Pasca lengsernya rezim SBY karena purna tugas, lalu ketika terjadi “perang tanding” head to head antara Jokowi dan Prabowo, negeri ini yang tadinya agak lumayan dingin, agak lumayan harmonis, tiba-tiba yang semula hangat hangat kuku, atau yg lebih ngetrend “anget anget tahi ayam”, perlahan-lahan mulai sedikit memanas dan memanas.


Perang issu menyemarak di semua sendi kehidupan bangsa saat menjelang Pilpress. Mulai kelas warung remang-remang, kelas warung kopi hingga dunia maya. Dua kubu bertarung sengit. Saling serang secara pribadi kepada masing-masing kandidat tidak bisa dipungkiri telah terjadi tanpa bisa dihindari.




Sejatinya, seorang Jokowi yang sudah pergi haji, bahkan seorang muslim yang taat, yang mengedepankan akhlak dan budi pekerti dengan bukti memenangkan Walikota Solo di periode ke dua dengan telak, tiba-tiba entah angin apa, beredar luas Pak Jokowi dituduh PKI. Dituduh muslim abal-abal.

Semua berita dipelintir. Semua berita dijungkirbalikkan demi memenuhi syahwat agar bisa menang.

Akhirnya Jokowi terpilih. Apakah lalu urusan pelintir mempelintir berita selesai? Belum.

Serangan demi serangan bertubi-tubi datang ke arah Jokowi. Bahkan ketika Pak Jokowi sholat pakai kaos kaki juga dibuat heboh dengan dikait-kaitkan ke agama. Lalu ketika Pak Jokowi foto pakai sarung bermotif kotak-kotak, yang tentu saja jika dilihat dari sudut tertentu akan membentuk gambar salib, oleh mereka juga dibuat “memanas”.

Bagai puncak Gunung Es yang meleleh, saat Pilkada DKI gelembung-gelembung intoleransi semakn nyata. Ujaran-ujaran provokatif terpasang di gerbang tempat ibadah. Apakah para politikus yang berkompeten lalu terpanggil agar suasana lebih kondusif dan adhem?

Jangankan terpanggil, di balik selimut yang konon bisa kentut, politikus malah manggut-manggut.

Lalu, siapa yang bertanggungjawab atas terjadinya intoleransi di negeri ini? Kronologi yang berbicara!








Leave a Reply