Hari ini beranda saya dipenuhi gerakan 7 juta status yang menuliskan bahwa mereka percaya kepada Rizieq Shihab. Disampaikan dengan tambahan, silakan copy status ini lalu sebarkan. Gerakan itu sendiri lucu — percaya kok, harus dikoordinir?

Terus sampai 7 juta orang gitu? Mbuh. Siapa juga yang mau repot-repot menghitung?

Sebetulnya orang mau percaya atau tidak pada orang lain itu urusan dia sendiri. Jika mereka percaya Batman bisa pipis di urinoir selagi bertugas –padahal pada kostumnya tidak terdapat resleting– itu hak dia. Silakan saja. Kalau saya lebih meyakini kostum Batman sudah memperhitungkan posisi diapers. Menurut saya lebih masuk akal.

Begitupun pada Rizieq. Kalau mereka percaya bahwa Rizieq tidak terlibat chat esek-esek dengan Firza, itu hak setiap orang. Silakan saja pegang kepercayaan itu. Gak perlu repot.

Tapi hukum tidak didasarkan pada anggapan orang. Hukum tidak berpegang pada seberapa banyak orang yang memasang status percaya pada Rizieq. Di mata hukum, kepercayaan bahwa seseorang itu bersih atau jahat, perlu pembuktian.

Nah, logikanya sekarang jadi aneh. Rizieq-nya sendiri kabur, tidak berani membuktikan bahwa dirinya tidak trlibat dalam kasus chat mesum itu. Lantas orang-orang itu mau percaya bedasarkan apa?

Oh, kalau soal percaya pada Rizieq tidak perlu ada pembuktian segala. Percaya, ya percaya saja. Titik.




Tapi polisi sudah menjadikan Firza sebagai tersangka, lho? Untuk sampai pada status tersangka minimal harus ada dua alat bukti. “Ah, itu rekayasa,” kata mereka. Ada aplikasi yang bisa merekayasa seolah orang ngobrol dengan orang lain.

Jika itu benar rekayasa, kenapa tidak dibuktikan hingga nama Rizieq bersih dari tudingan chat mesum. Kan dalam pemeriksaan dan persidangan bisa didatangkan ahli IT untuk membuktikan rekayasa itu. Ada segudang ahli yang bisa diminta bantuan jika kasus ini memang didasarkan fitnah. Ingat jaman sudah maju, gampang kok membuktikannya.

“Rekayasanya terlalu canggih, hingga susah membuktikan itu sebagai rekayasa.”

“Jadi mirip seperti obrolan chat beneran?”

“Iya, mirip sekali.”

“Mungkin saja itu memang chat beneran. Sebab begitu miripnya.”

“Tidak mungkin.”

“Kenapa tidak mungkin?”

“Karena saya percaya pada Habieb.”

Ok, itu gak masalah. Ada mahluk yang percaya bahwa bumi itu datar, sehingga dia meyakini jika dia berjalan terus ke ujung dunia, di satu titik nanti dia akan kecemplung. Plung!

Meski ilmu pengetahuan dan rasionalitas membuktikan bahwa bumi ini berbentuk bulat, tapi siapa yang bisa mengubah kepercayaan orang?

Makna percaya, di sini, akhirnya seperti sesuatu yang sudah given, tidak bisa diganggu gugat dengan pembuktian apapun. Bahkan cenderung curiga dengan proses pembuktian itu sendiri.

“Ok, jika ada 7 juta orang yang begitu percaya Rizieq tidak terlibat chat mesum, kenapa dia kabur?”

“Sebab lebih banyak orang lain yang tidak percaya.”

“Bagaimana agar semua orang bisa percaya padanya?”

“Ya, perlu dibuktikan kebenarannya…”

“Lho, kenapa dia tidak mau membuktikan itu? Dengan dibuktikan bahwa dia bersih, bukankah akan membuat orang yang tidak percaya padanya akhirnya jadi percaya?”

“Iya, jika hasilnya bersih. Kalau ternyata dia terbukti bersalah, gimana?” Setelah jawaban terakhir itu, teman saya diam sebentar. Dia mengambil segelas air putih, menenggaknya sampai habis.

Lalu dia berjalan ke pojokan. Membuka pintu lemari es: Pipis…








Leave a Reply