Dalam mengomentari Teror Kampung Melayu, Menpora (Imam Nahrawi) bilang: “Enggak habis pikir dengan mereka yang merencanakan tindakan keji dan kejam ini.” “Enggak habis pikir . . .            tindakan keji dan kejam ini.”

Betul memang bagi orang normal jadi heran mengapa bisa timbul pikiran membunuhi orang yang tidak bersalah terhadap Islam maupun kesalahan lain, seperti teror Kampung Melayu, dan juga seperti di Manchester itu yang membunuhi orang muda dan anak-anak yang nonton pertunjukan konsert musik.

“Barang siapa keluar dari rumah, membunuh atau dibunuh maka dosanya akan diampuni dan masuk surga. Keluar dari rumah, ngebom, mati dan orang lain mati, masuk surga,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj dalam menanggapi sikap teroris sebagai pemahaman yang keliru dengan bom bunuh diri masuk surga.

Kekeliruan ini adalah dalam memahami Surat Ali Imron ayat 195, ayat mana adalah dalam konteks perang khandak atau perang parit ketika Madinah dikepung oleh orang kafir dan Muhammad SAW.

“Nabi memberi motivasi kepada masyarakat Madinah. Majulah, hidup atau mati, membunuh atau dibunuh, (imbalannya) surga,” urai Kiai Said, dan melanjutkan.

Karena itu, kalau mempelajari Islam, tidak cukup membaca terjemahan Alquran, mereka juga harus memahami tentang sebab-sebab turunnya sebuah ayat dan untuk mempelajari itu tidak cukup belajar hanya dalam waktu yang singkat, katanya, dirilis merdeka.com.




Dari penjelasan ini terlihat pelaku teror ini keliru memahami ayat 195 Surat Ali Imron. Orang-orang naif inilah yang diindoktrinasi dan digarap jadi teroris yang ‘keji dan kejam’ itu. Selain itu pasti juga termasuk orang-orang dari dunia kriminal yang senang bikin kejahatan, pembunuhan juga pencari duit sebagai kesenangan. Terakhir malah banyak dari penyandu narkoba seperti teror Niece.  

“Saya perintahkan untuk mengejar sampai ke akar-akarnya, karena kita tahu korban yang ada ini sudah keterlaluan,” kata presiden Jokowi di Solo, Jawa Tengah [Kamis 25/5].

Presiden juga mengingatkan bahwa dalam menghadapi aksi teror ini bangsa kita  harus tetap tenang, dan menjaga persatuan dan menjaga kesejukan dalam mengawal terus NKRI, menjaga terus kesatuan dan keharmonisan bangsa ini.

Mengejar teroris “sampai ke akar-akarnya,” kata presiden.

Bravo Pak. Kalau ‘akar-akarnya’ yang dimaksudkan oleh Presiden Jokowi pastilah yang berada di Indonesia, artinya yang terjangkau oleh aparat keamanan RI. Tetapi ada akar yang lebih dalam, akar dari akarnya itu yang diluar Indonesia, yaitu seperti yang sudah dipaparkan dengan sangat tegas dan terang benderang oleh Prof. Chossudovsky Ottawa University, dia bilang: “The so-called war on terrorism is a front to propagate America’s global hegemony and create a New World Order. Terrorism is made in USA, The global war on terrorism is a fabrication, a big lie”. 

Teroris ISIS dibentuk oleh Presiden Obama dan Clinton sebagai co-foundernya kata Presiden Trump. Kata-kata Trump bisa dipahami sebagai pertanda perubahan arus jaman ke arus nasionalisme menentang globalisme neoliberal dimana Obama adalah perwakilannya yang terakhir di Gedung Putih, atau ‘Obama was the last gasp of neoliberalism’.

Untuk apa bangun ISIS?

Pertama cari duit, duit, duit . . . SDA minyak Syria dan Irak adalah sumber duit yang luar biasa. Selama perang ISIS sudah banyak miliar dolar atau bisa sudah mencapai triliunan dolar masuk ke pundi-pundi pendiri ISIS. Bermacam-macam berita dan laporan soal duit berlimpah ini, dibawah ini beberapa laporan.

Soal duit ini Washington Post tulis: “According to estimates by the Rand Corporation, the Islamic State’s total revenue rose from a little less than $1 million per month in late 2008 and early 2009 to perhaps $1 million to $3 million per day in 2014. lihat di SINIDari majalah Time bilang: “The Islamic State of Iraq and Greater Syria (ISIS) takes in about $80 million a month in revenue, according to a new report by IHS (lihat di SINI).

Selain tujuan utama duit ini, tujuan lainnya tentu politik. Politiknya apa?

Politiknya ialah mau mencapai ‘world hegemony’ seperti yang ditegaskan oleh Prof Chossudovsky di atas. Untuk ini, yang utama ialah pakai taktik dan strategi kolonial yang sudah terkenal yaitu ‘divide and conquer’. Dalam taktik ini terutama dipakai ialah ‘terorisme’ (+ kudeta jika mungkin) yang dalam kenyataan sudah mampu memecah belah dimana-mana dibanyak negeri dunia yang kaya SDA, termasuk di Indonesia. Teror 3 juta 1965 di Indonesia adalah salah satu contoh ‘dini’ dalam sejarah neolib mencapai ‘global hegemony’ memanfaatkan perpecahan dalam satu nation, dan cari duit berlimpah dari SDA Indonesia seperti perusahaan neolib Freeport Papua yang malah dikuasai selama setengah abad dengan hasil triliunan dolar pasti. Bayangkan dijarah 50 tahun!

Politiknya ini yang jadi stasiun akhirnya juga adalah DUIT. Jadi power untuk cari duit, dan duit untuk cari power. Kemanusiaan, penderitaan, kematian jutaan orang termasuk anak-anak, apalagi soal keadilan . . . bukan urusannya. Inilah politik Greed and Power dari neolib yang sekarang di USA disebut juga dengan istilah ‘deep state’. Dan karena ‘Obama was the last gasp of neoliberalism’, terlihat juga deep state ini berusaha memasukkan orang-orangnya ke Gedung Putih seperti Goldman Sachs dll.

Bahwa Trump adalah seorang nasionlist Amerika bisa dilihat dari pidato pelantikannya a.l. dia bilang:

“We will seek friendship and goodwill with the nations of the world – but we do so with the understanding that it is the right of all nations to put their own interests first.

We do not seek to impose our way of life on anyone, but rather to let it shine as an example — we will shine — for everyone to follow.”

Setiap nation atau bangsa di dunia punya hak untuk mengutamakan kepentingan nasionalnya lebih dahulu, dan ini harus dimengerti oleh semua yang lain. Itulah dasar kerja sama dengan tiap bangsa bagi Trump, terutama dalam politik bilateralnya.

USA saat ini sudah memasuki era baru dimana masyarakat sudah terpecah jadi dua bagian, yaitu pro nasionalist Trump atau pro deep state the establishment. Jadi kalau sekarang kita ngomong soal politik negeri Paman Sam ini, terutama kalau bicara soal politik luar negerinya, kita harus siap pikiran, Amerika yang mana, nasionalist Trump atau globalist deep state.

Seluruh dunia memang sedang mengalami perubahan arus besar ini, nasionalisme kontra internasionalisme Marx maupun internasionalisme neoliberal atau deep state. Mobilisasi besar-besaran untuk menjatuhkan Trump sedang terjadi di USA, tetapi Trump siap untuk melawan dan menangkisnya atau hit back, dia tidak menyerah dan bisa menang karena arus sejarah itu.




Trump dan orang-orangnya dituduh kerja sama dengan Rusia Putin dalam kampanye Pilpres lalu yang bikin kekalahan Clinton pujaan deep state. Tetapi semua tuduhan itu tidak terbukti. Terakhir ialah Trump dituduh membocorkan rahasia ke Dubes Rusia ketika ada pembicaraan di Gedung Putih. Trump malah serang balik bilang kalau dia memang memberikan informasi yang perlu untuk Rusia supaya bersama bisa lebih efektif melawan dan memerangi terorisme.

Bahkan dalam pidatonya di Brussel kemarin 25/5 sehabis kunjungannya ke Arab Saudi, dan bicara di gedung NATO yang baru dan megah itu, Trump bikin kecewa semua anggota NATO, karena mengulangi kritiknya supaya semua anggota bayar ke NATO jangan hanya jadi beban AS saja. Trump juga menegaskan supaya NATO perangi terorisme sebagai tugas utama, karena musuhnya bukan lagi Soviet seperti pembentukannya dulu. Lebih lengkapnya bisa dibaca di SINI.

Pemikiran Trump soal PBB sebagai tempat leha-leha saja bagi pegawai-pegawainya. NATO juga menurut Trump sudah menjadi badan yang mirip, tempat leha-leha dan pamer kekuatan bagi anggotanya. Ini jelas menguntungkan siapa . . . industri senjata milik neolib deep state the establishment yang sekarang jadi lawan utama Trump di AS.






Leave a Reply