Terorisme sudah menjadi ancaman global. Semua negara mewaspadai ancaman Radikalisme dan terorisme menjadi ancaman yang paling ditakuti sebagai urutan pertama dari daftar ancaman-ancaman yang musti diwaspadai.

Dan, tidak dipungkiri, radikalisme serta terorisme adalah dari mereka-mereka yang mengaku golongan terentu. Dari golongan yang merasa paling benar. Dari golongan yang merasa paling suci, paling ngerti jalan ke surga.

Pertanyaannya adalah, kenapa golongan ini tidak menempuh cara yang lebih elegan untuk mancapai tujuan? Kenapa tidak menggunakan cara memberi keteladan agar bisa berkuasa di suatu negara?

“Mereka sebenernya adalah orang-orang yang putus asa, mas. SDM mereka rata-rata di bawah standart. Tidak menggunakan logika atau akal sehat dalam melihat kehidupan,” itu ucapan temen ketika pertanyaan di atas saya sampaikan.

Saya lalu melihat fakta yang faktual. Kaum radikali, atau bahkan teroris, dalam kelompok kecil terbukti cenderung menutup diri. Tidak mau bersosialisasi.

Dogmatisasi surga sudah menjadi harga mati. Bahkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai makluk sosial, yang harus mengedepankan proses panjang agar manjadi manusia yang bermanfaat dan berguna untuk sesama manusia dikesampingkan. Orientasi surga dengan jalan berjihad dan menghalalkan darah yang bukan dari kelompoknya tentu akan mendapat 72 bidadari jika berada di surga ketimbang menjalani ini dengan hidup susah.




Ke depan, tentu tantangan zaman akan semakin kompleks di tengah tuntutan hidup. Manusia mau tidak mau musti cerdas, kreatif serta bekerja lebih ekstra keras agar survive, agar bisa memenuhi tuntututan zaman.

Ketika banyak manusia yang cenderung tidak membekali dirinya dengan skil, dengan sumber daya manusia, tentu akan menjadi manusia yang hanya bisa “klenga klengo”. Menjadi manusia yang ketinggalan di semua aspek kehidupan.

Dalam keadaan yang sulit, ketika bertemu dengan “aliran sesat” itu lah. Otak manusia manusia yang memang tidak berotak akan gampang tergerus oleh faham radikal.

“Ente mau masuk surga? Gampang. Berjihadlah dengan golongan kami. Bunuhlah mereka-mereka yang tidak segolongan,” begitulah pesannya dan itulah yang terjadi.

Jika ada diantara siapapun yang merasa paling bener, suka menyalahkan, suka mengkofar-kafirkan, tidak melihat nilai-nilai kebaikan manusia secara universal. mengesampingkan nilai humanisme, itu adalah embrio dari radikalisme dan bisa jadi gampang menjadi teroris.

Jika anda radikal menyikapi perbedaan, apakah mau disebut teroris?








Leave a Reply