NUAH TARIGAN. BANDUNG. Dalam rangka peringatan ulang tahun Gereja Injili Karo Indonesia (GIKI) Jemaat Cimahi yang ke-12, maka GIKI Cimahi mengadakan Seminar Keluarga Kristen dan Seminar Budaya Karo sebagai kontribusi gereja kepada masyarakat Kristen di Bandung – Cimahi sekitarnya dan sebagai upaya memperkenalkan budaya Karo kepada generasi muda gereja.

Seminar ini diadakan di Blessing Room, BTC Fashion Mall, Bandung [Sabtu 13/5]. Peserta yang hadir berjumlah 200 orang dewasa dan 50 orang anak-anak. Para peserta berasal dari berbagai gereja yang ada di Bandung dan Cimahi dengan status sebagai guru sekolah minggu, guru sekolah Kristen, orangtua muda, dan para hamba Tuhan.

Kegiatan seminar dibagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama yang dimulai pada pukul 09.00 – 12.00 adalah Seminar Keluarga Kristen dengan tema Mempersiapkan Generasi Unggul dengan tiga pembicara, Brigjen Yosua Pandit Sembiring, Pdt. Edi Suranta Ginting, M.Th., dan Dr. dr. Veranita Pandia, Sp.K.J. (K), M.Kes.

Pada bagian pertama, Yosua Pandit Sembiring menyampaikan pentingnya mempersiapkan generasi Kristen yang unggul. Lembaga yang sangat berperan penting ialah keluarga. Oleh karena itu, setiap keluarga Kristen harus membina anak-anak menjadi rajin, jujur, dan tidak mudah menyerah. Pak Yosua sendiri menyaksikan bahwa keberhasilan kariernya di militer adalah buah perjuangan orangtuanya dan anugrah Tuhan Yesus. Oleh karena itu, dengan semangat beliau mendorong supaya orang Kristen tidak mencari gampang dalam mencapai sesuatu.




Yosua Pandit Sembiring yang saat ini memegang jabatan Kasdam III Siliwangi membuka diri untuk berdiskusi tentang berbagai hal yang dapat membantu warga Kristen di Bandung untuk lebih maju dan berhasil.

Kapan saja, sepanjang saya berada di rumah, silakan datang. Kita bisa berdiskusi tentang apa saja yang berguna untuk maju. Apa yang dapat saya tolong saya tolong, ajaknya kepada semua peserta.

Sebelum Yosua Pandit Sembiring meninggalkan tempat acara, pengurus gereja dan panitia menyelempangkan beka buluh dan memasangkan dasi bercorak beka buluh yang biasa dipakai kaum bapa ke Bapak Yosua.

Pembicara kedua, Pdt. Edi Suranta Ginting menyampaikan kajian alkitabiah atas tema Mempersiapkan Generasi Unggul. Pembicara menunjukkan dari Alkitab bahwa Allah sudah menganugrahkan potensi atau kemampuan kepada manusia untuk menjadi unggul. Yang dimaksudkan menjadi unggul ialah berguna bagi Kerajaan Tuhan dan berguna bagi sesama. Anak-anak harus diperkenalkan kepada Kristus dan dimotivasi untuk taat kepada Kristus.

Menurut Pdt. Ginting, tiga aspek yang perlu dibina untuk melahirkan generasi unggul ialah aspek iman, spiritual, sikap dan perilaku, serta pengetahuan dan keterampilan. Setiap keluarga diingatkan bahwa berdasarkan ajaran kitab suci, anak adalah asset dan investasi utama bagi orangtua. Anak adalah ibarat anak panah yang dilepaskan ke arah tertentu. Menjadi apa seorang anak adalah tanggung jawab orangtua. Pada waktunya nanti, Tuhan Allah akan meminta tanggung jawab orangtua atas apa yang mereka lakukan kepada anak-anak mereka.

Sesi ketiga adalah tinjauan psikologi dalam mempersiapkan generasi unggul denga pembicara Dr. dr. Veranita Pandia, Sp.K.J. (K), M.Kes. Belia (dr. Veranita-red) menjelaskan adanya beragam kecerdasan yang dapat digali dari seorang anak. Sikap yang menempatkan kecerdasan akademik sebagai kecerdasan satu-satunya dan yang terpenting adalah sikap dan pandangan yang keliru. Setiap orangtua perlu menggali kecerdasan yang paling menonjol dari seorang anak dan mengembangkannya.

Secara panjang lebar, pembicara menjelaskan Life Skills yang sudah dirumuskan oleh WHO. Ada 10 Life Skills yang perlu dimiliki oleh seorang anak, sehingga seorang anak dapat menjadi anak yang unggul.

Acara seminar keluarga ini berakhir pada pukul 12.30 wib dengan makan bersama semua peserta, dan nantinya akan dilanjutkan dengan acara Seminar Budaya Karo.

Acara Seminar Budaya Karo dengan tema Aku Kalak Karo dimulai pada pukul 14.00 wib. Acara ini dibagi ke dalam dua bagian, yaitu empat seminar pendek dan acara landek (menari). Empat seminar pendek ialah belajar turi-turin asal-usul merga, belajar sejarah Karo dalam bentuk tayangan video, belajar mengenal berbagai uis Karo, dan belajar ertutur yang diperagakan oleh Bp. Devi Ginting dan Bp. Fira Purba.

Seminar pendek ini diselingi dengan acara landek dari semua merga Karo. Yang lebih menyita perhatian ialah semua anak-anak kecil yang ikut menari. Jumlah mereka yang menari lebih 30 orang. Tingkah mereka ketika menari membuat banyak orangtua tersenyum. Untuk menambah gembira anak-anak tersebut, maka orangtua diminta untuk memberikan cokong-cokong. Hal yang sama dilakukan juga kepada anak-anak remaja yang menari.

Acara ini berakhir pada pukul 20.00 Wib dengan acara makan bersama. Yang menarik untuk dicatat ialah bahwa semua acara ini gratis. Makan siang dan makan malam, snack sore, teh botol, serifikat, dan bahkan subsidi parkir disiapkan oleh panitia.










Leave a Reply