Sejak dulu, leluhur bangsa ini terkenal dengan tepo selironya, terkenal dengan tata krama, sopan santun terhadap apa saja dan siapa saja. Ketika Islam masuk di negri ini yang masih bernama Nuswantoro (dialek Jawa. sama dengan Nusantara gitulah), ketika bangsa ini masih beragama Hindu dan Budha, apakah lalu para Ulama berdakwah dengan cara-cara murang toto atau keras?

Apakah mereka para Ulama menyebarkan Islam itu dengan cara mengkofar-kafirkan mereka? Mengatakan “wooo .. itu Bid, Ah dosa besar. Kalian akan masuk neraka!!” (?)

Ora. Tidak. Ulama dulu membaur dengan masyarakat, menyikapi dengan sopan, dengan lemah lembut. Bukan hanya dengan cangkem atau omongan. Ulama saat itu memberi contoh bukan malah mlekotho (memaksakan kehendak). Ulama saat itu mengedepankan akhlak bukan malah merusak. Ulama saat itu ndandani, memperbaiki bukan malah merecoki. Ulama saat itu bukan meden-medeni (menakut-nakuti), tapi malah menghormati.




Lalu, apa hasilnya? Islam yang rakhmat untuk sekalian umat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Menjaga kerukunan serta toleransi membuat suasana damai aman dan sentosa.

Ketika mengetahui bahwa bangsa ini teramat sangat menghormati leluhur yang meninggal, yang istilah Jawa mikul duwur mendem jero, dan saking hormatnya terhadap orangtua yang meninggal, ada tradisi makan-makan selama 7 hari, para ulama mengajak mereka baca Yasin. Tahlillan.

Menurut cerita, saat itu rakyat heran, yang dibaca itu apa? Namun, ketika diceritakan itu adalah memuji kepada sang yang Khalik, yang maha memberi kehidupan, mereka malah seneng. Oohh…. sangat cocok, kyai.

Wayang juga demikian. Saat itu, sebelum dimodifikasi, pagelaran wayang sama sekali monoton dan sangat membosankan. Oleh ulama didandani, diperbaiki, dimasukkan ajaran Islam. Direnovasi dengan seperangkat gamelan. Malah ada Punokowan Semar, gareng, Petruk dan Bagong sebagai perlambang rakyat kecil tapi mempunyai kesaktian yang luar biasa.




Lalu ketika Jaman Kolonial, para Ulama sadar bahwa untuk mengusir penjajah harus ada wadah. ada persatuan dari para ulama agar bisa menyatukan satu pikiran, dibentuklah Nahdlatul Watan Kebangkitan Berkebangsaan).

Karena dirasa kurang cocok maka dibentuk Nahdlatul Fikri. Ini dirasa juga kurang pas. Maka pada 1926, dibentuklah Nahdlatul Ulama. Hingga sekarang.

Apakah para Ulama NU juga pernah dikritik? Ya, pernahlah. Dalam suatu ketika, Kyai Hasyim memakai celana dan jas. Di kalangan umat Muslim saat itu geger. Kyai Hasyim dianggap melenceng, dianggap lali kiblate, dianggap kafir, dianggap liberal.

Apakah lalu Kyai Hasyim marah-marah? Apakah Umat NU lalu juga beli Perangko 6.000 dan menggeruduk agar yang ngritik meminta maaf serta membuat pernyataan maaf?

Oraaa… Kyai Hasyim tetep masam mesem. Dinyek yow wis ben. ngko rak yow meneng dhewe. Gusti Alloh kuwi ndeleng menungso karono Akhlak (Yaa, biar saja, nanti kalau sudah capek kan akan diam sendiri yang menghina. Alloh itu melihat manusia karena akhlaknya).

Nah, itulah filosofi NU. NU yang mengedepankan Akhlak, yang mengedepankan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari dalam berbangsa dan bernegara, yang oleh Gus Dur diimplementasikan dengan baik meski seorang Gus Dur yang juga lulusan Mesir namun pernah dihina Rissik Syihab yang dikatakan: “Gus Dur itu buta matanya dan buta hatinya.”

Apa kata Gusdur? “Jangan dipikir. Biar saja. gitu aja kok repot.”

Untunglah negeri ini ada NU. Lalu, apakah FPI menguntungkan? Entahlah, yang jelas prangko 6000 ribu sekarang susah nyarinya. Siapa yang beruntung, coba?







3 COMMENTS

  1. “Sejak dulu, leluhur bangsa ini terkenal dengan tepo selironya, terkenal dengan tata krama, sopan santun terhadap apa saja dan siapa saja.”

    Kalimat ini tentu bisa dirasakan dan dipahami oleh setiap insan bangsa Indonesia, artinya masih tersirat mendalam dalah sanubari insan bangsa ini. Tetapi sering hanya tersirat saja, dalam praktek sudah banyak luntur. Dan kita tentu bertanya: Mengapa sekarang tidak begitu lagi atau sudah sering melupakan tata krama lama yang begitu indah?

    Paling gampang jawabannya ialah karena sekarang manusia mengutamakan kepentingan dirinya atau individualisme katanya. Tetapi dari mana ajaran individualisme itu? Bisakah diselidiki asal usulnya?
    Wow . . . jadi panjang ceritanya kalaupun mungkin ditelusuri he he . . .

    Tetapi tidak begitu! Gampang dan singkat bisa ditelusuri. Dilihat dari sejarah, proses yang semua diluar kesedaran manusia, perubahan dunia dan kesadaran, karena perubahan cara produksi (ekonnomi).

    Perbudakan yang kejam diganti feodalisme yang kejam, digantikan oleh kapitalisme yang . . . bikin pembaruan luar biasa bagi kemanusiaan . . . diganti oleh kapitalisme neoliberal yang . . . ideologi dasarnya ialah individualisme dan kebebasan pribadi . . . yang telah menciptakan kekayaan luar biasa, tetapi kekayaan dunia itu berada hanya ditangan segelintir orang . . . dan yang memakai divide and conquer dan 3 senjata utama (terorisme, narkoba, korupsi) mempertahankan dan meluaskan kekuasaannya diseluruh dunia. Divide and conquer ini bisa dengan demo besar-besaran + nasi bungkus kalau dinegeri miskin.

    Kalau di negeri kaya orang tidak mau disogok nasi bungkus, harus dengan teror atau narkoba atau korupsi (bribe). Neolib memakai narkoba sebagai kuda troyanya, terorisme untuk memecah belah dan menakut-nakuti, dan duit (korupsi) dengan jumlah besar bisa bikin apa saja, artinya apa saja!
    Dan neolib banyak duitnya, dan di AS sudah memiliki pemerintahan AS sejak era Andrew Jackson 1829, menguasai dunia finans dan ekonomi negara.

    Jadi ideologi individualisme itulah yang merusak tata krama leluhur bangsa Indonesia itu.

    Mungkinkah kita bisa mendapatkan kembali tata krama indah itu? Atau tata krama itu akan hilang untuk selama-lamanya?

    Untuk dapat jawaban yang lumayan terpaksa kita tinjau dari segi dialektika perubahan hal-ihwal, dari segi hukum-hukum kontradiksi, artinya dari segi tesis-antitesis-syntesis Hegel. Saya ambil contoh yang besar dan berjangka panjang dalam sejarah perkembangan bangsa-bangsa didunia sejak revolusi Perancis sampai ke perkembangan neoliberalisme pada pertengahan abad 20.

    Prosesnya ialah: nasionalisme-internasionalisme/sosialisme-nasionalisme, terjadi sampai kira-kira pertengahan abad lalu, dan selanjutnya nasionalisme-internasionalisme/neoliberal-nasionalisme/kultural masih dalam proses sampai sekarang. Di AS proses kontradiksi ini sudah mencapai puncaknya ketika Trump melangkah ke Gedung Putih.

    Semaraknya gerakan atau pemikiran nasionalisme/kultural ini diseluruh dunia belum pernah ada taranya sebelumnya, termasuk di Eropah Barat, menunjukkan perubahan imbangan kekuatan dalam kontradiksi itu, dan sudah bisa dipastikan sejarah menuju kemana. Artinya periode neoliberalisme akan tersisih walaupun masih menunggu waktu lama karena masih kuat dan kekuasaannya sudah sempat begitu besar terutama di AS sebagai negara adidaya dunia dimana sudah sudah berkuasa sejak era Andrew Jackson artinya hampir sejak 200 tahun lalu, dan punya kekuasaan finans yang tidak ada bandingannya.

    Itulah jawaban yang pasti bahwa tata krama leluhur kita itu pasti akan semarak kembali sejalan dengan semaraknya gerakan nasionalisme/kultural seluruh dunia artinya kekalahan neikub dengan ideologinya yang merusak kemanusiaan itu.

    MUG

Leave a Reply