EMMY F. PURBA. KABANJAHE. Malam ini [Sabtu 20/5] akan berlangsung sebuah konser damai yang sekligus penyalaan sejuta lilin dan 100 obor bambu untuk NKRI, bertempat di Makam Pahlawan Kabanjahe (Dataran Tinggi Karo) (Karo Gugung).

Sebagaimana dipaparkan oleh Lloyd Renold Ginting yang merupakan salah seorang diantara beberapa pemrakarsa kepada Sora Sirulo, acara ini akan dimulai pada Pukul 10.00 Wib.

“Lilin bawa sendiri dan disarankan membawa alasnya sekalian. Bagi yang bersedia membawa obor, mohon konfirmas karena kita hanya butuh 100 obor. Bagi seniman-seniman Karo sangat diharapkan parisipasinya dalam membacakan puisi, penampilan musik tradisional Karo, tarian dan lain sebagainya,” demikian disampaikan oleh para pemrakarsa.

Para pemrakarsa juga menambahkan untuk kesediaan para pemilik drone mengoperasikan drone-nya saat acara dilangsungkan. Adapun para peserta dianjurkan mengenakan pakaian merah atau putih aga di lapangan terlihat merah putih.

“Salam NKRI, tegakkan keadilan,” demikian seru para pemrakarsa.

Memang Suku Karo sedari dulu terkenal atas nasionalismenya walau tetap juga mempertahankan tradisi sukunya yang Karo bukan bagian dari suku manapun juga. Nasionalisme Suku Karo yang teguh nilah yang membuat Negara Sumatra Timur (NST) bentukan Belanda yang didukung oleh para sultan dan bangsawan lainnya harus takluk kepada NKRI di bawah pimpinan Sukarno-Hatt.




Para laskar Karo membakari kampung-kampung dan mendesak warga untuk meninggalkan Taneh Karo Simalem (Tanah Karo yang sejuk) mengungsi ke tapal batas di Tanah Alas (Aceh Tenggara). Kampung-kampung Karo yang terbakar mulai dari bagian hulu Kota Medan menyebar ke Deli Hulu, Langkat Hulu, dan Kabupaten Karo.

Hanya beberapa kampung tradisional yang tersisa luput dari pembakaran. Banyak tubuh bergelimpangan di Makam Pahlawan Kabanjahe (Hanya Surabaya dan Kabanjahe yang memiliki Makam Pahlawan, selebihnya Taman Makam Pahlawan atau Taman Pahlawan).






Leave a Reply