Lagi-lagi terjadi serangan brutal di belahan bumi Eropa (dan barusan saja di Jakarta Timur, red.). Lagi-lagi harus ada korban sia-sia yang meregang nyawa. Menjadi korban kebrutalan dan kebiadaban serangan bom di Manchester.

Tentu, banyak orang yang harus terisak sedih kehilangan orang-orang terkasih. Keluarga dan anak-anak yang tidak berdosa harus terenggut kasih sayangnya oleh segolongan orang yang mangaku beragama namun ternyata melakukan hal yang di luar perikemanusiaan.

Apalagi ketika ISIS mengklaim bahwa tindakan brutal itu yang melakukan mereka, tentu banyak orang yang mengutuk keras dengan perilaku mereka.

Semua sudah pada tahu, ISIS adalah sebuah momok di semua negara yang sering melakukan hal-hal keji hingga memakan korban jiwa. Sekali lagi, sebuah kelompok dengan memakai atribut Islam. Islam yang konon Rakhmatan lil Allamin.

Juga, dI negri tercinta ini. Di negri yang gemah ripah loh jinawe serta toto tentram kerto raharjo. Yang di bahasa Indonesia berarti negeri yang subur yang rakyatnya tenteram dan damai, yang saling menghargai semua golongan. Dekade belakangan ini terjadi gesekan-gesekan yang lumayan serius dan bahkan menjurus perpecahan di hampir seluruh penjuru Tanah Air.

Saya jadi ingat bagaimana seorang Gusdur yang diolok-olok oleh seorang tokoh agama, bahkan sekarang telah didaulat untuk menjadi imam besar, yang mengatakan begini:

“Gus Dur itu buta matanya dan buta mata hatinya.”




Dalam suatu kesempatan, sang imam besar tersebut juga tanpa perasaan mengatakan:

“Jika Yesus itu Anak Tuhan, bidannya siapa?”

Sejatinya, seperti halnya yang sudah dilakukan oleh kyai-kyai NU yang lebih menyejukkan, yang ucapannya menjaga PERASAAN agar terjaganya ketentraman di semua aspek kehidupan, yang memberi Keteladanan dalam bersikap dan bertutur kata, kenapa sebagian golongan yang juga mengaku Islam malah berperilaku keji? Di mana perasaan atau hati nuraninya?

Juga ketika seorang Ahok yg mengorbankan dirinya dan bahkan dikatakan kafir ternyata lebih mementingkan tentang RASA, tentang perasaan agar bangsa ini kembali toto tentram kerto raharjo, kenapa Si imam besar justru tidak memberi keteladanan bahwa sebagai penduduk negeri ini harus taat hukum? Di mana perasaan si imam besar itu?

Apakah sosok dari siimam besar adalah potret dari semua umatnya yang juga tidak berperasaan? Jika kelompok ISIS yang jelas sangat tidak BERPERASAAN, apa bedanya dengan kelompok-kelompok di negeri ini yang perangainya jauh di luar perasaan dan hati nurani?

Foto: Pengmaanan polisi setelah ledakan bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur (Sumber: detik.com)








Leave a Reply