Saat kecil, kira-kira usia kelas 4 SD saya punya teman pengajian cowok. Tapi gayanya, ampun deh, cewek banget. Dia memang ngaji mengenakan sarung dan peci. Tapi di dalam tasnya, tidak lupa membawa selendang untuk kerudung (waktu itu jilbab belum ngetop). Setiap pulang ngaji, dia akan mengenakan kerudungnya itu.

Saya tidak akrab dengannya. Saya juga tidak tahu, apa kabarnya sekarang. Yang saya dengar, dia hidup dan dewasa dengan berpenampilan perempuan.

Ketika usia remaja, saya juga punya teman cowok yang cukup akrab. Kami sering ngobrol dan becanda. Tapi itu dia, gayanya sangat kemayu. Karena sikapnya itu, dia sering jadi bahan bullying teman-teman lain. Sebetulnya saya marah dengan teman-teman yang lain. Saya berharap ketika disakiti, teman kemayu ini mau melawan.

Saya berfikir, seandainya jiwa kelelakiannya dibangkitkan, mungkin dia akan berani melawan orang lain yang sering menyakitinya. Pada sebuah kesempatan saya sengaja memukulnya dengan keras. Saya mendorongnya, menampar mukanya. Saya berharap dia melawan. Dengan demikian, jiwa lelakinya muncul. Mulanya dia diam saja sambil menghindar. Lantas serangan saya tingkatkan.

Pada suatu titik, kemarahannya timbul. Dia melawan balik. Kepalannya mendarat bertubi-tubi pada wajah saya. Saya kewalahan dengan balas memukul. Tapi badannya jauh lebih besar. Bibir saya pecah, hidung saya perih. Saat melihat darah mengucur dari bibir dan hidung saya, dia seperti tersentak.




Lalu dia merangkul saya, lantas menangis sesegukan. Dia mencarikan es batu untuk mengkompres wajah saya yang memar. Tapi, entah kenapa, saya senang. Saya merasa telah membangkitkan semangat lelaki yang terpendam dalam dasar jiwanya. Dengan bibir yang nyeri dan hidung yang meleleh darah, saya malah tersenyum.

“Gitu dong, jadi cowok. Kalau ada yang menyakitimu, lawan. Jangan nangis,” canda saya.

Dia hanya meringis. Isaknya masih terdengar. Tapi esoknya saya temui dia tidak berubah. Gayanya masih kemayu dan cara bicaranya tetap khas. Sementara wajah saya masih lebam. Saya jadi merasa agak sia-sia berkelahi dengannya kemarin.

Di dekat kompleks perumahan saya, ada sebuah salon yang cukup ramai. Pemiliknya lelaki yang ‘berubah’ jadi perempuan. Hampir semua karyawannya juga lelaki. Yang melayani creambath, menikur-pedikur, potong rambut atau rebonding. Seingat saya, karyawan-karyawan itu dibawa dari kampung. Awal masuk kerja, mereka adalah lelaki asli. Tampilannya lelaki banget.

Tapi, setahun-dua tahun dia bekerja, pelan-pelan gayanya berubah. Rambutnya dicat warna warni. Cara bicaranya lebih mendayu dengan idiom-idiom khas. Saya pernah menyaksikan ada orang tua karyawan yang datang dari kampung hendak menjenguk anaknya, kaget melihat putranya yang sudah bertransformasi.

Bayangkan Tarno yang tadinya kekar dan berkulit legam, kini dipanggil Tania. Wajahnya lebih putih, rambut pirang dipotong shagy dengan celak mata tebal. Apa emaknya gak shock?

Ada dua jenis orang dengan orientasi seks sejenis. Pertama adalah mereka yang memang mengalami gangguan hormonal. Ini adalah kelainan biologis. Tampilannya mungkin lelaki, tetapi dalam tubuhnya bekerja banyak hormon perempuan. Ini mengakibatkan jiwanya berkembang sebagai perempuan.




Di sini masalah kelainan seksual adalah di luar kendali dirinya. Dia tidak dapat mengendalikan perkembangan hormon yang terjadi dalam tubuhnya sendiri. Dia seperti perempuan yang terkungkung dalam tubuh lelaki.

Lantas bagaimana kita menstempelnya dengan pandangan negatif, sementara dia sendiri tersiksa dengan kelainan yang berkembang di luar kuasanya?

Dia tidak bisa memilih sendiri orientasi seksualnya. Saya rasa menuding orang-orang seperti ini dengan stempel negatif, rasanya juga tidak adil.

Tapi, ada juga kelainan seksual yang ditularkan dari lingkungan sosial. Sebetulnya dia adalah lelaki tulen, tetapi lingkungan sosial membetotnya hingga orientasi seksualnya berbeda dengan orang normal. Orientasi seksual yang disebabkan karena lingkungan ini, yang sebetulnya bisa ‘menular’. Bukan menular seperti terpapar penyakit, tetapi pengaruh interaksi sosial bisa menyebabkan perubahan orientasi seksual seseorang.

Pada kasus ke dua, orientasi seksual adalah pilihan. Sebab secara hormonal dia dilahirkan normal. Tetapi ada orang yang memilih memuaskannya hasrat seksualnya dengan sesama jenis. Dalam hal inilah kita bisa menstempel bahwa perilaku seksnya adalah penyimpangan. Hukum, norma, ajaran agama bisa dikenakan padanya.

Pada kasus pertama, kelainan orientasi seksual disebabkan karena sebab-sebab biologis yang tidak berada dalam kuasanya. Kelainan seksual yang dialami bukan pilihannya sendiri. Sedangkan yang ke dua, disebabkan oleh lingkungan dan psikologis yang sebetulnya bisa dilawan dan dihindari. Nah, dalam konteks ini, perilaku seksual berada dalam kuasa kesadarannya.

Masalahnya kita sering gebyah-uyah memandang orang dengan orientasi seksual yang menyimpang ini. Padahal ada yang karena di luar kuasa dirinya, ada juga yang cuma mau mencari kepuasan seksual dengan cara ‘aneh’. Yang pertama adalah penderitaan bagi penyandangnya, yang kedua adalah mencari kesenangan.

Saya setuju saja dengan pandangan, apapun pilihan seksual seseorang, tidak berpengaruh pada orang lain. Wong, kelamin, kelaminnya sendiri. Jadi mau dipakai untuk apapun, terserah dia. Tapi harus diingat, dalam konteks psikologis, hal itu bisa menular kepada yang lain. Jadi jika ada ketidaksetujuan pada mereka mestinya juga bisa dipahami. Sebab dunia ini akan terasa aneh, ketika sesuatu yang di luar kewajaran malah mengharap dapat penilaian wajar.

Ah, saya jadi ingat ada seorang gay yang bermaksud membahagiakan pasangannya. Menjelang hari Valentine, dia sengaja mengkonsumsi jamu sari rapet. Mungkin agar malam-malam Valentine ini mereka lalui dengan pengalaman yang menakjubkan. Hasilnya, dia harus dilarikan ke rumah sakit karena menderita sembelit akut.

Ketika dokter bertanya, apa penyebab sembelitnya, dia menjawab malu-malu: “Aiiih, dokter. Cinta kan, selalu membutuhkan pengorbanan…”






Leave a Reply