Di film-film India tempo dulu, ketika Hemamalini, Dharmendra, Rajesh Khanna, Vinod Mehra, Saturgan Sinha, Prem Choopra, Amjad Khan, Sashi Kapoor, Amitabh Bachan, Rekha, Muntaz, dan lain-lain masih ngetop di era 1990an ke bawah, seringkali ada cerita tentang intrik-intrik politik yang nyaris seperti realita perpolitikan di Indonesia. Nyaris, lho, yaa…

Seringkali, untuk menjadi penguasa atau mentri di film-film India para tokoh antagonis selalu membuat kondisi agar di suatu daerah ada kecamuk. Dibuat huru-hara. Dibuat tragedi dengan tujuan melengserkan pemerintahan yang sah.

Lalu, melalui kaki tangannya, suatu daerah tersebut terjadi perang saudara yang tentu saja akan membuat masyarakat di daerah itu resah dan gelisah, namun tidak di sudut sekolah. Mereka ketakutan dan tidak tenteram.




Nah, pemeran antagonis bagaikan malaikat akhirnya datang menjadi juru selamat. Menjadi Pahlawan. Sehingga akhirnya terpilih.

Karena niatnya memang jahat. Karena tujuan utamanya adalah hanya untuk mendapatkan wanita dan tahta, lama-lama belangnya hidung sang pemeran antagonis (banditna kata orang Karo, red.) tercium dan terbongkar.

Akhirnya muncullah tokoh muda yang gagah. Yang ganteng. Yang sanggup melawan 10 orang sekaligus kaki tangan tokoh antagonis.

Kira-kira, apakah cerita filem India ini mirip dengan kondisi di negeri ini?

Mari kita mundur ke belakang ketika Pilkada DKI. Saat itu, rumah ibadah menjadi tempat kampanye dan sepertinya hal itu disengaja dan ada pembiaran. Namun, setelah jagonya menang, beberapa hari yang lalu, tiba-tiba sang tokoh tersebut bilang begini:

“Sebaiknya, tempat ibadah jangan dijadikan tempat untuk berkampanye. Berpolitiklah yang sehat.”

Siapakah dia? Konon beiau sebagai ketua tempat ibadah di negri ini. Atau ada cerita dan tokoh lain selain tempat ibadah? Mirip bandit film India, bukan?








Leave a Reply