Artikel Pak Eko Kuntadhi ini sangat bagus dan sangat perlu untuk mengimbangi indoktrinasi busuk dan keji mengelabui dan menipu orang-orang naif seperti teroris Sukri (Lihat Dasar Sukri). Artikel ini perlu disebarluaskan, karena semakin banyak yang membaca semakin banyak pula yang tergugah pikirannya untuk tidak tertipu lagi oleh propaganda atau indoktrinasi yang menyesatkan. Analisa dan pikiran seperti ini perlu selalu untuk hit back indoktrinasi busuk itu.

Cara praktis dan briliant seperti ini mengingatkan kita juga bagaimana Trump dkk mengimbangi dan memukul mati propaganda Clinton dkk (the establishment) dalam memanfaatkan kesalahan Trump soal omongannya atas wanita, yang berimbas sangat ‘mematikan’ bagi kampanye Trump.




Lantas. Trump dkk mencari jurus yang mematikan juga bagi Clinton dkk yaitu mengkedepankan seorang wanita yang pernah diperkosa oleh Bill Clinton dan diadakan press conferene dengan wanita tsb. Dengan begitu senjata mematikan Hillary Clinton menimpa balik Clinton sendiri dan kemenangan Trump dalam Pilpres terjamin tidak terganggu oleh soal satu ini, yang memang sangat fatal dalam kelanjutan kampanye Trump.

Bahwa Trump dengan cita-cita besar perjuangan nasionalis AS bisa diganggu atau digagalkan dengan soal-soal seperti di atas telah menjadi pikiran taktik dan strategi Trump dkk. Taktik dan strategi praktis seperti ini ada dalam artikel Pak Eko Kuntadhi, mantap! Ini biasa disebut oleh Trump dengan istilah ‘hit back’ atau serang balik dengan alat dan metode yang sama.

Ciri khas dari metode ini ialah langsung dipahami oleh orang banyak dan langsung mantap bagi pembaca atau pendengar. Cara dan metode ini jugalah yang selalu dipakai oleh lawan-lawan Trump dibantu oleh medianya yang begitu besar dan berkuasa (mainstream media). Dalam hal media mainstream ini, Trump dkk masih tertinggal. Tetapi perkembangan yang terakhir dunia ialah adanya media sosial (media publik) yang pada pokoknya lebih besar dari media manapun yang pernah ada di dunia.

Dan, yang lebih mematikan lagi bagi lawan-lawan Trump ialah adanya keterbukaan dalam era keterbukaan sekarang. Era ini sendiri telah menjadi era kecelakaan bagi the establishment yang selama ini bisa hidup tenang dengan kekuasaannya yang semakin besar adalah karena adanya kegelapan dalam era kegelapan abad lalu. Operasi-operasinya di AS dan seluruh dunia dilindungi oleh kegelapan yang berlaku seperti kudeta dan penjarahan SDA negeri berkembang, termasuk kudeta dan penjarahan 1965.

Media the establishment yang besar dan berkuasa seluruh dunia, bisa mengatur dan menyebarluaskan apa yang mereka butuhkan dan perlu bagi mereka. Tetapi sudah lain halnya dengan media sosial internet abad ini. Publik berubah jadi ‘media’ dan media besar tak ada lawannya.

Kalau kita kaitkan dengan kasus Ahok yang didemo oleh orang-orang ngaku punya agama suci yang dipimpin oleh ‘imam besar’ cabul dan buron!








Leave a Reply