Oleh: Meisinta Ayu Teresia

 

“Nina, Ayo masuk dan berlatih. Kegiatan melamunmu itu membuang waktu, ditambah kau berbicara sendiri seperti orang gila,” sedikit menghardik Nina.

Nina kecewa mendapati fakta pelatihnya tidak melihat Rose. Tidak ingin menambah kasus, Nina menurut, tidak melawan. Sesekali Nina memanfaatkan kesempatan. Ia memperhatikan ekspresi pelatihnya.

“Kak Rin. Apa kau ingat pertama kali aku menjadi ballerina?” lampu hijau,  Pelatih Nina tidak menampakkan ekspresi malasnya.

“Ya, tentu saja.  Berlatihlah lebih baik. Jawabnya datar.”

Sambungnya lagi, katanya: “Kau boleh bertanya dan bercerita sepuasnya.  Nanti!”

Inilah yang paling disukai Nina dari pelatihnya. Selalu tahu maksud dan tujuan yang ingin Nina sampaikan.

Setelah dua jam berlatih, Nina tak lupa melirik ke arah pintu.  Rose tidak ada di sana. Nina lega, tapi sedikit khawatir. Ia takut Rose tidak akan muncul lagi karena belum pernah Rose menghilang tanpa pamit terlebih dahulu

Nina kembali duduk di kursi yang ada di dapurnya. Menuang air putih ke dua gelas penuh air putih.  Satu ia berikan kepada pelatihnya, satunya lagi ia teguk habis dan diisi ulang.

Setelah menghabiskan airnya. Pelatih melihat jam sekilas, kemudian ia pulang tanpa pamit.

“Aku kecewa (lagi),  karena tidak diberi kesempatan bertanya,” cetus Nina kesal.

Sepuluh menit kemudian terdengar suara bel. Ternyata Exy. Nina membukakan pintu menyambutnya dengan senyuman.

“Apa kau tau tentang pelatihku, Exy?” sambil membantu Exy membawa barang belanjaannya ke dapur tanpa memberi kesempatan kepada Exy sahabatnya itu menghela nafas.

Lalu Exy duduk di kursi, menghadap ke Nina yang sedang sibuk menata sayuran dan buah-buahan yang dibawa Exy, ke lemari pendingin.

“Tidak banyak yang aku tau tentang pelatihmu,” jawabnya datar.

Sejenak ruangan itu menjadi senyap.

“Setidaknya aku tau masa lalunya,” sambungnya, “oh iya,  tadi aku bertemu lagi dengan cenayang itu. Namanya Yolin.  Sebenarnya dia bukan cenayang, tapi perawan tua.”

Nina berhenti dari kesibukannya sejenak.  Mencerna perlahan apa yang sedang dia dengar dari Exy.

“Cenayang itu seorang perawan tua,  bernama Yolin dan bukanlah seorang cenayang. Lalu mengapa Exy menyebutnya cenayang?!” tanya Nina dalam hati.

Lalu, kata Nina menyela perkataan Exy: “Ha-ha-ha. Iya, dia bukan cenayang,  tapi kau kan tidak mengetahuinya?”

Balas Exy: “Oleh karena itu aku menyebutnya cenayang.  Tapi dia bukan cenayang kok. Dan lagi, Yolin banyak menceritakan tentang pelatihmu itu. Besok ia ingin berkunjung. Pastikan Lairina tidak ada.”





Kemudian Exy merampas buah apel yang hendak Nina makan, yang sebelumnya telah Nina kupas.

“Hei,  kupaslah buahmu sendiri,” kata Nina.

Exy hanya tersenyum penuh kemenangan, tidak peduli. Ia tetap melahap apel itu dengan rakus.

“Ada tiga kisah yang akan kusampaikan malam ini, Nina. Apa kau siap?” kata Exy degan rona serius.

Kembali ruangan itu senyap. Seakan sedang berada di atmosfer dengan hampa udara, tanpa suara.

Mendadak Exy terlihat serius dan sedikit gugup, tidak seperti biasanya.

Nina hanya menjawab dengan anggukan.

“Tapi sebelum itu, aku ingin kau berjanji untuk tidak bertanya ataupun dan mencoba menghentikan aku.  Oke?!”

Lagi Nina balas menjawab dengan anggukan saja.

Kemudian Exy pun memulai ceritanya. Kisah pertama, tentang Lairina.

Lairina. Ia gadis yang amat beruntung. Ia lahir dari keluarga yang berkecukupan. Kecukupan itulah yang membuat ia menjadi egois. Ia terbiasa mendapat semua yang ia inginkan. Malam itu, 5 tahun yang lalu, keinginan Lairina amat egois. Bahkan,  Fio Gasparo pun kecewa dengan kekasihnya itu.





Lairina ingin Naira menampilkan Kisah Swan Lake bersama Gerald di Danau Piranha milik Simkin. Danau itu berisi tiga ratus ekor piranha vegetarian.

Simkin tidak pernah memberi makan piranha-piranhanya itu daging.

Hal itulah yang membuat Fio Gasparo khawatir.  Kekhawatiran Fio membuat Lairina semakin murka. Ia semakin membenci Naira. Selain itu,  Simkin juga mati-matian menolak semua tawaran Lairina. Danau Piranha Simkin tidak diizinkan untuk menjadi tempat pertunjukan mereka.

Lairina tetap menyebar undangan pertunjukan Swan Lake meski tidak mendapat izin dari Simkin.  Dengan penuh ras kecewa, Fio memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Lairina. Pertunjukan itu tetap dilaksanakan karena Naira tidak berniat menolak ide Lairina.  Padahal ia menyadari niat buruk Lairina.

Lairina awalnya adalah Ballerina baik hati yang murah senyum. Namun semenjak debut Naira, Lairina berubah menjadi ballerina bermuka sinis.  Popularitas Naira terlalu menanjak drastis. Seribu penonton untuk pertunjukan ke dua Naira.

Lairina tidak ingin ada pertunjukan ke empat untuk Naira. Oleh karena itu, ia sangat berambisi dalam mengadakan pertunjukan ketiga Naira. Pertunjukan yang menjadi akhir bagi karir Naira sebagai seorang ballerina.

 

Bersambung…

Sebelumnya: Ballerina’s Home (Part 1)





Leave a Reply