Siapa yang tidak kenal sama Si Fahri ini? Dia adalah wakil rakyat yang selalu diberi gelar terhormat. Bukan hanya wakil rakyat saja, namun dia adalah wakil ketua, wakil dari ketua para wakil rakyat. Rakyat dari negeri ini yang namanya Indonesia.

Sejak dia kena pecat dari partai yang selama ini diwakilinya, dan diminta hengkang dari wakil rakyat, apakah si Fahri lalu menerima dengan legowo? Wooo… yoww ora. Tidak. Dengan dalih undang-undang tentang Wakil Rakyat, si Fahri tetap ngotot dan “methingkring” duduk manis di kursi empuk tersebut.

Barangkali jika manusia biasa tentu akan malu, akan segera “kukut-kukut” dan beres-beres jika disuruh mundur oleh partai yang mengusungnya. Namun, karena si Fahri bukan manusia biasa, etika dan tata krama tidak terlalu penting. POKOK E GOYANG di Senayan. Edan, bukan?




Apakah Si Fahri potret dari wakil rakyat secara menyeluruh? Entahlah, silahkan mempersepsikan sendiri-sendiri.

Dalam suatu kesempatan, pernah si Fahri kecethit ngomong bahwa “para TKI adalah babu di negeri orang”. Tentu saja omongan NGGALDRAH ini menuai kritikan campur cabai rawit, merica dan bahkan jahe merah. Pedas dan panas.

Lalu, apakah si Fahri menanggapi kritikan tersebut? Konon kritikan itu malah dianggap radio rusak.

Jika baru-baru ini si Fahri ditolak kedatangannya di Tanah Karo (Sumatra Utara) seperti halnya di Sulawesi Utara, apakah si Fahri lalu mencari kaca untuk bercermin? Atau, jika tidak ada kaca mencari genangan air siapa tahu ada wajahnya di sana? Atau malah bercermin pada sebuah gelas?

Bisa jadi. Lha, wong Si Fahri manusia lucu yang kebetulan jadi wakil rakyat.

Fahri …. Fahri ….

Foto header: Sebuah kampung tradisional Dokan) di Dataran Tinggi Karo (Foto: Juara R. Ginting). Video di bawah adalah sebuah pertunjukan musik dan tari Suku Karo yang ditampilkan oleh Sanggar Sirulo (sepupunya Sora Sirulo)








Leave a Reply