“Sejak dulu, leluhur bangsa ini terkenal dengan tepo selironya, terkenal dengan tata krama, sopan santun terhadap apa saja dan siapa saja,” tulis Ganggas Yusmoro di dalamnya kolomnya yang berjudul UNTUNG ADA N.U.

Kalimat ini tentu bisa dirasakan dan dipahami oleh setiap insan bangsa Indonesia, karena masih tersirat mendalam di sanubari insan bangsa ini. Tetapi, sering hanya tersirat saja, dalam praktek sudah banyak luntur. Dan, kita tentu bertanya: “Mengapa sekarang tidak begitu lagi atau sudah sering melupakan tata krama lama yang begitu indah?”




Paling gampang jawabannya ialah karena sekarang manusia mengutamakan kepentingan dirinya atau individualisme katanya. Tetapi, dari mana ajaran individualisme itu? Bisakah diselidiki asal usulnya? Wow . . .  jadi panjang ceritanya kalaupun mungkin ditelusuri he he . . ..

Tidak begitu gampang dan tidak singkat untuk bisa ditelusuri. Dilihat dari sejarah, proses yang semua di luar kesedaran manusia, perubahan dunia dan kesadaran, karena perubahan cara produksi (ekonomi).

Perbudakan yang kejam diganti feodalisme yang kejam, digantikan oleh kapitalisme yang . . .  bikin pembaruan luar biasa bagi kemanusiaan . . .  diganti oleh kapitalisme neoliberal yang . . .  ideologi dasarnya ialah individualisme dan kebebasan pribadi . . .  yang telah menciptakan kekayaan luar biasa, tetapi kekayaan dunia itu berada hanya di tangan segelintir orang . . . dan yang memakai divide and conquer dan 3 senjata utama (terorisme, narkoba, korupsi) mempertahankan dan meluaskan kekuasaannya di seluruh dunia.

Divide and conquer ini bisa dengan demo besar-besaran + nasi bungkus kalau di negeri miskin.

Kalau di negeri kaya orang tidak mau disogok nasi bungkus, harus dengan teror atau narkoba atau korupsi (bribe). Neolib memakai narkoba sebagai kuda Troyannya, terorisme untuk memecah belah dan menakut-nakuti, dan duit (korupsi) dengan jumlah besar bisa bikin apa saja. Artinya, apa saja! Dan, neolib banyak duitnya, dan di AS sudah memiliki pemerintahan AS sejak era Andrew Jackson 1829, menguasai dunia finans dan ekonomi negara.

Jadi, ideologi individualisme itulah yang merusak tata krama leluhur bangsa Indonesia.

Mungkinkah kita bisa mendapatkan kembali tata krama indah itu? Atau tata krama itu akan hilang untuk selama-lamanya?




Untuk dapat jawaban yang lumayan terpaksa kita tinjau dari segi dialektika perubahan hal-ihwal dari segi hukum-hukum kontradiksi. Artinya, dari segi tesis-antitesis-syntesis Hegel. Saya ambil contoh yang besar dan berjangka panjang dalam sejarah perkembangan bangsa-bangsa di dunia sejak Revolusi Perancis sampai ke perkembangan neoliberalisme pada Pertengahan Abad 20.

Prosesnya ialah: nasionalisme-internasionalisme/ sosialisme-nasionalisme, terjadi sampai kira-kira pertengahan abad lalu. Selanjutnya nasionalisme-internasionalisme/ neoliberal-nasionalisme/ kultural masih dalam proses sampai sekarang. Di AS proses kontradiksi ini sudah mencapai puncaknya ketika Trump melangkah ke Gedung Putih.

Semaraknya gerakan atau pemikiran nasionalisme/ kultural ini di seluruh dunia belum pernah ada taranya sebelumnya, termasuk di Eropah Barat. Ini menunjukkan perubahan imbangan kekuatan dalam kontradiksi itu. Sudah bisa dipastikan sejarah akan menuju ke arah mana. Periode neoliberalisme akan tersisih walaupun masih menunggu waktu lama karena masih kuat dan kekuasaannya sudah sempat begitu besar terutama di AS sebagai negara adidaya dunia. Neoliberalisme sudah berkuasa sejak era Andrew Jackson, hampir 200 tahun lalu, dan punya kekuasaan finans yang tidak ada bandingannya.

Itulah jawaban yang pasti bahwa tata krama leluhur kita itu pasti akan semarak kembali sejalan dengan semaraknya gerakan nasionalisme/ kultural seluruh dunia yang sekaligus berarti kekalahan neolib dengan ideologinya yang merusak kemanusiaan itu.

Catatan redaksi: Video lagu Tudung Periuk di bawah ini (dinyanyikan oleh Krisdianti dan Nada Darr) dipersembahkan kepada para pembaca yang masih menyimpan NKRI di hatinya secara nasional kultural. Hati akan bergetar dan tubuh terguncang mendengar.







Leave a Reply