Bangsa ini sudah waktunya belajar untuk tidak meremehkan satu manusia pun. Alasannya simple; karena dari satu manusialah lahir gagasan-gagasan besar. Mari kita periksa sejarah perjalanan individu-individu besar yang pernah berjalan di atas planet ini.

Galileo Galilei 1564-1642 adalah seorang ilmuan yang harus dihukum oleh karena menista ajaran sekaligus doktrin gereja yang pada saat itu dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Padahal setelah melewati proses ujian dan waktu maka gagasan Galileo yang mensupport Ide Copernicus adalah benar; bahwa bumi bukanlah central dari alam semesta dan sampai waktu kematianya dia terkurung dalam rumahnya sendiri-penjara sekaligus ruang gelap yang membebaskan pikiran Galileo.

Salah satu pernyataan yang pernah ditulis oleh Galileo adalah: “I do not feel obliged to believe that the same god who has endowed us with sense, reason, and intellect has intended us to forgo their use and by some other means to give us knowledge which we can attain by them.

Hypatia Of Alexandria c. AD 370-415, seorang perempuan hebat yang pikirannya melampaui zamannya di masa ITU dan dia juga harus mati di tangan extremists dan fundamentalis agama yang memang tidak pernah siap berhadapan dengan kenyataan yang sederhana.

Doktrin kebenaran mutlak yang dipropagandakan oleh pemuka agama dicap sebagai kebenaran absolute yang tidak bisa digugat oleh siapapun dan yang berani menggugat otoritas ilahiyah (langit) maka dia akan berhadapan dengan kematian yang tragis dan sangat tidak manusiawi.




Pernyataan Hypatia yang menembus ruang dan waktu hingga di abad ini adalah: “Reserve your right to think, for even to think wrongly is better than not think at all.

Bagi saya, dia adalah tipe wanita yang wajib menjadi inspirasi bagi bangsa ini, karena dari wanita yang cerdas akan lahir generasi yang juga cerdas.

Epicurus 341-c.270 BC, Philosopher Naturalist seorang yang sangat rational di masanya, gagasannya soal kematian begitu sederhana, bahwa selama kematian ITU tidak datang artinya kamu masih exist.

Seperti halnya Democritus, Epicurus melihat dunia yang penuh warna bukan sekedar hitam atau putih seperti yang biasa ditanamkan dalam agama lewat doktrin hitam putih, surga neraka dan konsep baik dan jahat.

Epicurus melihat realitas dengan cara yang alamiah, bahwa apapun yang dipropagandakan oleh agama terutama soal kehidupan setelah kematian adalah propaganda nonsense yang tidak masuk akal.

Death is nothing to us, since when we are, death has not come, and when death has come, we are not“.

Jadi, bagi Epicurus ketakutan atas kematian justru datangnya dari ketidakmengertian kita akan hidup.

Terakhir saya ingin menulis satu tokoh fenomenal yang bisa jadi bikin banyak orang dilist pertemanan saya harus salto sambil mencret dan sekali lagi di wall saya semua dipersilahkan oleh otoritas yang memegang tombol delete atau blokir.

Hypatia Alexandria diperankan oleh Rachel Weisz

Tokoh yang saya maksud tidak lain adalah Ahok, seorang warga negara Indonesia yang selalu dicap sebagai minoritas, bahkan ada yang bilang double standart minoritas. Lahir dari keluarga sederhana, pandangan keagamaannya pun berbeda dari yang doyan mencap diri mayoritas dan pribumi pula.

Ahok dikenal luas bukan karena sekedar prestasinya, tapi dia dikenal luas karena sukses menistakan satu agama yang paling doyan menyebarkan semboyan “Damai” agama “rahmat” bagi sebagian alam. Tapi faktanya justru berbicara terbalik.

Apa yang menarik dari Ahok sehingga dia bisa masuk dalam jajaran orang-orang besar seperti Hypatia Alexandria, Epicurus, Galileo dalam tulisan saya?

Pertama, Ahok sama seperti mereka yang saya tulis di atas, mereka struggle untuk mencoba menyebarkan kasih, cinta dan pengertian pada sesama fellow human. Bahwa bukan sekedar ajaran saja yang menjadi motivasi manusia dalam bertindak, disana ada kesadaran lewat bimbingan insting bahwa pada level DNA manusia sudah penuh dengan paket informasi.




Problemnya adalah, paket informasi mana yang hendak diexploitasi oleh kesadaran kita? Apakah sisi rasional atau emosional karena dua sisi inilah yang sering bertengkar hebat dalam kesadaran kita sebagai manusia? Pada konteks ini, Ahok sedang mencoba memainkan keduanya, secara rasional dia membangun sistem dan menata kota Jakarta lewat sistem yang rasional. Sementara dalam berhadapan dengan manusia dia menurut saya sangat emosional.

Yang kemudian menjebak dia, karena dia hidup dalam masyarakat emosional bukan rasional, kasus penistaan agama yang dialamatkan ke Ahok adalah bentuk lain dari expresi emosional sebuah masyarakat emosional, bukan rasional.

Inilah karakter asli bangsa Indonesia dimana sisi emosional lebih dominan daripada sisi rasionalnya, sehingga ada kendala psikologis serius dalam melihat realitas yang super rasional dan simetrik.

Gagasan terbesar Ahok dalam masyarakat yang masih rasional di negeri ini adalah jangan korupsi, karena itu sudah cukup membantu bangsa Indonesia yang sakit oleh mental emosional koruptif.

#Itudulu!







Leave a Reply