Saya pernah membaca Catatan Pinggir Goenawan Muhammad. Dalam salah satu tulisannya dia bercerita tentang pemberangusan buku. Penguasa atau mereka yang merasa berkuasa memang selalu terusik dengan kata-kata.

Maka buku-buku dibakar. Opini ditekan. Tulisan dimusuhi.

Syahdan ada seorang penulis kritis. Ketika ribuan buku hendak dibakar karena dianggap melenceng, penulis itu sibuk mencari bukunya diantara tumpukan. Dia sedih. Ternyata bukunya belum termasuk daftar berangus.

“Bagaimana aku bisa mengklaim sebagai penulis yang jujur dan menyuarakan kebenaran, jika bukuku tidak ikut dibakar?”

Kini urusan memberangus opini juga sedang terjadi di Indonesia. Pelakukan adalah para bigot. Mereka seperti Hansip di dunia maya yang menghardik siapa saja yang opininya berbeda.

Bukan cuma melakukan penyerangan di dunia maya, dengan serangan cyber kreminya. Tapi juga di dunia nyata. Korbannya adalah mereka yang dianggap rentan, seperti golongan minoritas, perempuan, warga Tionghoa. Persekusi atau perburuan masyarakat lemah yang punya opini berbeda dilakukan. Menurut catatan YLBHI sudah ada 55 korban persekusi.

Modalnya materai Rp 6000. Orang yang status medsosnya dianggap melawan didatangi. Diintimidasi. Dipaksa menuliskan permintaan maaf dengan tandatangan di atas materai. Lalu dipermalukan.




Kemarin kita saksikan FPI Solok mengintimidasi dr. Fiera Lovita dengan pola ini. Sampai dokter muda itu harus diungsikan dari Solok. Di media sosial beredar video seorang bocah Tionghoa sedang diintimidasi para pria berwajah sangar.

Entahlah. Apa mereka tidak juga mengambil pelajaran dari Rizieq Shihab, yang ceramah dan orasinya seringkali kasar, mencaci dan berusaha mempermalukan orang lain. Ahok dipermalukan. Jokowi dipermalukan. Pancasila dihina. LBH, Komnas HAM, PBB semua dicaci.

Kini lihat nasib Rizieq. Jika Allah sudah menyingkapkan aib seseorang, siapa yang bisa menahannya? Mau ribuan laskar berusaha mengancam, mau intimidasi, mau persekusi, mau tandatangan di atas materai. Itu gak ngaruh.

Bukan hanya di dunia nyata. Perburuan juga dilakukan di dunia maya. Katanya mereka punya cyber kremi yang akan menyerang siapa saja yang berbeda.

Lihat saja bagaimana kini mereka direpotkan dengan anak usia 18 tahun, Afi. Serangan dilakukan untuk mendelegitimasi Afi. Berusaha mempermalukannya. Sebab yang disuarakan Afi adalah suara akal sehat. Mereka yang proses evolusinya belum selesai pasti tersinggung dengan tulisan-tulisan Afi.

Ada banyak tulisan Afi dan saya tetap kagum jika tulisan-tulisan itu ditulis oleh seorang anak usia 18 tahun. Bahkan jikapun Afi mengutip beberapa tulisan itu dari akun lain, kekaguman saya tidak akan luntur.

Di tengah anak-anak seusia Afi sibuk bergaya Awkarin. Ketika mereka lebih sibuk mendistribusikan channel MTV atau Drama Korea, Afi malah mengalihkan perhatiannya pada isu toleransi dan kebangsaan.

Kita butuh Afi bukan hanya karena kualitas tulisannya. Kita butuh Afi, anak muda 18 tahun yang konsen dengan masalah kebangsaan. Kita butuh Afi mampu menarik gerbong teman-temanya bahwa soal toleransi, soal keindonesiaan, soal agama damai adalah masalah serius bangsa ini. Itu harus menjadi perhatian anak-anak muda, pewaris sah Indonesia.

Jadi saat Afi diserang pasukan cacing kremi, itu sebagai tanda Afi sedang menyuarakan kebenaran. Ketika dr. Fiera diintimidasi itu menjelaskan dr Fiera punya opini yang tepat. Demikian juga orang-orang yang jadi target geruduk materai Rp 6000. Apa yang mereka suarakan sesuai dengan kenyataan.

Tapi Afi bukan hanya menampar para bigot. Afi juga sedang meledek para seniornya. Ketika anak usia 18 tahnun perhatiannya sudah fokus dengan isu-isu toleransi dan kebangsaan, Denny Siregar dan Birgado Sinaga malah masih sibuk merencanakan nobar file 3gp.

Jangan lupa bro, ustad Abu Janda Permadi Heddy Setya, diundang juga. Nanti bisa tuker-tukeran koleksi.








Leave a Reply