JUARA R. GINTING. LONDON. Berbeda sekali dengan kunjungan-kunjungan Presiden RI (Jokowidodo) ke luar negeri yang biasanya disambut warga Indonesia yang tinggal di negara itu dengan sangat antusias. Begtu juga ketika Gubernur DKI Jakarta (Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok) mengunjungi Belanda atas undangan Walikota Rotterdam (Ahmed Aboutaleb) yang merupakan salah seorang tokoh muslim yang sangat disegani di seantero bumi, baik oleh muslim maupun non muslim. Rasa cinta dan rindu kampung halaman sangat terasa di dalam sambutan warga Indonesia di Belanda terhadap Ahok saat itu.

Kunjungan Wakil Presiden RI (Jusuf Kalla) (JK) ke Inggris atas undangan Oxford Centre for Islamic Studies sepi dari sambutan rindu itu kemarin [Kamis 18/5]. Parahnya lagi, sekelompok orang-orang Indonesia yang tinggal di sekitar Oxford malah mendemo JK dengan poster-poster dan seruan-seruan agar seorang pemimpin seperti JK tidak membawa bangsa dan negara kita, Republik Indonesia, menjadi semakin intoleran.

Kalahnya Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta baru lalu dan diikuti kemudian dengan divonisnya dia 2 tahun kurungan penjara dianggap oleh para demonstran sebagai akibat intoleransi yang sengaja disulut oleh para politisi demi kekuasaan. JK dituding sebagai salah seorang tokoh di balik meningkatnya rasa intoleransi agama ini.

Itu pulalah sebabnya Asosiasi Kristen asal Pakistan yang tinggal di Inggris ikut mendukung demonstrasi ini. Mereka juga mengangkat poster-poster bertiang untuk dibaca oleh JK saat melintas memasuki gedung.




Tuntutan para demonstan tidaklah ditujukan ke JK semata, tapi lebih mengarah kepada kekecewaan terhadap situasi sosial dan politik di Indonesia saat ini, khususnya pembiaran-pembiaran terhadap perilaku-perilaku intoleran para politikus. Untuk JK, adalah komentar-komentarnya yang bernada sinis terhadap non muslim. Misalnya, seperti yang beredar di media massa konvensional maupun media sosial, bahwa muslim akan masuk surga meski melakukan korupsi. Pernyataan seperti ini ditanggapi oleh orang-orang di media sosial bukan sebagai penjelasan tentang Islam kepada publik, tapi sebuah pembelaan terhadap koruptor.

Sayangnya, mobil JK yang berwarna hitam dan tertutup kaca gelap langsung saja memasuki gedung tempatnya ceramah tanpa menyapa sepatah katapun para demonstran yang umumnya masih bewarganegara Indonesia itu.

Mengenai JK yang tidak melirik sedikit pun ke arah mereka konon pula menyapa, koordinator demo (Mariella Djorgi) mengatakan, pendemo memang tidak mengharapkan JK membaca poster-poster mereka ataupun menghampiri pendemo untuk berdiskusi.

“Wong dia kan belong to the old generation yang doyan bergaya keraton. He is not an Ahok or Jokowi yang memang men of the people, ndeso dan mudah diajak bicara. Tercermin dari bagaimana dia menjawab pertanyaan-pertanyaan terhadap ceramahnya,” tutur Mariella kepada Sora Sirulo.

Masih tentang sikap JK ini, Mariella melanjutkan, dirinya masih menunggu laporan tertulis dari orang-orang menghadiri ceramah JK. Katanya, dia sudah mendengar sebagian dari mereka yang hadir dalam ceramah JK.

“JK bukan bukan orang yang terbiasa menghadapi rigorous debate. Pengetahuannya tentang sejarah masuknya Islam ke Indonesia sangat dangkal. Lebih mengarah ke propaganda daripada membawa Wawasan Nusantara,” katanya mulai dengan suara parau terasa darahnya mendidih.

CATATAN REDAKSI: Sora Sirulo akan menampilkan beberapa berita lagi terkait dengan demo ini.









Leave a Reply