Kemarin, kebetulan bertemu dengan teman lama yang sama-sama kuliah di program master beberapa tahun lalu. Dia seorang Belanda yang dari dulu tertarik pada perkembangan politik di Indonesia. Nantinya, dia kawin dengan seorang perempuan Sunda dan menjadi muslim.

Setelah ngobrol ke sana ke mari melepas rindu sambil bernostalgia, dia bertanya:

“Kalau kamu diminta memberikan satu atau dua kata saja untuk merangkum semua persoalan politik di Indonesia sekarang ini, kata apa yang kamu keluarkan?”

“Etika,” kataku cepat dan langsung.

Dia tercenung sejenak sambil meneguk bier dari gelas yang sedari tadi berdiri di depan kami. Lalu, dia menatap buih-buih di gelasnya sambil berkata:

“Misalnya, di kampung istri saya (Jawa Barat, red.), tentu tidak etis saya meminum bier di sana apalagi di depan umum, sedangkan di Belanda ini, suka-suka hati sayalah,” katanya dan lalu menggoyang-goyang gelas biernya sebelum meneguknya sekali lagi.

“Bayangkan kalau ada seseorang marah-marah padamu di sini karena kau minum bier sambil mengatakan bahwa kamu adalah muslim,” kataku.





“Aku akan berkata padanya, kalau kau tidak berhenti, akan kulaporkan ke polisi,” katanya tenang tanpa perubahan di raut wajahnya.

Lalu lanjutnya: “Sekarang, aku mengerti suasana politik di Indonesia dilihat dari dalam. Orang-orang sudah tidak lagi menghargai etika. Etika adalah hasil pemahaman manusia berbudaya tentang perbedaan. Memang etika datangnya bukan dari Allah, tapi Allah telah memberikan kemungkinan kepada manusia untuk berkembang dan mampu beretika, yaitu memberi ruang adanya kebenaran pada diri orang lain tanpa harus mencampakkan keyakinan sendiri.”

“Etika tidak lagi menjadi pelajaran hidup apalagi pelajaran sekolah di Indonesia. Bukan hanya kecenderungan di kalangan muslim, di kalangan umat Kristen pun kecenderungan yang sama juga sangat terasa. Dengan atas nama Allah seolah semuanya bisa diabaikan. Orang tidak lagi punya rasa malu dan rasa tanggungjawab terhadap diri sendiri, yang penting Allah sudah berkata demikian,” kataku menimpali.

Lalu, kami tercenung menatap sebuah sampan melintas di sungai kota. Dia hisap asap rokoknya dalam-dalam. Terbayang semasa kuliah dia sering meminta sebatang kretek dariku. Sekarang, aku sudah berhenti merokok dan aktif kembali berolahraga.








Leave a Reply