Oleh: Meisinta Ayu Teresia

 

Buru-buru aku membuat sketsa rumah Nina ke dalam otakku saat mulai menaiki tangga depan. Rumah yang cukup besar, namun hanya terdiri dari  tiga ruang tanpa pintu. Ini bahkan lebih cocok dikatakan labirin sederhana. Satu kamar tidur, dapur, dan ruang paling luas adalah ruang tamu tanpa kursi. Ruang tamu Nina berwarna abu dengan tirai di setiap sisi. Ruang tamu itu bahkan lebih cocok lagi dikatakan pentas tiruan.

Nina mengajakku melihat kamarnya. Aku terkesima saat mendapati kamar tidur yang dindingnya dipenuhi dengan kumpulan foto Balerina yang anggun. Tidak ada satupun foto milik Nina yang terpajang. Aku mengerutkan dahi, bingung, bertanya dalam hati. Ingin sekali aku tanyakan itu langsung kepadanya, tapi aku ragu.

Kuberanikan diri mengajukan satu pertanyaan, memulai percakapan memecah keheningan.

“Kenapa kau tidak ikut berfoto?”

Nina menarik tanganku menuju dapurnya, ada meja kecil di sana dengan dua kursi.

“Kau tahu, foto hanya akan mengabadikan momenmu, tetapi tidak mampu mengabadikan hidupmu. Lagipula, aku lebih mahal dari yang kau kira. Mereka akan rela mengantri untuk dapat melihatku lebih nyata. Hm… lagipula tubuhku buruk saat difoto, tiga rusukku yang patah terlalu menonjol di punggung. Kata nina dengan sorot mata dingin ke arahku.

Lalu, menyambung perkataannya, Itulah kenapa Balerina indah dari kejauhan. Kau tahu, kalau sesungguhnya tubuh balerina tidak seanggun yang kau hayalkan.”

“Apa kau menyukai profesimu saat ini?” tanyaku.

Nina beranjak dari kursinya, menyiapkan minuman. Sesaat kemudia ia kembali ke tempatnya semula, duduk dan sambil menyodorkan segelas air bening ke arahku.

Nina tertawa kecil sekejap.




“Sangat. Aku sangat menyukai profesiku. Jawabnya sembari melempar senyuman kecil.

Lagi katanya: “Kau tahu, meraih impian itu tidak mudah. Lagipula banyak orang bermimpi ke Utara tapi mengejar ke Selatan karena mereka merasa terlalu sulit untuk meraihnya. Aku sangat menyukai profesi ini, karena tidak sekalipun aku merubah impianku. Bahkan, berfikir untuk berbelok pun tak pernah aku lakukan.”

“Boleh aku melihatmu menari?” pintaku dengan penuh harapan dia akan mengiakannya.

Nina tersenyum, kemudian menarikku menuju ruang tamu. Ia menarik tirai naik dan menghidupkan lampu sorot yang ada di tiap sudut ruangan.

Belum sempat Nina menari, alarm rumahnya berbunyi. Aku tersentak hendak kabur. Aku mengira ada kebakaran, tapi ternyata ada seseorang yang datang.

Ternyata pelatih Nina.  Dia terlihat sangar dan sinis. Mungkin ini alasanya mengapa saat mendengar bunyi alarm tadi Nina tampak terburu-buru menurunkan tirai dan mematikan lampu, lalu kemudian membukakan pintu.

Pelatih itu masuk dengan angkuhnya merasa rumah Nina adalah miliknya. Wanita tua dengan rambut putih dan make up yang terkesan sinis. Penyihir dunia dongeng julukan yang tepat untuknya.

Ia langsung menuju lemari pendingin dan memasukkan beberapa kotak berwarna ke dalam. Lalu seperti memberi kode yang dibalas dengan anggukkan kepala oleh Nina. Aku benar-benar merasa seperti patung tembus pandang oleh pelatih itu.





“Keterlaluan!” cetusku dalam hati.

Kemudian, setelah pelatih itu pergi, tinggalah aku dan Nina, kembali berdua.

“Kau tahu pelatih yang ada di kamarku tadi. Sangat sulit untuk berkomunikasi dengannya, oleh karena itu aku merasa sangat beruntung,” kata Nina bangga, lalu menghidupkan lampu sorot dan mulai menari.

Pukul enam sore aku pamit pulang pada Nina. Aku ragu meninggalkannya sendirian, tapi ia menyakinkanku bahwa Exy temannya akan pulang besok pagi.

“Apa kau bahagia, Nina?” tanyaku untuk kesekian kalinya.

Dengan cepat Nina mengiyakan pertanyaanku. Raut wajahnya tidak berbohong, tapi tatapan matanya terlihat seperti seorang gadis yang letih. Ada sedikit rasa penyesalan. Entahlah. Ia menyesal dengan apa. Nina kau tidak pernah berubah. Kurang jujur dengan saudara kembarmu.




Aku masih bingung bagaimana cara mereka menyamarkan cacat fisik yang dialami Nina, tapi aku lega karena saat ini Nina menyukai profesinya.

Aku berbalik mengejar Nina dan mengajukan satu pertanyaan lagi sebelum akhirnya berlalu.

“Kenapa pelatihmu sepertinya tidak melihatku?”

Nina murung, katanya datar: “Kau lupa kau bukan manusia?”

(Bersambung)


1 COMMENT

Leave a Reply