Oleh: Mary Fitra Sinulingga

Wartawan Sora Sirulo dan sekaligus sebagai pramuwisata Sumut

Penulis (kiri) bersama wistawan Eropah makan dengna menggunakan daun pisang sebagai piring.

Karo adalah salah satu suku di Nusantara, tepatnya di Sumatera Utara. Suku yang berdiri sendiri ini (bukan bagian dari suku lain yang manapun juga) kaya akan ragam tradisi serta keunikan budayanya. Inilah yang kemudian menjadi sebuah magnet kuat bagi setiap orang yang melihatnya.

Beberapa kekayaan dan keunikan tradisi itu, diantaranya terlihat dari rumah adatnya. Rumah Adat Suku Karo populer dengan sebutan Rumah Siwaluh Jabu (rumah 8 keluarga) meskipun ada Rumah Siempat Jabu (rumah 4 keluarga), Rumah Sienem Jabu (rumah 6 keluarga), Rumah Sepuludua Jabu (rumah 12 keluarga) yang disebut juga Rumah Telu Ruang (rumah 3 ruang), Rumah Sepuluenem Jabu (rumah 16 keluarga) dan Rumah Duapuluempat Jabu (rumah 24 keluarga) yang disebut juga Rumah Rontang Taduken.




Dalam penempatan posisi serta siapa-siapa saja yang berhak mendiamnya, semuanya juga diatur oleh aturan adat yang berlaku. Sehingga, tidaklah mengherankan jika pemerintah kemudian menetapkan Rumah Adat Suku Karo sebagi salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia [Jakarta, 12 Desember 2013].

Selain pada rumah adatnya, Suku Karo yang mendiami kawasan Bukit Barisan hingga Pesisir Pantai Timur Sumatera bagian Utara ini juga terkenal dengan kulinernya yang enak dan juga unik.

Sebagai pramuwisata, saya selalu berusaha memperkenalkan Karo dengan budaya dan tradisinya kepada setiap turis yang saya dampingi. Tentunya sajian informasi lengkap, juga menyajikan paket makan ala tradisi Suku Karo. Salah satu kegiatan yang sudah sering saya buat, adalah cara membuat cincang (dari bermacam-macam dedaunnan dan bumbu khas daerah Karo) dan cimpa (kue khas Karo).

Dalam sajian kuliner Karo, selain suka dengan menunya, juga paling berkesan bagi para tamu adalah keikutsertaan mereka dalam proses pembuatannya. Mereka juga sangat respon dengan adat tradisi aron (gotong royong) dalam Suku Karo untuk menyelesaikan satu pekerjaan berat maupun ringan. Bagi para turis, kegiatan seperti ini menjadi sebuah hal yang menyenangkan serta memberi kesan kebersamaan yang mendalam.

Selain juga menikmati kuliner, serta belajar dan turut dalam pembuatannya, para turis juga merasa tertarik dan berkesan dengan penyajian, yakni makan dalam satu wadah bersama di atas wadah daun pisang. Tak jarang mereka katakana: “Ini adalah pengalaman pertama saya makan tanpa sendok dan makan bersama dalam satu wadah daun pisang.”




Sebagian besar para pengunjung adalah orang asing. Mereka memiliki antusias yang sangat tinggi belajar membuat menu makanan khas Karo ini. Namun, perlu juga diingat, jangan sampai generasi kita nantinya kalah dengan mereka, mengingat gencarnya serbuhan budaya asing dan kini tampak cukup kuat mempengaruhi kehidupan bangsa ini, khususnya lagi di masyarakat Karo. Maka, inilah tugas dan hutang kita kepada anak cucu. Jangan sampai hilang tradisi ini di kampung sendiri .

Dan yang paling utama adalah nilai gotongroyong, warisan nenek moyang kita! Mari kita jaga bersama.






Leave a Reply