Pilkada DKI memang sudah berlalu. Pilkada DKI yang telah “menenggelamkan” seorang anak bangsa yang berprestasi telah menorehkan catatan kelam dan menjadi tragedi berdemokrasi bahwa orang-orang berprestasi berhasil diganjal dengan jurus ampuh yaitu agama.

Lalu sekarang ujug-ujug berbicara rekonsiliasi dan Pancasila.

Ketika banyak Umat Muslim yang mendukung orang-orang berprestasi meski berbeda agama, lalu dikatakan kafir, saat itu Pancasila engkau taruh di mana? Rasa “kemanusiaan yang adil dan beradab serta persatuanmu” engkau ke manakan? Atau pura-pura tidak tahu?

Ketika spanduk provokatif bertebaran di setiap sudut DKI, dan terpasang di depan tempat ibadah, jelas spanduk tersebut jauh dari nilai-nilai Pancasila yang juga sila ke dua dan ke tiga, Pancasila engkau ke manakan? Atau sengaja agar bisa menang? Itukah cara kalian?

Bahkan ketika mayat kalian intimidasi, yang tentu saja juga tidak beretika dan juga jauh dari nilai-nilai Pancasila yang berbunyi “kemanusiaan yang adil dan beradab”, apakah kalian bisa disebut orang yang menjunjung nilai-nilai Pancasila?

Jika kalian sekarang berbicara rekonsiliasi dan berbicara Pancasila, rasanya Pancasila kalian hanya di mulut. Itupun bagai kentut yang teramat kecut.

Jika Presiden akan menggebuk siapapun yang merongrong Pancasila, apakah karena ini hingga kalian menjadi takut?








Leave a Reply