Bagi anda yang pernah membaca tulisan saya tetang GoJek sebelumnya, mungkin sepintas menganggap saya tidak konsisten. Ketidakkonsistenan saya mungkin karena sebelumnya saya begitu memuji terobosan transportasi yang dilakukan oleh GoJek. Itu tentu aneh alias tidak konsisten jika judul tulisan ini saya tulis dengan “GoJek Yang Aneh”. Penilaian yang plin plan terhadap saya akan adil jika anda menyelesaikan dulu membaca tulisan ini.

Beberapa waktu lalu, Kementerian Perhubungan melakukan revisi Permenhub No.32 Tahun 2016, dan diberlakukan per 1 April 2017. Informasi yang dipublikasikan di laman dephub.go.id, revisi itu secara garis besar mewajibkan transportasi berbasis aplikasi menjalankan usaha sama seperti transportasi konvensional yang harus memiliki pool, memiliki STNK atas nama perusahaan, memiliki fasilitas perawatan, dan lain-lain.




Penyesuaian tarif juga diatur dalam revisi tersebut. Menhub, Budi Karya Sumadi, di laman dephub.go.id menyatakan, revisi dilakukan untuk memberi payung hukum bagi transportasi online, dan juga agar tercipta kompetisi yang sehat antara transportasi konvensional dan transportasi berbasis aplikasi (Lihat di SINI).

Beberapa kali saya dan istri menggunakan GoJek setelah penetapan revisi PM 32 tersebut. Sepintas memang ada kenaikan sekitar Rp.1000 – Rp. 2000. Bagi saya ini tidak menjadi masalah, dibandingkan saya harus naik angkot yang perjalanannya tidak bisa saya perkirakan. Sudah tidak bisa diprediksi, ongkos perjalanan juga menjadi terlalu mahal. Naik taksi (konvensional) memang agak nyaman, walaupun di tengah kemacetan kita masih bisa duduk nyaman. Akan tetapi, tetap saja waktu tidak bisa diprediksi, ditambah ongkos yang sangat mahal.

Saya menilai sampai pemaparan ini, saya masih konsisten. Masih memuji GoJek.

Saya akan mulai keanehan saya dengan sedikit mengulas sepak bola Indonesia. Saya sendiri sudah mulai merasa aneh. Transportasi kok jadi membahas sepakbola. Tetapi mari kita semakin menggali keanehan saya ini. PSSI sedang mencoba menunjukkan reformasi yang sedang berlangsung dengan mengusung selogan liga utama (Liga-1) dengan “Liga Baru Semangat Baru”.

Selain tulisan slogan itu, muncullah logo dari sponsor utama liga ini. Di sinilah keanehan itu saya lihat. Sponsor utamanya adalah GoJek dan Traveloka. Keanehan bagi saya bukan terletak pada perbedaan jenis usaha yang dijalankan oleh kedua perusahaan itu dengan olahraga sepak bola. Bagi saya yang aneh adalah, bagaimana bisa GoJek menjadi sponsor utama Liga-1 ini. Tentu GoJek dan rekannya harus mengeluarkan biaya yang sangat mahal sebagai sponsor utama.

Aneh bagi saya, dengan tarif yang lebih murah tetapi dampak berantainya sangat aneh. Bagaimana tidak aneh, semua orang yang mau bekerja mendapat lapangan pekerjaan. Dengan kata lain. itu telah mengurangi pengangguran. Selain itu kecepatan perpindahan orang dan barang menjadi lebih cepat, dengan konsumsi bahan bakar yang lebih sedikit.

Secara ekonomi, roda ekonomi berputar lebih cepat. Keanehan yang lebih aneh lagi adalah pengemudinya yang memungkinkan untuk KPR. Ini juga membantu pemerintah menyediakan perumahan yang layak bagi warganya. Dari sisi Liga-1, bayangkan jumlah ekonomi yang terlibat. Kehidupan para pemain dan semua tim sepak bola akan berputar lebih baik. Pertelevisian mendapat pendapatan dari iklan yang tayang, para penjual aksesoris bola yang mendapat siraman rejeki. Begitu banyak dampak berantai dari liga ini. Aneh sekali GoJek bisa menjadi salah satu motor utamanya.

GoJek memang aneh. Masih muda sudah bisa memberi dampak yang begitu luas. Jika badan transportasi lain, yang sudah berumur panjang sejak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 1945, yang mampu memotori perputaran ekonomi yang begitu besar dan luas tentu saja bagi saya tidaklah aneh. Mungkin inilah yang dinamakan oleh Rheinald Kasali sebagai DISRUPTION. Jadi disruption itu aneh, tetapi saya sangat bersyukur atas keanehan ini.

Salam semangat dan perjuangan.








Leave a Reply