Saya berasal dari sebuah desa terpencil bernama desa Hilimbowo. Hilimbowo (bahasa Nias) yang artinya ‘desa gunung jujuran’, terletak di pelosok pedalaman Pulau Nias, Sumatera Utara. Jika dilihat dari peta dunia, maka Pulau Nias termasuk pulau paling luar. Posisinya berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Jika letak Pulau Nias terasing dari Pulau besar Sumatera, maka terlebih lagi desa-desa di dalamnya. Terasing dan terpencil, dua kata paling pas untuk melukiskan desa-desa di pedalaman Pulau Nias. Saking terpencilnya, maka beberapa orang tua sampai wafatnya tidak pernah melihat laut secara langsung. Mengapa?




Sarana transportasi menuju kota Gunungsitoli yang berada di pinggir laut, ibu kota utama Pulau Nias, atau melihat pinggir pantai, sangat sulit. Butuh jalan kaki berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk melihat laut. Perjalanan melihat laut dihadang oleh sungai besar dan sungai kecil yang setiap saat meluap. Butuh perjuangan menggotong badan naik-turun bukit curam dengan jalan kaki baru sampai di ujung aspal. Dari ujung aspal, perjalanan baru disambung dengan ojek atau kendaran roda empat.

Selama 72 tahun, desa kami dengan penduduk 879 orang (data statistik kabupaten Nias Barat 2015), telah menanti jalan beraspal. Jauh sebelum merdeka di tahun 1945, jalan di desa ini sudah dibangun oleh Belanda dengan memasang jalan berbatu yang kokoh. Setiap kali kami jalan kaki di atas batu-batu itu, maka pihak yang kami ingat adalah sosok bule Belanda, yang pernah juga menjadikan desa kami sebagai desa inlander (jajahan).

Bertahun-tahun penduduk desa mengimpikan jalan mulus seperti di Jawa dan Sumatera. Namun mimpi itu tinggallah mimpi. Saking lamanya bermimpi, akhirnya mimpi kami mati dengan sendirinya dan terkubur dalam-dalam di perut bumi. Saya sendiri sudah hampir 25 tahun meninggalkan desa ini. Namun karena kecanggihan teknologi, setiap saat saya bisa mengetahui perkembangan pembangunan di desa itu.

Sejak merdeka, para pemimpin beserta segenap penduduk desa sudah lelah dan putus asa mengajukan proposal, meminta dan mengemis kepada pemerintah era Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY tentang pembangunan jalan itu. Namun semuanya tak ada respon yang menggembirakan. Kami hanya mendengar jawaban klasik secara sayup-sayup dari pemerintah daerah dan pusat bahwa pemerintah tidak mempunyai anggaran.

Justru Belandalah  yang membuka jalan dan mematri namanya di ingatan penduduk desa. Kadangkala ada perbincangan di antara orang tua penduduk desa. Ada kemungkinan jika Belanda tetap di bumi Indonesia, maka jalan di desa kami sudah diaspal. Jadi tidak perlu menunggu sampai 72 tahun lamanya. Namun tentu saja itu hanyalah sebuah lelucon, penghibur diri. Jelas kami amat merindukan sebuah infrastruktur jalan dari pemerintah.

Di awal tahun 2017 ini, mimpi lama kami yang telah terkubur bahwa jalan di desa kami mungkin tidak pernah diaspal, akhirnya tiba-tiba terkuak bangkit. Dana desa  yang hampir menyentuh angka satu miliar Rupiah per desa yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi pada tahun 2016-2017, membuat desa kami bersama dengan desa-desa sekitarnya seperti Lahagu, Sihareo, Hilimayo, Hayo, Lolomboli, menggeliat.

Dana desa itu langsung digunakan untuk mengaspal jalan secara serentak di setiap desa. Dengan dana itu, masyarakat ikut mendapat pekerjaan, ikut proyek jalan, sekaligus membangun desanya. Luar biasa. Secara bertahap, akhirnya jalan beraspal dapat dibangun di desa kami.

Dana PNPM Mandiri sebelumnya yang sudah bertahun-tahun dicanangkan sejak era pemerintahan SBY, tidak mampu membawa ujung aspal di desa kami. Dana PNPM Mandiri hanya mampu memperbaiki jalan, menambah batu dengan sedikit taburan pasir kasar di atasnya. Akan tetapi dengan dana desa dari pemerintahan Jokowi, untuk anggaran tahun 2016 yang hampir satu miliar itu, membuat desa kami bisa diaspal.

Ujung aspal untuk pertama kalinya tiba di desa kami setelah 72 tahun merdeka, yakni Februari 2017. Ini bagi kami sesuatu yang spektakular, sesuatu yang mencengangkan. Bayangkan anda memimpikan jalan beraspal selama 72 tahun. Namun tiba-tiba jalan beraspal itu dibangun di depan rumah anda. Itu luar biasa. Dan itu terjadi di era pemerintahan Jokowi.

Ketika ujung aspal sampai di desa kami, segenap penduduk desa melonjak kegirangan, bersukaria dan menari. Ada raut-raut kegembiraan di setiap wajah penduduk. Baum aspal untuk pertama kalinya kami nikmati. Tak henti-hentinya penduduk desa memandangi jalan beraspal itu. Di bawah sinar rembulan, kami menikmati jalan bersama tanpa takut tersandung batu. Kini pasca diaspal, kendaraan roda dua dan empat sudah mulai hilir-mudik di atas jalan aspal di desa kami. Suasana kegembiraan melanda desa kami hingga kini.

Walaupun jalan aspal di desa ini,  baru ujungnya saja yang sudah dibangun, namun kami yakin bahwa pada akhir tahun 2017 ini, ujung aspal ini akan bersambung lagi.  Karena masih ada kucuran dana desa dengan angka satu miliar dari pemerintah pusat untuk anggaran tahun 2017. Kami yakin bahwa sebelum tahun 2019, semua jalan di desa kami sudah diaspal seluruhnya. Dengan demikian mimpi kami yang telah dikubur sebelumnya, bisa bangkit kembali. Itu adalah keajaiban pemerintahan Jokowi.

Jelas di tahun 2017 ini, kami baru benar-benar menikmati kue pembangunan. Kue pembangunan yang sudah dinikmati oleh penduduk di  Pulau Jawa puluhan tahun sebelumnya, baru kecipratan di desa kami pada awal tahun 2017 ini. Itu bukti nyata bahwa begitu timpangnya pembangunan Indonesia di masa lalu. Baru di masa pemerintahan Jokowi, kue pembangunan itu merata di seluruh wilayah Indonesia hingga sampai di desa kami.




Ketika di pagi, siang, sore dan malam hari, kami melalui jalan beraspal itu, kami kerap teringat kepada Presiden Jokowi. Di eranyalah mimpi kami terwujud. Dengan program dana desa yang sama sekali tidak bisa lagi dikorupsi dan langsung tepat sasaran, jalan di desa kami akhirnya bisa diaspal. Luar biasa. Program pembangunan infrastruktur Jokowi yang masif itu, akhirnya kami cicipi juga dengan lezat.

Kini, desa kami mulai menggeliat. Alur keluar masuk barang dan hasil-hasil produksi pedesaan kini dengan gampang kami menjualnya ke kota Gunungsitoli. Ada spirit baru dari setiap penduduk untuk meraih kehidupan ekonomi yang lebih baik. Ada secercah harapan yang bersinar di setiap sudut wajah penduduk desa sekarang.

Maka tak berlebihan jika kami mengatakan bahwa: Spektakuler! Setelah 72 tahun, Jokowi Hadirkan Ujung Aspal di Desa Terpencil di Samudera Hindia. Desa itu adalah desa kami bernama Hilimbowo, yang berarti desa gunung jujuran. Desa itu sekarang telah dipoles oleh orang jujur di negeri ini, yakni Pak Jokowi. Terima kasih Pak Jokowi atas pencapaian spektakulernya.







Leave a Reply