‘Pendukung Ahok’ mengatakan era SBY lebih baik dari era Jokowi’ . . . he he siapa yang bisa membuktikan kalau orang ini ‘pendukung Ahok’ atau pendukung SBY, atau pendukung siapa saja. Ketika demo buruh 1 Mei sebagian buruh itu bakar bunga Ahok, jadi anti Ahok, mewakili buruh atau mewakili siapa? Kepala buruhnya sudah minta maaf ke publik. Bisa ditafsirkan dia ini bukan orang yang menyetujui pembakaran bunga.

Pendemo Veronica berstatus ‘pendukung Ahok’, siapa tahu? Yang jelas dia bukan pendukung kedamaian sesama anak bangsa ini. Dia hanya menambah keributan yang sudah ribut.

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Agus Hermanto merasa senang mendengar ucapan Veronica Koman Liau itu karena membandingkan SBY lebih baik dari Jokowi. Sah-sah saja juga, orang senang dengan suatu pertunjukan tidak ada salahnya. Bagi dia ini hiburan ‘luar biasa’ (politik). Semua juga cari hiburan, yang lain bikin tumpeng merayakan Ahok dipenjarakan. Ini juga sah sah saja, walaupun tidak etis atau tidak bermoral, dilihat dari segi mana sajapun, karena malapetaka orang lain dipestakan jadi pesta tumpeng kegembiraan, sangat menyolok dalam pandangan orang banyak terutama penduduk negeri ini yang masih kental dengan adat Timurnya, dibedakan dengan orang Barat.

Tetapi, orang Baratpun belum pernah kedapatan buat pesta kontraversial seperti ini. Biarpun orang Barat dituduh lebih ‘tidak berperasaan’ oleh orang Timur. Karena itu, dibela dengan alasan apapun pesta tumpeng penjara Ahok ini tidak akan bisa mengubah hilangnya etis Timur dari situ. Dibela dengan alasan apapun jelas tidak etis. Apalagi kalau dibela mati-matian pula, lebih tidak etis lagi.




Walaupun orang Barat ‘lebih tidak berperasaan’ dari orang Timur seperti sudah lazim kita dengar, tetapi di Barat kalau minta maaf biasanya persoalan sudah selesai. Orang Timur pertama sungkan minta maaf, dan ke dua, belum tentu juga dimaafkan. Malah bikin ‘pesta tumpeng’ merayakan malapetaka Ahok itu. Contoh lain lagi ialah, berapa kali Ahok sudah minta maaf, tetapi tetap saja demo besar-besaran. Itu tandanya permintaan maafnya tidak digubris, malah dipenjarakan dan bikin ‘pesta tumpeng’ pula.

Banyak dari pihak hukum menilai hakim pemutus perkara Ahok ‘profesional’ dan sudah adil seadil-adilnya. Tetapi tetap saja menuai debat dan argumentasi tak berkesudahan. Tetapi menarik. Menariknya dari segi pandangan saya ialah PUBLIK tambah dicerahkan dalam soal Ahok, soal keadilan dan ketidakadilan yang ditimpakan kepadanya sebagai seorang warga negara dari suku dan agama ‘lain’. Ini yang bikin perkara ini juga jadi mendunia.

Dibandingkan misalnya dengan AS dimana hakim supaya tidak dipengaruhi oleh opini umum, di’kurung’ dari dunia luar supaya tidak terpengaruh nantinya buat putusan. Di Indonesia tidak seketat itu, karena itu juga meragukan kalau dibilang hakim 100% independent tanpa pengaruh atau tekanan dari luar. Para hakim Ahok tiap hari melihat bagaimana tekanan itu dari massa banyak yang memang sengaja dikerahkan untuk mempengaruh atau menuntut hukuman ‘setimpal’.

Diskusi, debat maupun dialog yang sudah sering soal Ahok memang sudah banyak sekali atau bisa dikatakan tak ternilai pengaruh positifnya bagi peningkatan pengetahuan dan kesadaran publik negeri ini, bahkan termasuk juga dari segi hukum. Pasal 156 atau 156a, kelainan tuntutan jaksa dan putusan hakim dan beda pasal itu, publik jadi tambah pengertian, dan sudah jadi pendirian umum bahwa pasal-pasal itu sudah begitu tidak mencerminkan jaman dan patut diganti, supaya bisa menghindari korban-korban selanjutnya.

Terpenting ialah supaya tidak bisa digunakan oleh kekuatan luar untuk mengadu domba bangsa ini.

Walaupun politik adu domba dari luar akan terus ada selama perekayasa ‘divide and conquer internasional’ (neolib) masih kuat. Tetapi ujian kali ini telah menambah banyak pengetahuan kita dari banyak segi. Pecah belah NKRI tidak mungkin diatasi tanpa PENGETAHUAN.

Foto header: Depari Angle








Leave a Reply