Oleh: Jhon Rocky Pinem (Kabanjahe)

 

Aku tidak pernah berfikir untuk meragukan agama. Aku tahu, agama itu indah dan damai, serta mengajarkan kita nilai-nilai kemanusiaan dalam kasih dan keadilan. Namun, yang kuragukan, adalah prakteknya dalam kenyataan.

Aku bingung melihat penganut agama dalam memahami fungsi agama. Bukan tiap penganutnya, melainkan segelintir garis keras yang menganggap diri mereka itu lebih benar, lebih baik, dan lebih suci. Yang selalu berktindak arogan dengan mengatasnamakan agama, yang mengusung jargon membela agama. Padahal mereka cuma bagian kecil dari agama tersebut. Mereka bersuara lantang, bertindak radikal, ekstrim, intoleran, fanatik, atau fundamentalis.

Sebenarnya mereka tidak pernah mewakili suara agamanya yang sesungguhnya moderat, toleran, dan bukan kelompok yang suka bikin onar. Akan tetapi, seperti pepatah mengatakan, gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Gara-gara kelompok radikal itu terjadilah konflik dan kerusuhan, yang berpotensi merusak persatuan bangsa.

Seperti halnya di beberapa negara yang memiliki riwayat konflik antar agama, seperti konflik antara penganut Protestan dan Katolik di Irlandia, Muslim Sunni dan Muslim Syiah di Iran, orang Sikh dan Hindu di India, orang Budha dan Muslim di Thailand, Kristen dan Muslim di Lebanon, Muslim Moderat dan Muslim gerakan Islamis di Tunisia, dan masih banyak lagi.




Apa yang terjadi akibat konflik tersebut?

Orang saling menyerang, saling melukai, bahkan saling membunuh, juga saling membakar rumah ibadah. Demi nama Siapa? Benarkah demi nama Allah?!

Aneh. Kita saling membenci demi nama Allah yang kita puji dan sembah karena kasihnya? Benarkah? Apakah agama merupakan penyalur rasa dengki dan benci?

Konflik seperti itu membuatku bingung dan sungguh semakin bingung! Jika produk religiositas adalah konflik dan kebencian, untuk apa agama kalau memang mendatangkan bencana?! Belum lagi para pejabat yang korupsi, yang nota bene waktu diangkat jadi pejabat dan disumpah atas nama Allah. Tetapi kok tega-teganya mencuri uang rakyat?!

Sudah terlampau hina dan jahat kita sebagai manusia ciptaan Tuhan yang selalu mengatasnamakan namaNya demi kepuasan nafsu kita. Kita selalu bilang, negara kita adalah negara paling beragama. Tetapi kenyataannya, kita justru negara yang paling korup di Bumi ini. Bukankah hakikat agama adalah mendatangkan kedamaian dan persaudaraan yang kuat tanpa batasan?

Umat beragama diharapkan saling mengusahakan terciptanya perdamaian dan kesejahteraan yang hakiki. Pemeluk agama seharusnya meberi contributor bagi perdamaian, bukan peperangan. Fungsi utama agama bukan saja mengurus hubungan vertical, antara duniawi dengan Surga, melainkan juga hubungan horizontal, akni sesama.

Sadarkah kita akibat konflik umat beragama yang berkempanjangan tersebut negara menjadi kacau dan akhirnya rakyatnya yang menderita. Bahkan berpotensi kelaparan seperti halnya yang terjadi di negara Mali, Sudan, Somalia, dan negara lainnya. Apakah kita menghendaki situasi tersebut?

Renungkanlah! Seperti sepenggal lagu Jhon Lennon yang memimpikan tentang dunia yang damai tanpa benci dan keserakahan. Marilah tanggalkan ego bahwa kita yang dan marilah kita bergandengan tangan sebagai saudara, dan sebagai insan yang sama-sama diciptakan oleh Tuhan, yaitu, Tuhan Yang Maha Esa.








Leave a Reply