NATALIE SEMBIRING. MEDAN. Karateka tampan kelahiran Jakarta, yang tinggal dan besar di Medan ini, memiliki sederet prestasi di bidang seni bela diri asal negeri Sakura. Banyak penghargaan yang telah diraih oleh Fernanda, mulai dari nasional hingga internasional.

Itu semua ia peroleh dengan cara tidaklah mudah, penuh perjuangan dari kanak-kanak hingga ia remaja. Dukungan penuh keluarga dan lingkungan sekitar, menjadi semangatnya untuk terus berjuang dalam setiap pertandingan karate yang ia jalani.

Rasa ketertarikan Nanda terhadap karate dimulai sejak ia duduk di bangku Kelas 2 Sekolah Dasar (SD). Saat itu ia memilih karate sebagai ekstrakulikuler di sekolah. Awalnya sang pelatih melihat Fernanda memiliki potensi di bidang karate, dan akhirnya Fernanda menekuni olahraga bela diri ini sampai sekarang.

Penghargaan pertamanya saat ia duduk di kelas 3 SD pada Pertandingan Tingkat Provinsi Jawa Barat dengan raihan 2 medali emas dan 1 medali perak. Fernanda mengaku belum merasakan grogi pada saat pertandingan pertamanya tersebut.

Tahun 2016 lalu, Fernanda membawa dua penghargaan  yaitu sebagai Juara 1 Thailand Open Karate Championship 2016 di Bangkok, dan Juara 3 Pekan Olahraga Nasional (PON) di Bandung.

Masih banyak penghargaan lain yang diperoleh Fernanda.

Banyak rintangan yang dia hadapi selama memperjuangkan  dirinya sebagai atlet karate Sumatera Utara. Mulai dari ketinggalan pelajaran di sekolah, kehilangan waktu bermain, merasakan kebosanan untuk latihan terus, dan bahkan sempat mengalami sakit sebelum pertandingan.

Ia mengenang perjuangan pertamanya dalam kejuaraan Nasional tahun 2009 di Bandar Lampung. Nanda sempat dilarikan ke rumah sakit sekitar Pukul 24:00 wib, akibat serangan asma. Esok paginya Fernanda harus kembali melangsungkan pertandingan bersama timnya.

Hal tersebut  tidak menjadikan alasan Fernanda untuk berhenti.

Melihat proses latihan ketat yang telah ia jalani membakar semangatnya untuk terus berjuang. Semua pengorbanan terbayarkan dengan penghargaan perak yang diperolehnya dalam pertandingan tersebut. Ini merupakan penghargaan pertama yang diterimanya pada tingkat nasional.

Menjadi atlet dengan segudang prestasi tak kelak membuatnya lupa dengan dunia pendidikan. Sekarang, ia sedang menempuh kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi FISIP USU. Ia berprinsip pendidikan tetap yang terpenting.

“Dan juga, saya harus bisa membanggakan orangtua,” katanya kepada Sora Sirulo [Kamis 25/5].

Selain sebagai atlet, Nanda juga menjadi pelatih untuk kelas junior. Baginya pribadi, “ilmu itu buat dibagi, bukan buat disimpan”.








Leave a Reply