“Thanks for this,” kata sang professor setiap kali mengirim ‘paper’ kepadanya. Sebuah kata sederhana yang jarang diucapkan para profesor ataupun dosen di negeri saya kepada mahasiswanya. Begitu juga bila ia terlambat sebentar saja di sebuah pertemuan, maka ia tak sungkan berkata maaf dan merendahkan hati: “I do apologise”.

“Di negeri kami ‘maaf’ itu sangat mahal,” kata saya beberapa hari lalu.
Beliau tampak terkejut atas pernyataan saya yang tiba-tiba, “mengapa kamu berkata demikian?”

“Di zaman Presiden Gus Dur, ia pernah meminta maaf kepada seorang sastrawan besar. Sang sastrawan yang pernah dipenjara sekian lama karena pandangan ideologi yang berbeda dengan rezim di masanya. Tapi itu sudah lama sekali. Puluhan tahun silam. Tapi maaf sang presiden ditolak,” kata saya

“Bisa saya mengerti. Tetapi, apakah hak moral dari seseorang untuk menolak memberikan maaf?” demikian pertanyaannya sembari menyeruput secangkir kopi.

Saya hanya terdiam mendengar pernyataan sang profesor, di sebuah ruangan sunyi, di sebuah negeri sekuler yang sebagian besar warganya mengaku tidak lagi beragama secara praktis. Di negeri kami yang orang-orangnya religius dan lekas tersinggung, ‘maaf’ saja tidak cukup. Yang ada ‘maaf’ tirani: ketika aku memaafkanmu, pentung dan penjara adalah jawabannya.








Leave a Reply