Sejujurnya, dalam hati yang paling dalam, saya teramat kasihan sama seorang Rissik Sihab. Kenapa? Dari beberapa hal beliau mau tidak mau harus diakui sebagai manusia pemberani. Yang lumayan kharismatik sehingga banyak umatnya rela “sendiko dawuh” apapun yang diucapkan.

Sebagai seorang pemimpin umat dari Ormas dengan pengikut yang lumayan besar, jika saja Ormas ini tidak dibawa ke ranah politik, perilakunya tidak terlalu radikal, dan mengedepankan akhlak ketimbang agak beringas, tentu Ormas yang dipimpin akan menjadi hebat. Bahkan menjadi inspirator demi tegaknya NKRI.

Namun, nasi sudah menjadi lontong. Sudah menjadi tape, Rissik Sihab tidak menyadari dirinya dimanfaatkan oleh para politikus untuk menciptakan situasi. Untuk membuat kondisi apa maunya sang politikus.

Jika diperhatikan, bagaimana mungkin seorang Rissik bisa begitu detail menerangkan tentang palu arit di logo uang. Bagaimana mungkin secara rinci seorang Rissik membuat potongan-potongan gambar dengan tehnologi photo shop lalu dan, dengan keberaniannya, menerangkan bahwa itu lambang PKI?

Seringkali memang, banyak orang yang lupa diri ketika berada di atas. Apalagi bergaul dengan para politikus busuk yang akan menggunakan cara-cara kotor dan licik untuk mencapai tujuan.

Ketika sekarang Rissik Sihab terjerat deretan kasus hukum yang melilit, apakah para politikus akan membelanya?

Ada sih, itupun seorang tua yang mantan petinggi di sebuah partai namun sudah tidak bertaring yang bilang gini: “Ulama jangan dikriminalisasi!”

Lalu, apakah kepolisian akan mendengar teriakan orang tua ini?

“Hukum harus ditegakkan. Tidak pandang bulu meskipun itu bulunya tokoh agama,” …..








Leave a Reply