Pada postingan saya sebelumnya, banyak orang berkomentar: “Setiap ada kejadian bom bunuh diri, mengapa umat Islam lagi yang disudutkan?” Tentu saja komentar itu disertai dengan caci maki kepada saya. Seperti biasanya. Tapi, mari buka mata, lihatlah dengan jujur, siapa sebenarnya para penyulut bom bunuh diri di seluruh dunia saat ini? Apa agamanya? Apa idologi yang dianutnya?

Kita akan susah mengelak dari fakta, bahwa berbagai bom bunuh diri itu dilakukan oleh manusia yang beragama Islam. Dijalankan dengan motivasi-motivasi keagamaan menurut versinya. Meski, jika dibuka peta besarnya, di belakangnya ada motivasi politik dan ekonomi juga.

Sebagai muslim saya juga tersinggung jika dikatakan Islam adalah agama teroris. Tapi sebagai manusia rasional saya tidak bisa mengelak dari fakta. Saya tidak bisa menutupi kenyataan bahwa memang orang yang beragama Islamlah yang melakukan itu. Dan, faktor keagamaan sering menjadi pemicunya.

Ada 2 reaksi dari umat muslim yang biasanya timbul melihat kenyataan ini. Pertama, menutupi kenyataan dengan berbagai argumentasi. Salah satunya, argumen yang paling kampret adalah pengalihan isu. Pengalihan dari isu apa? Oh, pasti publik sedang dialihkan perhatiannya dari isu Raisa dilamar Hamish Daud.

Ini seperti menaruh kotoran di bawah karpet.

Yang ke dua adalah reaksi yang lebih masuk akal, terbukanya kesadaran bahwa ada yang salah dengan cara orang beragama. Cara orang menyerap Islam.




Bagaimana mungkin agama yang menjanjikan surga ini memerintahkan manusia untuk menciptakan neraka di bumi? Bom bunuh diri adalah neraka. Orang yang melakukannya tidak mungkin sedang mengusahakan surga.

Motivasi paling dalam dari pelaku bom bunuh diri adalah kebencian terhadap orang lain. Dengan pandangan lain. Dengan agama lain. Dengan aliran politik lain. Kita membenci segala sesuatu yang di luar lingkaran kita. Kebencian itu yang mendorong mereka merasa syah berbuat brutal.

Nah, coba kita koreksi cara kita menafsirkan agama sekarang ini. Apakah karena agama kita merasa wajib membenci orang yang beragama lain? Kita berhak mengkafir-kafirkan orang lain. Kita merasa hidup lebih islami dari orang lain? Kita mengobarkan semangat bahwa keyakinan kitalah yang paling benar, yang lain salah dan harus diberangus?

Jika karena beragama Islam kita membenci umat agama lain, jangan tersinggung kalau ada orang yang menyebut Islam agama teroris. Jika karena beragama Islam kita wajib mengkafir-kafirkan orang lain, jangan tersinggung jika Islammu dituduh biang kerusakan. Jika karena beragama Islam kita menolak bergandeng tangan memuliakan kemanusiaan, jangan tersinggung ketika ada yang menuding Islam anti kemanusiaan.

Jika karena Islam kita berusaha mencari pembenaran atas tindakan brutal kaum muslim lain, jangan marah jika kamu dianggap bagian dari teroris.




Jika kamu tidak mau agamamu dianggap sebagai agama teroris, tunjukan pada dunia bagaimana Islam mengusahakan kehidupan yang damai. Bagaimana Islam menjunjung tinggi kemanusiaan. Bagaimana Islam menghardik semua jenis kebiadaban. Bagaimana Islam adalah rahmat bagi semesta alam.

Tapi, jika sehari-hari kamu masih menghardik orang yang beragama lain. Menista keyakinan yang berbeda denganmu. Mencaci pemikiran yang tidak sama denganmu. Membenci kehidupan lain di luar kehidupanmu. Mensesatkan tafsir lain atas kitab sucimu. Menyebarkan kebencian itu ke mana-mana. Maka, jangan kaget jika orang menyematkan stigma buruk pada Islam.




Umat lain menilai Islam bukan dari ajarannya, tapi dari perilaku pemeluknya. Umat Islamlah yang menggiring persepsi orang lain terhadap Islam.

Jadi, jika kamu mengaku mencintai agamamu, berjuanglah membersihkan agama ini dari para perusaknya.

Terhadap setiap aksi terorisme, bukan saatnya lagi cuma memasang stiker: “Kami tidak takut.” Saatnya kita berkata: “Kami Siap Melawanmu!”


Leave a Reply