Sebagai pejabat pemerintahan apalagi presiden atau wakil presiden patutnya tidak memihak atau mengidolkan satu calon tertentu dalam Pilkada. Terutama Pilkada Gubernur DKI Jakarta memang teristimewa menariknya bagi perpolitikan Indonesia, karena pertama Jakarta banyak duitnya dan, ke dua, terlihat belakangan bisa jadi permadani lembut untuk maju ke kursi RI 1 seperti pengalaman Jokowi. Jadi, keberpihakan JK (Jusuf Kalla) dalam Pilgub kemarin jelas tidak menggambarkan seorang negarawan yang patut jadi panutan.

Berlainan dengan sikap Presiden Jokowi yang sepenuhnya tidak mencampuri Pilgub maupun pengadilan Ahok. Jokowi bersikap seorang negarawan.

Dalam kunjungannya ke Inggris Oxford, JK mengaku sebagai perwakilan Islam moderat. Intelektual Universitas Oxford bisa saja mempercayai JK Islam moderat, tetapi di Indonesia sudah terkenal siapa JK dalam sikap-sikapnya terakhir dalam persoalan tindakan kaum Islam radikal di Indonesia.




“Sebagaimana diberitakan sebelumnya, JK datang ke Oxford atas undangan Oxford Centre for Islamic Studies untuk menyampaikan ceramahnya mengenai Moderate Islam: The Indonesian Experience [Kamis 18/5]. Sekelompok orang-oang Indonesia yang tinggal di Oxford mengadakan hunjuk rasa karena keberatan JK mengaku sebagai Islam moderate padahal dia dituding berada di balik meningkatnya radikalisme di Indonesia,” sebagaimana diberitakan oleh Sora Sirulo

JK di Oxford berusaha meyakinkan Barat bahwa hukuman 2 tahun penjara atas Ahok yang katanya menghina agama adalah putusan yang bisa diterima di Indonesia sesuai dengan hukum yang ada.

“Sama halnya kalau orang Inggris bersalah juga dihukum,” katanya.

Religion has become en instrument to cheat people,” kata pemimpin religius Dalai Lama.

Ahok bilang di Pulau Pramuka kalau ayat 51 Almaidah dipakai untuk menipu orang (supaya tidak memilih dia di Pilgub Jakarta). Religion atau ayat 51 kan sama saja, menyatakan agama. Artinya, baik Dalai Lama maupun Ahok tidak bisa dikatakan menghina atau menodai agama. Sebaliknya keduanya Ahok dan Dalai Lama dengan tegas mengeritik orang-orang yang pakai agama untuk menipu orang lain. Itulah hal yang sebenarnya terjadi.

Ucapan Ahok yang disebut ‘keseleo lidah’ di Pulau Pramuka malah dimanfaatkan memobilisasi massa dalam demo 411, 212 untuk usaha makar, dimana beberapa ditangkap sebagai tersangka. Sebagian dari kaum radikal ini malah merasa diuntungkan oleh ‘keseleo lidah’ Ahok menurut laporan ‘makar Almaidah’ Allan Nairn, dan menganjurkan kepada semua orang-orangnya bahwa mereka tetap ‘sakit hati’ karena ucapan Ahok.

Dan, dalam Pilgub Jakarta, JK sangat banyak berperan memihak lawan Ahok untuk menyisihkannya dari kemungkinan jadi gubernur Jakarta. Di situlah ketidaknegarawan JK sebagai Wakil Presiden RI.

Foto header: Sebagian dari para pendemo JK di Universitas Oxford yang masih bertahan karena hujan (sebagian lainnya telah keburu pulang ketika rombongan JK meninggalkan Universitas Oxford.








Leave a Reply