NGGUNTUR PURBA & JONATHAN SITEPU. BERASTAGI. Setelah sehari sebelumnya warga Suku Karo menyalan ribuan lilin di depan Makam Pahlan Kabanjahe, kemarin malam [Sabtu 14/5] warga Suku Karo melakukan penyulutan lilin lagi di Berastagi.

Antara Kabanjahe dengan Berastagi hanya berjarak 15 kilometer. Tapi, warga Suku Karo tampaknya masih ingin mengadakan acara yang sama di Berastagi.

Masing-masing dari kedua kota ini ada uniknya sehingga serasa belum lengkap bila tidak melaksanakannya di keduanya. Kabanjahe adalah ibukota Kabupaten Karo dan sekaligus lokasi satu diantara hanya dua makam pahlawan di Indonesia. Satu lainnya terdapat di Surabaya terkait banyaknya korban dalam perisitiwa 10 November. Sedangkan Makam Pahlawan Kabanjahe terkait banyak para pejuang yang tergilas panser-panser tentara Belanda di Bertah saat Agresi Militer Belanda setelah warga Suku Karo menolak masuk Negara Sumatera Timur.

Saat itu, warga Suku Karo membakar rumah-rumahnya dan mengungsi ke hutan-hutan hingga berada di Tanah Alas (Aceh Tenggara), wilayah yang masih berada di bawah pengawasan NKRI pimpinan Soekarno – Hatta.




Berastagi, selain sebagai kota wisata terpenting di Sumatera Utara dan paling dekat ke Medan, di kota inilah Soekarno bersama orang-orang terdekatnya pernah diungsikan. Kebetulan pula kemarin adalah Malam Minggu sehingga, seperti biasanya, banyak wisatawan domestik berkunjung ke Berastagi dan menginap di hotel-hotel atau losmen-losmen di sana.

Seperti acara yang sama sehari sebelumnya di Kabanjahe, acara di Berastagi ini diikuti oleh ribuan orang. Sebagian besar adalah warga Suku Karo yang tinggal di Berastagi dan Kabanjahe serta berbagai desa di Kabupaten Kato. Namun, Sora Sirulo melihat banyak wisatawan dari Medan yang menggabungkan diri.

Awalnya acara ini diadakan di Tugu Perjuangan 45 yang sekaligus menjadi icon kota ini. Akan tetapi, karena lalu lintas menjadi macet lokasi acara kemudian dialihkan ke Open Stage, Berastagi, dekat Pasar Buah. Di arena pertunjukan ini ada lapangan luas dan di situ juga ada patung Pahlawan Nasional Jamin Ginting yang mempin pengungsian dari Medan melintasi Tanah Karo hingga Tanah Alas. Tak heran bila di Tanjung Selamat Medan kita dapat Markas TNI Asam Kumbang dan di Kutacane (Aceh Tenggara) markas TNI yang juga bernama Asam Kumbang. Ya, karena Jamin Ginting yang kemudian bermarkas di Kutacane.

Dari sanalah kemudian penyerangan-penyerangan terhadap Belanda dikomandoi ditambah kekuatan para laskar (pemuda) yang bersembunyi di hutan-hutan pegunungan Dataran Tinggi Karo. Dari sana pulalah dengan berjalan kaki perlahan TNI dan para laskar merebut Medan sebagaimana terekam dalam lagu Erkata Bedil i Kota Medan, o arih turang.

“Kejujuran dan keberanian yang tak kenal takut adalah kepribadian Suku Karo dan kami ingin tetap begitu. Kepribadian seperti itu ada pada Ahok. Karena itu kami merasa Ahok adalah kami,” demikian seorang ibu dari clan (merga) Karo-karo berkata kepada reporter Sora Sirulo sambil melayang-layangkan lilnnya ke udara dengan tangan kanan.








Leave a Reply