Narkoba, narkoba… ditambah soal korupsi dan terorisme. 3 soal ini adalah senjata utama neolib untuk mencapai cita-citanya global hegemony. Sudah sangat banyak tulisan atau pencerahan soal ini, tetapi sepertinya semakin banyak juga yang belum mengerti atau tidak menyakini. He he . . ..  tetapi apakah ini mungkin?

Makin banyak pencerahannya makin banyak juga yang ‘ogah’ saja. Wah, wah . . lesulah rasanya orang-orang yang sangat tekun berusaha mencerahkan. Coba kita lihat usaha Prof Chossudovsky (Ottawa University) menjelaskan soal terorisme.

“Terrorisme adalah buatan USA,” katanya.

Tetapi, orang-orang lebih percaya kalau terorisme buatan orang Islam, atau orang-orang model Osama bin Laden atau Kadhafi (ketika masih hidup). Prof Chossudovsky tetap teguh pada hasil penyelidikannya: “The so-called war on terrorism is a front to propagate America’s global hegemony and create a New World Order. Terrorism is made in USA, The global war on terrorism is a fabrication, a big lie” (lihat di SINI)

Walaupun belakangan ini setelah Trump masuk ke Gedung Putih, terlihat berkurang memang kegiatan terorisme, tetapi siapa yang tahu mengapa bisa terjadi begitu. Apakah ada kaitannya dengan lengsernya Obama dari Gedung Putih sebagai “the last gasp of neoliberalism”, dan neolib (global hegemony) adalah pencipta terorisme?

Soal narkoba dan korupsi, dari pengalaman yang sudah ada di Indonesia, kedua unsur ini sering hidup simbiosis (korupsi untuk narkoba, atau narkoba untuk korupsi), terutama di daerah-daerah yang pejabat/ bupati/ camat/ lurahnya jadi penyandu atau pebisnis narkoba. Sudah banyak contohnya dan kelihatannya semakin banyak karena memang semakin banyak pejabat yang tercandu narkoba.




“Di kala lapas itu tenang, biasanya mereka mulai beroperasi, di dalam lapas itu sendiri banyak peredaran, karena hampir 50% di seluruh lapas terjadi pengedaran bukan hanya pengedaran tetapi juga pengendalian jaringan mereka yang ada di luar,” kata Budi Waseso di kantornya [Senin 22/5] sebagaimana diberitakan oleh merdeka.com.

Lapas malah jadi pasar narkoba dan kegiatan bisnis narkoba. Wow . . . Di sini jelas simbiosis bisnis narkoba, pejabat, duit/ korupsi.

Why Does The International Drug-Control System Fail?

Ha ha . . . ini pertanyaan yang sudah abadi dalam usaha pemberantasan narkoba oleh PBB maupun semua pemerintahan negara-negara dunia yang semakin parah dalam persoalan narkoba. Mungkin jawaban soal ini akan lebih tepat kalau ditanyakan sipir lapas saja he he he.

Di samping itu, sudah berjilid-jilid juga buku atau artikel yang ‘ilmiah’ menjawab pertanyaan abadi ini. Tetapi semua solusi pada dasarnya tetap yaitu prinsipnya rehab dan kemanusiaan. Tantangan baru soal kemanusiaan ini ialah, menyelamatkan manusia penyandu, pengedar, pebisnis narkoba, atau menyelamatkan manusia/ generasi muda yang belum terpengaruh tetapi pasti akan terpengaruh juga oleh narkoba tanpa alat penangkal yang pasti. Ini pilihan berat memang. Tetapi, apa ada pilihan lain?




Kepala Badan Narkotika Nasional, Komisaris Jenderal Polisi Budi Waseso, geram atas peredaran narkoba. Dia ingin lebih tegas memberantas peredaran narkoba dan ingin berguru tentang ini pada Presiden Filipina, Rodrigo Duterte.

Sudah banyak penjahat, pencoleng, hingga bandar narkoba mati ditembak aparatur Filipina atas perintah Duterte.

“Hasil polling menunjukkan 92 persen rakyat Filipina setuju tindakan tegas Presiden Duterte terhadap pelaku penyalahgunaan narkotika,” kata Waseso, di Semarang [Selasa 4/4] sebagaimana diberitakan oleh bisnis.com.

Untuk membuat pilihan ini, kelihatannya Presiden Jokowi sudah harus mempercayakan kepada Kepala BNN Buwas untuk belajar dari Duterte dan menterapkan sistem Duterte dalam menangani narkoba. Kalau di Filipina setuju 92% atas sistem Duterte, bisa juga di Indonesia setuju 95%. Siapa tahu. Atau tergantung dari berapa kuat pengaruh neolib internasional itu di Indonesia. Kalau kita lihat pengaruh neolib ini dari peristiwa teror 3 juta 1965, teror Thamrin dan gerakan 411 dan 212, pengaruh neolib ini memang masih sangat besar, walaupun era Trump sudah banyak pengaruhnya yang bikin era Obama sebagai ‘the last gasp of neoliberalism’, tetapi neolib ini masih kuat, banyak duit dan banyak kekuasaan.

AS sendiri sudah terbagi dua, pro nasionalis Trump atau pro neolib globalist ‘deep state’. Perpecahan ini semakin meluas di AS dan juga di Eropah dan seluruh dunia. Bangkitnya partai-partai nasionalis di Eropah dan perubahan banyak partai-partai di Indonesia ke arah nasionalisme ini, pada dasarnya menunjukkan perubahan jaman, menunjukkan perubahan kesadaran manusia mengikuti perkembangan.




Foto header: Polisi menjaga lokasi ledakan (Foto. Viva.co.id)


Leave a Reply