Sejak 5 tahun terakhir, Jokowi akrab dengan fitnah keji. Ada yang menuduh kedua orangtuanya Kristen dan China. Beberapa pihak  menuduh Jokowi sebagai antek PKI yang pro-komunis. Pun ada yang menghinanya dengan meme porno bersama Megawati. Lebih sadis lagi ada pihak yang menuduh Jokowi yang Islam sebagai sosok yang anti Islam dan kafir. Namanya pun sering diplesetkan dari Jokowi menjadi Jokodok.

Pertanyaan publik pun muncul bertubi-tubi. Mengapa Jokowi begitu mudah difitnah, diolok-olok dan dihina begitu keji? Apakah karena Jokowi seorang koruptor? Tidak juga.

Apakah karena Jokowi seorang diktator dan terus menindas rakyat? Tidak juga. Apakah karena Jokowi seorang pembohong? Munafik? Tidak juga. Apakah Jokowi seorang penganut faham atheis, anti Islam dan penganut agama garis keras? Tidak juga. Apakah Jokowi pernah dan kerap mengucapkan kata-kata kotor? Tidak juga. Lalu, apa alasanya?

Barangkali ada tiga alasan mengapa Jokowi begitu mudah difitnah dan dihina. Pertama, Jokowi terlalu baik. Ia sosok yang santun, sederhana, merakyat, suka memberi, pekerja keras, humoris dan menghormati lawan-lawannya. Selama ini respon Jokowi atas fitnah dan hinaan yang diterimanya, lebih banyak memaafkan dengan senyum tulus. Jokowi terlalu lembut.

Jika di dunia ide ala Plato, saya sangat setuju sikap asli Jokowi ini. Namun, di dunia realita, sikap itu kontra-produktif. Masyarakat Indonesia bukanlah semuanya berkarakter burung merpati yang tidak pernah bertengkar. Karakter manusia Indonesia seperti manusia lain di dunia, beraneka-ragam, mirip hewan buas di hutan belantara. Di antara mereka, ada yang berlagak harimau, singa dan buaya, ada yang bertindak-tanduk seperti ular cobra dan ular python (ular sawah). Tak jarang ada yang berlagak tikus pengerat dan ayam betina petelur.




Publik mengharapkan Jokowi agar dalam menghadapi berbagai macam karakter manusia Indonesia itu, disesuaikan dengan karakternya. Singa, harimau dan buaya dihadapi dengan garang. Kalau bisa dipakai senapan pemburu untuk menakuti dan kalau terpaksa melumpuhkan mereka. Untuk ular cobra, Jokowi perlu memakai baju khusus anti gigitan ular, lalu memburu dan menangkap ular cobra itu. Setelah ditangkap, racun ular cobra itu diambil sementara kedua gigi taringnya dicaut. Niscaya ular cobra akan jinak dan tidak agresif lagi.

Untuk ular python yang suka melilit dan menelan mangsanya bulat-bulat, cukup kasih makanannya seekor sapi gila. Dijamin ular python itu akan diam sepanjang tahun menunggu mangsanya busuk di perutnya. Untuk tikus cukup jebakan. Biar kepalanya terjepit putus pada mata gergaji jebakan. Terakhir, untuk ayam betina petelur yang ribut bercoleteh itu, cukup ditangkap, dikandangkan dan diasingkan dari keramaian.

Alasan ke dua Jokowi begitu gampang difitnah dan dihina adalah  karena ia berwajah ndeso, berasal dari kalangan sipil, bertubuh kurus dan tidak seganteng presiden sebelumnya. Karena Jokowi berasal dari kalangan sipil, ia dianggap lemah, tidak garang, disepelekan dan mudah digertak. Saya setuju dengan ucapan Jokowi yang sudah mulai memakai kata ‘gebuk’. Walaupun ucapan itu agak terlambat, namun kata itu lumayan berefek dan membuat Amin Rais, Fadli Zon dan Fahri Hamzah kejang-kejang.

Publik menyarankan kepada Presiden Jokowi agar sesekali meniru Duterte di Philipina yang menyatakan perang total terhadap Narkoba. Jokowi juga demikian. Jokowi harus menyatakan perang total terhadap para pemfitnah. Jokowi perlu menunjukkan dirinya sebagai seorang Presiden dan Panglima Tertinggi di republik ini dan bisa bertindak lebih garang daripada militer. Sesekali melontarkan kata habisin kepada pihak-pihak yang kerjanya hanya memfitnah, adu domba dan provokator.

Alasan ke tiga adalah strategi busuk melengserkan Jokowi, mengganti Pancasila dan mendirikan negara khilafah. Cara melengserkan Jokowi adalah dengan mengkampanyekan fitnah-fitnah bahwa Jokowi pro-komunis, sedang membangkitkan PKI, anti Islam dan seterusnya. Ketika propaganda ini sudah berakar dan berhasil mendelegitimasi pemerintahan Jokowi, maka langkah selanjutnya adalah revolusi dan kudeta.

Skenario negara khilafah yang telah dirancang dengan amat detail sejak 20 tahun lalu, kini semakin menguat pada masa pemerintahan Jokowi. Buktinya HTI sudah mulai berani mengadakan secara terang-terangan forum khilafah internasional. Bisa saja ada pihak yang mendanai gagasan negara khilafah yang sebetulnya ditunggangi oleh pihak asing untuk menjadikan Indonesia seperti Syria dan Libia. Setelah Indonesia saling bunuh, lalu pihak asing dengan gampang mengeruk sumber-sumber kekayaan alam Indonesia yang melimpah itu.

Untuk mengatasinya, publik mengharapkan Jokowi agar lebih berani membubarkan HTI, FPI dan ormas-ormas anti Pancasila. Lebih cepat lebih baik. Pembubaran itu bisa dilakukan dengan cepat lewat Keppres atau Perpu. Pembubaran HTI dan ormas di pengadilan akan memakan proses panjang dan rumit. Jadi, ucapan ‘gebuk’ kepada ormas anti Pancasila sudah benar namun butuh aksi nyata, tegas dan garang seperti pembubaran lewat Perpu.

Penegakkan keadilan di era Jokowi mulai bersinar terang. Keadilan sudah mulai datang. Vonis 3 tahun penjara bagi pemfitnah keji Jokowi lewat  buku “Jokowi Undercover” sudah tepat. Selama ini seabrek pihak telah memfitnahnya dengan keji. Namun, belum satupun yang divonis bersalah di pengadilan. Kini vonis 3 tahun penjara Bambang Tri Mulyono, penulis buku Jokowi undercover, berefek dahsyat.




Pertama, Jokowi kini telah mulai meraih keadilan. Ia yang nyaris hancur karena fitnah kini mulai menggeliat bangkit. Jokowi kini sudah memiliki  cukup senjata untuk maju menggebuki lawan-lawannya. Ketika Ahok mencabut banding, maka energi kepolisian diarahkan untuk menghantam para pemfitnah.

Ke dua, para lawan Jokowi yang selama ini gemar memfitnah, mulai kejang-kejang. Mereka mulai digebuk satu per satu. Tersangkanya Alfian Tanjung hari ini [Selasa 30/5] adalah lanjutan penggebukan para tukang fitnah di negeri ini. Ini adalah langkah awal untuk membuat mati kutu dan membungkam selamanya para tukang fitnah. Semoga para pemfitnah keji di negeri ini semakin tengkurap, tiarap dan tak berkutik ketika Jokowi mulai garang dan bereaksi.

Ke tiga, bagi Bambang Tri Mulyono, penulis buku Jokowi Undercover, vonis itu memberi efek jera kepadanya. Ke depan ia harus hati-hati dan cerdik agar tidak diperalat lagi oleh siapun yang menunggangi dirinya untuk memfitnah Jokowi. Pun ia tidak boleh lagi mencari ketenaran, duit atau apapun dengan cara memfitnah seorang Presiden.

Begitulah kura-kura.







Leave a Reply