Semua sudah tahu, Wong Solo itu karakteristiknya lebih halus. Lebih lembah manah dan cenderung lembut. Namun, apakah Wong Solo yang lemah lembut sanggup untuk menggebuk?

Gebukan ala Solo tentu beda dengan gebukan ala saudaraku yang dari makasar atau Sumatera Utara. Bahkan beda sekali gebukan ala Surabaya yang DHAS DHES cepat kilat dan selesai. Di Solo beda!!

Gebukan Solo seperti melihat Tarian Bedoyo atau Tarian Srimpi. Penonton akan menikmati gebukan tarian itu dalam Ritme dan Irama yang setiap detik akan menghela nafas, akan terbuai oleh daya magis hingga para penonton akhirnya terlena dan berakhir akan menghempaskan sukma. Akan jatuh dalam buaian irama gending yang menyatu dengan para penarinya.

Sejak Awal, Wong Solo yang sekarang RI 1 dengan cara cerdas telah MENANG TANPO NGASORAKE. Telah menang tapi lawan tidak merasa kalah. Alhasil politikus yang sudah kebelet ingin berkuasa harus mikir-mikir jika ingin makar. Ingin menggulingkan Wong Solo yang plonga plongo ini.




Jika diperhatikan dengan seksama, Wong Solo ini sejak awal “berteman baik” baik dengan TNI Polri. Meski secara hierarki, TNI dan Polri di bawah presiden, Wong Solo ini malah menganggap sahabat, teman karib serta keluarga besar secara kenegaraan dan emosi. Itu bisa dilihat dengan kasat mata, Wong Solo ini begitu runtang runtung dan terjalin keakraban yang harmonis. Jika sudah akrab dengan TNI Polri, siapa sih akan berani mendekat untuk bawa pentungan? Mendekat saja akan gemetar!

Langkah ciamik sudah clear.

Wong Solo ini juga tahu, banyak orang yang ingin merebut kekuasaan dengan sah atau tidak sah, maka alunan gendang itu dibiarkan agak dengan tempo tinggi. Bahkan Wong Solo ini juga tidak mau cawe-cawe dalam Pilkada DKI, meskipun jika mau, niscaya Ahok akan terpilih ataupun lolos dari jeratan hukum.

Wong Solo ini tidak mau beresiko tinggi dengan yang dipertaruhkan negara. Karena beliau tahu, AHOK hanyalah PERANTARA. Tujuan utama adalah RI 1. Jika RI 1 terguling dan dilengserkan, tentu RI 2 yang sudah kebelet akan duduk.

Gending makin ditabuh semakin rampak. Geliat penari telah membuat mereka-mereka yang sudah kebelet batang hidungnya semakin nampak. Mana KONCO SEJATIKU, mana konco yang mau NYRIMPETI.

Jika kemarin Pak JK mewakili Indonesia di Oxford University untuk berbicara Islam moderat, lalu ujug-ujug muncul berita potongan koran sekitar tahun 1967 dan muncul nama Pak JK dalam kemelut di Makasar, saya rasa Wong Solo sudah masam-mesem sambil bathin: “Itulah sebenernya sampeyan, Pak JK.”

Buuuggg….. Itu adalah pukulan telak dan lebih dahsyat daripada upper cut Muh. ALIII…..








Leave a Reply