikit. Tetapi suaranya memang cempreng. Mirip knalpot motor yang dipotong. Akibatnya suaranya mengganggu semua orang.

“Jadi,” saya melanjutnya, mirip orang yang sudah bener aja.

“Kita semua harus merobohkan tembok kecurigaan. Teman-teman Tionghoa harus membuka diri berbaur dengan rekan lainnya. Yang Kristen harus sering berkomunikasi dengan Muslim. Yang Muslim harus membuka wawasannya dan hatinya, bahwa perbedaan itu adalah rahmat.”

“Iya, setuju. Jadi perbedaan itu rahmat, ya?,” mereka bertanya.

“Yups, perbedaan ituu Rahmat! Bukan Bambang,” jawabku.

Saya melihat wajah Bambang Kusnadi melengos…







Leave a Reply